Inilah Teladan Sikap Rasulullah Ketika Disakiti

PWNUBALI.OR.ID | KUTA

Sebagai umat Nabi Muhammad, kita mesti banyak meneladani akhlaqnya. Karena beliau adalah manusia termulia. Salah satunya, sikap nabi ketika disakiti oleh orang-orang yang tak seiman.

Bacaan Lainnya

Seperti yang dikisahkan Ust. Asmuni Hasan saat memberi tausyiah di acara peringatan maulid nabi di Kuta, Tuban oleh Majelis Shalawat dan Ratibul Haddad, Sabtu, (15/12).

Kisah ini bermula ketika Nabi Muhammad SAW dan shabat Zaid Haristah melaksanakan perintah Allah untuk menyebarkan Agama Islam ke Thaib yang ketika itu penduduknya masih belum beriman. Nabi Muhammad memilih Thaib karena kota terdekat dari Makkah.

Singkat cerita, sesampainya di gerbang Thaib apa yang terjadi? Nabi Muhammad tidak disambut suka cita, tidak disambut riang gembira, tidak disambut dengan makanan. Tetapi, beliau disambut ribuan batu yang dilempar oleh penduduk Thaib atas perintah kepala sukunya. Maka ketika Nabi Muhammad masuk ke gerbang Thaib, beliau langsung disambut lemparan batu.

Melihat kejadian tersebut, Malaikat Jibril atas perintah Allah menawarkan agar bisa menumpahkan dua gunung besar ke penduduk Thaib. Namun dilarang oleh Nabi Muhammad. “Jangan malaikat, jangan!” kata Rasulullah kala itu. Karena pandangan Nabi bukan kepada yang melempar batu saat itu, tapi pandangan Nabi jauh kedepan, yakni berharap mereka (Thaib) melahirkan keturunan anak-anak saleh.

Gambaran dalamnya luka yang dialami Nabi Muhammad dan Zaid, yakni dari banyaknya darah yang mengalir dari luka Zaid. Bahkan orang yang melihatnya pada waktu itu tidak akan mengenalinya. Dari saking berlumuran darah. Itu karena, Zaid rela menjadi penyanggah atau menangkis lemparan batu dari orang-orang Thaib ke Nabi Muhammad.

Beliau (Zaid) berfikir, kalau dirinya mati yang bersedih hanya istri dan anaknya, tapi kalau nabi wafat, muslimin seluruh dunia akan berduka. Zaid rela mengorbankan jiwa dan raganya untuk membentengi Nabi Muhammad.

Apa balasan Allah kepada orang yang membantu menyiarkan dakwah nabi seperti sahabat Zaid? Ketika Nabi wafat, bertemu bidadari di surga. Dan bertemu beberapa bidadari yang sedang menunggu kedatangan para pejuang Islam, yakni Zaid Haritsah.

Begitu pula umat Nabi Muhammad, mengorbankan harta jiwa untuk Nabi Muhammad, pasti akan dibalas oleh Allah SWT. Karena Allah sudah berjanji, orang yang beriman, jiwanya dan raganya, sudah dibeli dengan surga-Nya.

Walaupun Nabi tersakiti, banyak darah yang mengalir, tapi nabi tidak membalas dengan makian dan lemparan batu pula seperti yang orang-orang Thaib lakukan. Nabi juga tidak melaknat mereka. Sabdanya : “Aku diutus bukan untuk mengutuk manusia, bukan untuk memaki manusia, membenci manusia, tapi aku di utus untuk menebarkan kasih sayang atas alam semesta”. Bahkan, nabi memohonkan ampunan mereka kepada Allah. Karena baginya, tindakan kejam mereka atas dasar ketidak tahuan tentang kemulian agama yang Nabi Muhammad bawa.

Kalau Nabi Muhammad mau ketika itu, nabi tinggal mengangkat tangannya, seraya berdoa “ya Allah mana bantuanmu, pertolonganmu, nabimu dilempar batu bagaikan orang gila ya Allah, mana bantuanmu”. Allah akan membantu Nabi Muhammad. Namun Nabi tidak seperti itu, Nabi justru membalas dengan rahmat dan kasih sayangnya.

“Jika kita ngaku umat Nabi, mari kita tebarkam kasih sayang, kemana dan dimanapun kita berada,” pesan Ustadz Asmuni.

Penulis: Sabri Yanto
Editor: Dadie W. Prasetyoadi

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.