Roehana Koeddoes; Jurnalis Perempuan Pertama Indonesia Bergelar Pahlawan Nasinonal

Dok. gambar Rouhana Koeddoes diambil dari Merahputih

pwnubali.or.id – Selain mengenal Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo (Blora, 1880-1918) sebagai bapak pers Indonesia yang juga mempelopori dan mendirikan surat kabar pertama yang dimiliki dan dikelola oleh pribumi, yaitu Medan Prijaji (Bandung, 1907-1912), di Indonesia juga ada Jurnalis Perempuan pertama yang mendapat anugerah sebagai Pahlawan Bangsa dengan perjuangannya berlatar belakang jurnalistik bernama Roehana Koeddoes.

Dilansir dari google, Roehana Koeddoes lahir dengan nama Siti Ruhana pada tanggal 20 Desember 1884 di desa Koto Gadang desa (nagari), Kabupaten Agam, di pedalaman Sumatera Barat, Hindia Belanda. Setelah kematian ibunya pada tahun 1897, Roehan menghabiskan masa kecilnya dengan belajar bersama ayahnya. Ayahnya merupakan seorang kepala jaksa yang bekerja di berbagai karesidenan. Sejak kecul Ruhana memiliki ketertarikan terhadap dunia pendidikan dan sering membagikan ilmu yang diperoleh dari ayahnya kepada perempuan-perempuan di desanya.

Bacaan Lainnya

Beliau prihatin terhadap kondisi perempuan di daerahnya. Mereka tidak memiliki pendidikan yang layak untuk bisa hidup sejahtera dan mandiri. Keprihatinan ini mendorong beliau untuk mengadakan kelas-kelas kecil bersama perempuan di desa untuk memberikan pengetahuan yang diperolehnya dari Istri teman-teman Belanda ayahnya, mengenai keterampilan busana seperti menyulam dan menjahit dan membaca Al-Qur’an.

Dok. Gambar Rouhana Koeddoes diambil dari banjarmasinpost

Pada tahun 1908, atau di usia 24 tahun, Roehana menikah dengan Abdoel Koeddoes, seorang notaris, dan kemudian dikenal sebagai Roehana Koeddoes. Abdoel Koeddoes mendukung pekerjaan istrinya untuk mendidik perempuan.

Kemudian pada 1911, ia meresmikan karirnya di bidang pendidikan dengan mendirikan sekolah pertama di Indonesia yang khusus diperuntukkan bagi perempuan. Didirikan di kota kelahirannya, sekolah Koeddoes memberdayakan perempuan melalui berbagai program, mulai dari pengajaran literasi bahasa Arab hingga moralitas. Roehana memperluas pengaruhnya setelah pindah ke Bukittinggi, dengan menjadi salah satu jurnalis perempuan pertama di Indonesia. Di sini, ia memainkan peran kunci dalam merintis surat kabar perempuan Soenting Melajoe (1912). Sebagai yang pertama di Indonesia, surat kabar ini secara langsung menginspirasi perkembangan beberapa surat kabar perempuan lainnya.

Surat kabar ini memuat berbagai kritik dan diskusi terhadap posisi perempuan di masyarakat, dan mengangkat isu keikutsertaan perempuan dalam budaya, ekonomi, politik, kesehatan, dan pendidikan. Surat kabar ini berhasil memantik semangat para perempuan pribumi sekaligus menarik simpati para kolonialis terhadap nasib perempuan pribumi.

Dok. Rouhana Koeddoes diambil dari halonusa

Google dalam laman resmi doodle menyebutkan, sepanjang karirnya, Roehana terus menulis artikel yang mendorong perempuan untuk membela kesetaraan dan melawan kolonialisme, dengan beberapa mencapai pengakuan nasional. Berkat perjuangannya itu, banyak yang menganggap perempuan dalam jurnalisme Indonesia lebih kritis dan berani dari sebelumnya.

Ruhana Kuddus menghembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 17 Agustus 1972, tepat pada perayaaan kemerdekaan Indonesia. Jasa beliau dikenang dan memperoleh berbagai penghargaan sepeninggal beliau. Salah satunya adalah Bintang Jasa Utama yang diberikan kepada beliau pada 2007 dan pemberian gelar pahlawan sehingga bersanding bersama Kartini dan pahlawan perempuan lainnya.

Tepat dua tahun yang lalu, pada tanggal (8/11/2019), Roehana Koeddoes diumumkan sebagai salah satu Pahlawan Nasional asal Kabupaten Agam oleh Presiden Joko Widodo. Penetapan perempuan pejuang kelahiran Nagari Koto Gadang, Kecamatan IV Koto, 137 tahun silam itu tertuang dalam Surat Menteri Sosial RI nomor: 23/MS/A/09/2019.

Tak hanya sebagai Pahlawan Nasional, Roehana Koeddoes juga menerima penghargaan sebagai wartawati pertama Indonesia (1974) pada Hari Pers Nasional ke-3 9 Februari 1987. Kala itu, Menteri Penerangan Harmoko menganugerahinya sebagai Perintis Pers Indonesia.  Sebelum meninggal pada 17 Agustus 1972, Roehana Koeddoes masih terus berjuang dengan memimpin surat kabar Perempuan Bergerak.

Dikutip dari berbagai sumber_

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.