Sudah Menjalankan Shalawat, Tapi Rezeki Tetap Sulit? Ini Jawaban KH. Ma’i Sufyan

PWNUBALI.OR.ID | BADUNG

Kiai Al Ma’i Sufyan menjawab pertanyaan diatas. Menurutnya, banyak masyarakat yang terlalu sempit memaknai rezeki yang hanya terbatas pada soal ekonomi. Padahal, makna rezeki sangat luas, yakni sesuatu yang bermanfaat.

Bacaan Lainnya

“Teman ataupun alat bisa bermanfaat. Dan orang yang ahli shalawat diberi ketenangan,” dawuhnya saat memberi tausiah di acara maulid nabi dan santunan anak yatim, Jl. Merdeka Raya, No.9, Kuta, Badung, Minggu malam, (22/12).

Lebih lanjut beliau menggambarkan, walaupun penghasilan uang besar, tapi hidup tidak tenang. Seperti punya penghasilan 10 Juta setiap hari, tapi istri tergoda dengan laki-laki lain. Bahkan, penghasilan sehari 11 Juta, tapi anaknya tukang mencuri ayam tetangga.

Kiai Ma’i berkeyakinan, orang yang ahli shalawat bukan diukur dari penghasilan keuangannya, tapi diberi ketenangan dalam hidupnya.

Penulis: Padhorrasit
Foto: LTN PCNU Badung
Editor: Dadie W. Prasetyoadi

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.