Hukum Perempuan Menunda Qadha Puasa

pwnubali.or.id – Kaum perempuan pada umumnya memiliki fase tidak bisa menunaikan ibadah puasa Ramadhan selama 30 hari penuh yang disebabkan oleh faktor biologisnya seperti mengalami haid dan nifas. Dalam kondisi tersebut perempuan harus mengganti puasanya di lain bulan.

 

Akan tetapi ditemukan beberapa kasus jika ada beberapa perempuan yang menunda mengqadha atau mengganti puasa hingga Ramadhan di tahun selanjutnya. Lantas, bagaimana hukumnya jika mengulur waktu mengqadha puasa hingga bertemu dengan Ramadhan di tahun selanjutnya?

 

Ada beberapa alasan orang menunda mengqhada puasa Ramadhan. Jika menundanya tanpa memiliki alasan dengan artian dalam waktu 11 bulan sebenarnya sanggup untuk qadha tetapi tidak mengqadha, maka kondisi tersebut tetap harus menjalankan qadha puasa beserta membayar fidyah dengan hitungan 1 mud untuk 1 hari yang dihitung terus jika terulang Ramadhan tahun selanjutnya. Jika memiliki udzur atau halangan seperti sakit, safar, menyusui, atau lupa  maka cukup qadha tanpa bayar fidyah.

 

Akan tetapi, jika puasa yang tidak sempat diqodho’ sampai pada bulan ramadhan berikutnya, maka hukumnya ditafsil sebagaimana berikut:

  • Apabila tanpa ada udzur dalam mengakhirkan qodha’, maka harus diganti dengan dua hal, yaitu menggodha’nya dengan puasa dan membayar fidyah. Hal itu akibat penundaan pembayaran hutang puasa hingga masuk bulan puasa di tahun berikutnya. Pembayaran fidyah dilakukan dengan memberi makan kepada fakir miskin sebesar satu mud untuk setiap puasa yang terlewatkan dalam setiap tahunnya.
  • Apabila ada udzur dalam mengakhirkannya, seperti sakit dll, maka cukup dengan mengqodha’ puasanya saja tanpa harus membayar fidyah.

 

Dengan demikian menjelaskan jika setiap satu hari dari puasa yang diakhirkan wajib dibayar 1 mud dalam setiap tahunnya. Misalnya mengakhirkan qodha’ puasa sampai tiga tahun, maka harus membayar 3 mud setiap satu hari dari puasa yang diakhirkan, begitu seterusnya.

 

Referensi dari penejelasan di atas berasal dari:

 

‎حاشية الشرقاوي (ج 1/ص 442)

‎وموجب للفدية والقضاء وهو إثنان إلى أن قال…. وتأخير قضاء شيئ من رمضان مع إمكانه حتى يأتي رمضان آخر لما مر في باب الفدية

 

‎إعانة الطالبين (ج 2/ص24)

‎ﻭﻳﺠﺐ ﻋﻠﻰ ﻣﺆﺧﺮ ﻗﻀﺎﺀ ﻟﺸﻴﺊ ﻣﻦ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﺣﺘﻰ ﺩﺧﻞ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﺁﺧﺮ ﺑﻼ ﻋﺬﺭ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﺄﺧﻴﺮ ﺑﺄﻥ ﺧﻼ ﻋﻦ ﺍﻟﺴﻔﺮ ﻭﺍﻟﻤﺮﺽ ﻗﺪﺭ ﻣﺎ ﻋﻠﻴﻪ ﻣﺪ ﻟﻜﻞ ﺳﻨﺔ ﻓﻴﺘﻜﺮﺭ ﺑﺘﻜﺮﺭ ﺍﻟﺴﻨﻴﻦ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﻌﺘﻤﺪ ﻭﺧﺮﺝ ﺑﻘﻮﻟﻲ ﺑﻼ ﻋﺬﺭ ﻣﺎ ﺍﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﺘﺄﺧﻴﺮ ﺑﻌﺬﺭ ﻛﺄﻥ ﺍﺳﺘﻤﺮ ﺳﻔﺮﻩ ﺃﻭ ﻣﺮﺿﻪ ﺃﻭ ﺍﺭﺿﺎﻋﻬﺎ ﺍﻟﻰ ﻗﺎﺑﻞ ﻓﻼ ﺷﻴﺊ ﻋﻠﻴﻪ ﻣﺎ ﺑﻘﻲ ﺍﻟﻌﺬﺭ ﻭﺍﻥ ﺍﺳﺘﻤﺮ ﺳﻨﻴﻦ، ﻗﻮﻟﻪ ﻟﻜﻞ ﺳﻨﺔ ﺃﻯ ﻳﺠﺐ ﻣﺪ ﻟﺼﻮﻡ ﻛﻞ ﻳﻮﻡ ﻣﻦ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﻛﻞ ﺳﻨﺔ ﻭﻗﻮﻟﻪ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﻌﺘﻤﺪ ﻣﻘﺎﺑﻠﻪ ﻻ ﻳﺘﻜﺮﺭ ﻛﺎﻟﺤﺪ ﻓﻴﻜﻔﻲ ﺍﻟﻤﺪ ﻋﻦ ﻛﻞ ﺍﻟﺴﻨﻴﻦ.

 

‎متن سفينة النجا بهامش كاشفة السجا (ص 121) الهداية

‎(فصل) ﺍﻹﻓﻄﺎﺭ ﻓﻲ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﺃﺭﺑﻌﺔ ﺍﻧﻮﺍﻉ: ﻭﺍﺟﺐ ﻛﻤﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﺤﺎﺋﺾ ﻭﺍﻟﻨﻔﺴﺎﺀ، ﻭﺟﺎﺋﺰ ﻛﻤﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺴﺎﻓﺮ ﻭﺍﻟﻤﺮﻳﺾ ﻭﻻﻭﻻﻛﻤﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺠﻨﻮﻥ، ﻭﻣﺤﺮﻡ ﻛﻤﻦ ﺃﺧﺮ ﻗﻀﺎﺀ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﺗﻤﻜﻨﻪ ﺣﺘﻰ ﺿﺎﻕ ﺍﻟﻮﻗﺖ ﻋﻨﻪ . ﻭﺃﻗﺴﺎﻡ ﺍﻹﻓﻄﺎﺭ ﺃﺭﺑﻌﺔ : ﺃﻳﻀﺎ ﻣﺎ ﻳﻠﺰﻡ ﻓﻴﺔ ﺍﻟﻘﻀﺎﺀ ﻭﺍﻟﻔﺪﻳﺔ ﻭﻫﻮ ﺍﺛﻨﺎﻥ:ﺍﻷﻭﻝ ﺍﻹﻓﻄﺎﺭ ﻟﺨﻮﻑ ﻋﻠﻰ ﻏﻴﺮﺓ ، ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﺍﻹﻓﻄﺎﺭ ﻣﻊ ﺗﺄﺧﻴﺮ ﻗﻀﺎﺀ ﻣﻊ ﺇﻣﻜﺎﻧﻪ ﺣﺘﻰ ﻳﺄﺗﻲ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﺁﺧﺮ ، ﻭﺛﺎﻧﻴﻬﺎ ﻣﺎﻳﻠﺰﻡ ﻓﻴﺔ ﺍﻟﻘﻀﺎﺀ ﺩﻭﻥ ﺍﻟﻔﺪﻳﺔ ﻭﻫﻮ ﻳﻜﺜﺮ ﻛﻤﻐﻤﻰ ﻋﻠﻴﺔ ، ﻭﺛﺎﻟﺜﻬﻤﺎ ﻣﺎ ﻳﻠﺰﻡ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﻔﺪﻳﺔ ﺩﻭﻥ ﺍﻟﻘﻀﺎﺀ ﻭﻫﻮﺷﻴﺦ ﻛﺒﻴﺮ ، ﻭﺭﺍﺑﻌﻬﺎ ﻻ ﻭﻻ ﻭﻫﻮ ﺍﻟﻤﺠﻨﻮﻥ ﺍﻟﺬﻱ ﻟﻢ ﻳﺘﻌﺪ ﺑﺠﻨﻮﻧﻪ

 

Penyaji : Al faqirah Nur eka fatimatuzzahroh

Ilustrasi gambar : Republika.co.id

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

1 Komentar