Vaksin Booster Tidak Membatalkan Puasa, Begini Penjelasanya

Dok. Vaksin Booster PWNU Bali 15 April 2022

PWNUBALI.OR.ID | Denpasar – Usai ditetapkan vaksin booster menjadi salah satu syarat Mudik keluar daerah, masyarakat mulai berbondong-bondong mencari tempat yang menyediakan vaksin booster. Lantas bagaimana hukum vaksin booster, apakah membatalkan puasa?

Beberapa waktu lalu ada salah satu penanya budiman yang minta penjelasan kepada LTNNU Bali. Berikut dialog penanya dan penjelasan dari Rois Syuriah PCNU Kota Denpasar, KH. Mustafa Al-AMin, M.H.I, M.Pd.I

Penanya

Assalamu’alaikum Kyai. Mohon maaf ijin Ini yang tanya bagaimana hukum vaksin booster di bulan puasa. Mengingat booster itu tidak wajib dan kebanyakan vaksin karena kepentingan mudik saja.

KH. Mutafa Al-Amin, M.H.I, M.Pd.I

Waalaikumussalam wr. wb.

Merujuk Fatwa MUI Nomor 13 Tahun 2021 terkait Hukum Vaksinasi Covid-19 saat bulan puasa yakni bahwa vaksinasi Covid-19 yang dilakukan dengan cara disuntikkan melalui otot, atau dikenal dengan istirlah injeksi intramuskular ini, tidaklah membatalkan puasa. Ini artinya vaksinasi Booster pun bagi orang yang sedang berpuasa hukumnya boleh dan tidak membatalkan puasa.

Lembaga Bahsul Masail (LBM) PB NU juga berpendapat sama yakni vaksinasi covid-19 dengan cara disuntikkan (bukan diteteskan melalui rongga mulut, hidung, telinga, vagina atau alat kelamin atau dubur) di lengan tangan kiri (umumnya) tidak membatalkan puasa karena dianggap serupa dengan serapan air ke pori-pori kulit saat mandi, saat diolesi minyak angin dan kayu putih, atau saat sanitasi tangan (hand sanitizer).

LBM PBNU mengutip antara lain Kitab Minhajul Qawim hal. 246 sebagai berikut:

وإنما يفطر بإدخال ما ذكر إلى الجوف (بشرط دخوله) إليه (من منفذ مفتوح) كما تقرر (و) من ثم (لا يضر تشرب المسام) بتثليث الميم وهي ثقب البدن (بالدهن والكحل والإغتسال) فلا يفطر بذلك وإن وصل جوفه لأنه لما لم يصل من منفذ مفتوح كان في حيز العفو ولا كراهة في ذلك لكنه خلاف الأولى

Artinya, “Puasa menjadi batal karena memasukkan sesuatu yang telah tersebut ke dalam rongga dalam tubuh dengan syarat masuk ke dalamnya melalui rongga luar terbuka (manfadz maftuh) sebagaimana telah ditetapkan (para ulama mazhab). Dari penjelasan tersebut (dapat dipahami) tidak masalah serapan pori-pori atau lubang luar tubuh atas minyak, celak, dan sisa air basuhan. Dengan demikian puasa tidak batal karenanya sekalipun serapan itu sampai ke rongga dalam tubuh karena tidak melalui rongga luar terbuka. Ini termasuk domain ma’fu. Tidak ada kemakruhan perihal ini tetapi hanya khilaful aula, (Ibnu Hajar Al-Haitami, Minhajul Qawim, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah).

Wallahu a’lam

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.