PWNUBALI.OR.ID – Ustadz Taufiq Maulan S.Sy. M.H.I. yang biasa di sapa Gus Tama, beliau adalah putra dari H. Muhammad Amin Fathul Bari dan Hj. Anisa. Lahir di bumi Parit Gotong Royong, Sungai Enau, Kuala Mandor B, Kubu Raya Kalimantan Barat. Dikarenakan terjadi kesalahan pada penulisan ijazah beliau memiliki 2 tanggal lahir, yang asli yaitu pada tanggal 5 januari 1989 sedangkan yang tertulis di ijazah yaitu pada tanggal 5 februari 1991. Beliau memiliki kegemaran menulis disetiap saat, tak ayal sejumlah buku telah dia ciptakan dari tulisannya.
Perjalanan pendidikan penulis dimulai dari Madrasah Ibtidaiyah Nurul Islam Parit Gotong Royong, di kampung halaman. Tidak sampai selesai, berhenti di kelas VI pada catur wulan pertama. Kerena akan dibawa Abahnya melanjutkan Pendidikan di Madura. Di Madura tepatnya di Pondok Pesantren An-Naqsabandiyah Ombul Tabelangan Sampang Madura, yang diasuh oleh KH. Ismail Fathul Bari.
Tepat pada tanggal 10 Juli 2002, penulis melanjutkan perjalanan pendidikan di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo Jawa Timur. Awal masuk di kelas III Madrasah Diniyah, tidak merangkap pendidikan umum. Pada tahun 2003 penulis baru masuk di kelas VI SD Ibrahimy.
Pada tahun 2008 penulis lulus Ma’had Aly Marhalah Ula. Kemudian di tahun yang sama penulis melanjutkan ke Ma’had Aly Marhalah Tsaniyah. Dan, pada tahun 2011 penulis selesai pendidikan Ma’had Aly Marhalah Tsaniyah.
Pada tahun 2010, selain aktif di Ma’had Aly, penulis juga melanjutkan Kuliah di Kampus IAI Ibrahimy Sukorejo, pada Fakultas Syari’ah jurusan AS. Di tahun 2013 penulis telah bisa menyelesaikan kuliah dengan mendapat gelar S.Sy. Kemudian, alhamdulillah, dengan ma’unah Allah melalui Abuya Ahmad Azaim Ibrahimy, penulis melanjutkan pendidikan di Pasca Sarjana IAI Ibrahimy Sukorejo Situbondo. Di tahun 2015, penulis telah meraih gelar M.H.I.
Usai tamat pendidikan di Salafiyah Syafiiyah Sukorejo, beliau kemudian memantapkan langkahnya untuk berdakwah di Pulau Dewata. Beliau aktif sebagai Dosen di Sekolah Tinggi Agama Islam Denpasar serta Menjadi Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Denpasar Selatan. Tahun 2021, Beliau dinobatkan sebagai penyuluh teladan nasional atas dedikasinya berdakwah di sosial media.
Tentang tulis-menulis, penulis sempat aktif mengirim opini dan puisi di Buletin Salaf (PP. Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo Jatim). Opini yang sudah dimuat berjudul, “Santri Mengukir Impian di Balik Ijazah” dan “Pudarnya Pesona Musyawarah”. Puisi yang sudah dimuat berjudul, “Aku tak Betah lagi di Pesantren ini”, “Kerapuhanku”, “Hanya Impian, dan “Kitabku Berdimensi”. Bahkan cerpen penulis pernah dimuat di Koran harian Radar Banyuwangi, dengan judul “Cinta Itu Melupakan Masa Lalu”.
Pada tahun 2014 penulis meraih juara LKTIS (Lomba Karya Tulis Ilmiah Santri) Nasional yang diadakan oleh Depag RI. Sementara karya yang telah terbit adalah Bidadari di Istana Kardus, NasiHati Jilid I, NasiHati Jilid II, Ketika Cinta Berwujud Hidayah dan sebagainya. Total sudah sekitar 9 buku telah ia ciptakan.
Dengan karyanya tersebut, penulis sudah beberapa kali diundang untuk mengisi bedah buku dan juga seminar atau dialog tentang tulis menulis. Diantara bedah buku dan seminar dan dialog yang telah dilaksanakan:
1. Bedah buku bersama IKSASS pusat Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Sukorejo Situbondo Jawa Timur.
2. Bedah buku di Pondok Pesantren Raudhatul Ulum 1, Ganjar Gondanglegi Malang Jawa Timur.
3. Seminar Nasional yang dilaksanakan oleh ISKAB (Ikatan Santri Kalimantan Barat) Se-Jawa Timur dan Yogayakarta di Pondok Pesantren Khadijatul Kubro, Tuban Jawa Timur.
4. Dialog Tulis Menulis di Pondok Pesantren Raudhatul Ulum 2, Putukrejo Gondanglegi Malang Jawa Timur.
5. Bedah buku di Pondok Pesantren Mambaul Ulum, Bondowoso Jawa Timur.
6. Bedah buku di Pondok Pesantren Nurul Iman, Banyuwangi Jawa Timur.
7. Bedah buku di Pondok Pesantren Al-Jihad, Pontianak Kalimantan Barat.
8. Bedah buku di Ma’had Nurul Islam, Kubur Raya Kalimantan Barat.
9. Bedah buku di Pondok Pesantren Raudhatul Huffazh, Tabanan Bali.
Motivasi dari penulis dalam dunia penulisan yaitu “kita tidak bisa memaksakan kehendak seseorang untuk bisa menulis, karena dalam hal menulis ini harus ada bakat dan kemauan. Apabila ada bakat tetapi tidak ada kemauan maka belum tentu itu akan menjadi sebuah karya tulis tetapi apabila sudah ada kemauan yang kuat walaupun bakat nya sedikit maka akan tercipta suatu karya yang luar biasa. Maka dari itu segala sesuatu terutama dunia menulis akan menjadi lebih baik dan berkembang lagi karya-karya nya apabila ada kemauan dan kegigihan dari diri sendiri.” pungkas beliau.
sumber : FPM STAI Denpasar








