Tatakrama Bertadarrus yang Ramah

0
227

Sebagaimana yang diketahui bersama, tadarrus merupakan aktifitas umat Islam yang dilakukan di masjid, musolla atau tempat-tempat lainnya. Mereka berkumpul dan membaca Alquran saling bergantian secara bergilir. Dari maqra’ ke maqra’ mereka baca hingga khatam pada waktu yang telah disepakati. Imam Nawawi menjelaskan tentang tadarrus sebgaimana berikut:
فصل فى الإدارة بالقران وهو أن يجتمع جماعة يقرأ بعضهم عشرا، أوجزأ اوغير ذلك، ثم يسكت ويقرأ الاخر من حيث انتهى الأول، ثم يقرأ الاخر، وهذا جائز حسن، وقد سئل مالك -رحمه الله تعالى- عنه، فقال: لا بأس به
”[Pasal : membaca al-Qur’an sambung-menyambung secara bergantian]. Yaitu sejumlah orang berkumpul, sebagian dari mereka membaca sepuluh ayat atau sebagian atau selain itu, kemudian diam (menyimak) dan yang lain meneruskan pembacaan, kemudian yang lain membaca. Ini adalah boleh dan baik. Imam Malik telah ditanya dan beliau menjawab: ”Tidak ada masalah dengan hal seperti ini”

Di bulan Ramadhan, dari sekian tradisi yang paling mencolok dan pasti ada di setiap daerah umat Islam adalah tadarrus. Ketika bulan Ramadhan menjelang, umat Islam sudah dipastikan menyambutnya dengan meriah dan gembira. Itu terbukti, hari-hari menjelang Ramadhan suasananya berbeda dengan hari-hari biasanya. Terlebih lagi, ketika memasuki hari-hari ramadhan, umat Islam menunjukkannya dengan melakukan tradisi-tradisi yang menjadi ciri khas hadirnya Ramadhan.

Nah, tadarrus adalah salah satu tradisi khas yang menunjukkan kehadiran Ramadhan. Semua orang sangat merasakan perbedaan hari-hari biasa dengan hari-hari Ramadhan dengan adanya tadarrus yang dilakukan di masjid, musolla atau tempat-tempat lain. Ketika ayat-ayat Alquran menggema dari corong-corong masjid dan musola, saat itulah suasana Ramadhan benar-benar terasa di jiwa.

Di waktu matahari menyengatkan panasnya di siang hari, ayat-ayat Alquran yang terlantunkan melalui corong-corong itu menjadi penyejuk bagi jiwa-jiwa yang meresapinya. Saat malam diselemuti kesunyian, para hamba pecinta Alquran menyingkap kesunyian itu dengan lantunan ayat-ayat-Nya. Bahkan, suara-suara sumbang binatang malam teganti oleh dahsyatnya lantunan ayat Alquran. Itu semua, hanya karena kehadiran Ramadhan.

Namun, meski ayat Alquran menjadi penyejuk bagi jiwa, meski ayat Alquran melenyapkan kesunyian, dan mampu mengalahkan suara-suara binatang malam, belum tentu bacaan Alquran yang terlantunkan menjadi suara yang menyejukkan semua jiwa manusia. Bahkan malah menjadi suara bising yang sangat mengganggu. Artinya, tidak jarang ada komentar orang-orang yang merasa terganggu dengan bacaan Alquran yang bersumber dari pengeras suara atau yang disebut dengan corong atau speaker.

Dengan demikian, dalam melakukan tadarrus di bulan Ramadhan, butuh tatatkrama agar tujuan dibacanya Alquran tidak beralih menjadi mengganggu orang lain atau malah menjadi dosa. Ada beberapa hal berikut yang harus diperhatikan:

1. Mengadakan kesepakatan dalam bertadarrus
Tidak sedikit orang menjadi kesal dan marah ketika bertadarrus. Kesal dan marah bisa dimungkinkan karena bacaan orang tersebut tidak enak didengar atau terlalu banyak mengambil batas baca (maqra’). Dengan demikian, sebelum memulai tadarrus di malam pertama Ramadhan, penting melakukan musyawarah untuk menyepakati aturan bertadadarus. Pertama yang harus ditentukan adalah siapa saja menjadi peserta tadarrus. Hal ini ditentukan dengan kriteria orang yang bacaan Alquran-nya sudah tepat menurut ilmu tajwid. Kemudian batas bacaan masing-masing yang mendapat giliran membaca. Apakah satu, dua atau tiga maqra’ maksimal. Kesepakatan ini sangat penting diadakan, demi menghindar dari timbulnya kekesalan atau kemarahan karena orang yang membaca tidak fasih atau terlalu banyak mengambil batas bacaan.

2. Menjaga kepentingan bersama ketika bertadarrus
Selain mengadakan kesepakatan dalam bertadarrus khusus yang melakukan tadarrus, penting juga mengadakan kesepatakatan dengan masyarakat umum. Kesepakatan ini untuk menjaga kepentingan bersama. Semisal melakukan kesepakatakan, apakah bertadarrus menggunakan pengeras suara atau tidak, dan jika menggunakan pengeras suara di waktu kapan saja dan jam berapa boleh menggunakan pengeras suara.

3. Menghargai aturan yang berlaku di daerah tempat tinggal
Untuk yang ketiga ini mungkin khusus bagi umat Islam yang hidup di daerah yang warga muslimnya minoritas. Jika di daerah tersebut umat Islam tidak diizinkan melakukan kegiatan yang memang bukan ibadah wajib seperti tadarrus, maka umat Islam yang ada di daerah jangan memaksa bertadarrus. Cukuplah baca Alquran di rumah masing-masing.

Demikianlah aturan tatakrama tadarrus agar pelaksanaan tadarrus Alquran ramah bagi yang melakukannya dan masyarakat sekitar dan semuanya mendapatkan pahala, dan tujuan utama dalam bertadarrus benar-benar diperoleh, yakni hidayah dan bertambahnya keimanan dan ketakwaan. Amin…

TINGGALKAN KOMENTAR

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.