Tren “Hahu Hoheng” Dalam Pandangan Islam

PWNUBALI.OR.ID

Belakangan ini, beranda media sosial dipenuhi dengan FYP tren “hahu hoheng”. Tren ini menjadi viral karena dianggap lucu tapi juga menantang oleh para pengguna media sosial. Viralnya tren ini banyak dibuat dalam konten short video (video pendek) terutama di aplikasi Tiktok. Awal mulanya para tiktokers tersebut menggoreng tahu dalam minyak panas dan setelah itu langsung dimakan dalam keadaan masih panas dengan tambahan bubuk cabai yang super pedas. Oleh karenanya istilah ‘’Hahu Hoheng” merupakan plesetan dari kata “Tahu Goreng” yang diucapkan saat memakan dalam kondisi panas.

Meskipun tren ini mulai disukai dan dicoba oleh para netizen, tidak sedikit pula orang yang mengomentari bahwa tren tersebut tak baik dicoba karena dikhawatirkan akan menimbulkan bahaya kesehatan. Di samping itu, tren ini juga bertentangan dengan adab-adab saat makan yang dicontohkan dan diajarkan dalam agama Islam. Lantas bagaimana Islam memandang tren “Hahu Hoheng” ini?

Adab dan tatacara makan dalam Islam sudah dicontohkan oleh Rasulullah Saw. dalam sebuah hadis dari Abu Hurairah mengatakan,

عن أبي هريرة أنه كان يقول لا يؤكل طعام حتى يذهب بخاره

“Tidak boleh menyantap makanan kecuali jika asap pada makanan tersebut sudah hilang panasnya” (HR. Imam Baihaqi). Dalam keterangan lain Imam Ibnu Qoyyim mengatakan, “Nabi Saw. tid ak pernah menyantap makanan dalam keadaan masih panas”. Dalam pemaparan hadis di atas tentu memakan tahu dalam keadaan panas tidak diperbolehkan.

Perihal alasan dilarangnya mengonsumsi makanan panas, kita mengacu kepada dalil mendasar dari penjelasan QS. Al-Baqarah ayat 168,  kita diperintahkan untuk memakan makanan yang halalan thoyyiban,

مُسْتَطَابًا فِي نَفْسِهِ غَيْرَ ضَارٍّ لِلْأَبْدَانِ وَلَا لِلْعُقُولِ

yakni makanan yang halal dari segi dzat dan tidak membahayakan tubuh dan pikiran sebagaimana keterangan dalam tafsir Ibnu Katsir. Mengacu kepada penjelasan tafsir halalan thoyyiban di atas, tahu yang masih panas tersebut memang secara dzat halal, tetapi secara kelayakan tentu sangat tidak baik bagi kesehatan.

Ada beberapa dampak negatif yang ditimbulkan ketika kita mengonsumsi makanan yang masih panas, mengutip dari alodokter.com bahwa mengonsumsi makanan yang masih panas akan menyebabkan lidah terbakar, dan akan menimbulkan iritasi lapisan kerongkongan. Jika hal ini terjadi maka hal tersebut akan meningkatkan risiko seseorang terkena kanker esofagus/kanker kerongkongan.

Oleh karena itu, sebagai seorang muslim kita wajib mencontoh adab dan tatacara makan yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. sebab, segala sesuatu yang kita tiru dari Rasul akan mendatangkan keberkahan bagi kita.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.