Kajian Kitab Al-Kasyfu Wal Al-Tibyan, Pekan Kedua Tentang Puncak Tipu Daya

145

pwnubali.or.id – Tepat di Jalan Gunung Ringin IV no. 32, di kediaman Mang Ade, salah satu pengurus PW LTNU Provinsi Bali kegiatan ngaji kitab Al-Kasyfu Wal Al-Tibyan Fi Ghurur al-Khalq Ajma’in” dilaksanakan.

Kegiatan tersebut merupakan program rutinan pengajian kitab kuning mingguan PW LTN NU provinsi Bali, yang dilaksanakan secara online dan physical distancing.

Sebelum kegiatan ngaji kitab kuning tersebut, Para pengurus PW LTNU Provinsi Bali terlebih dahulu melakukan koordinasi kepengurusan. Kemudian dilanjut dengan kajian rutinan dengan muqadimah tawassul kepada pengarang kitab dan para auliya.

Melanjutkan kajian sebelumnya, sahabat Agus NS menjelaskan adanya tipu daya pada orang mukmin yang selalu berbuat maksiat. Tipu daya yang dialami oleh kelompok tersebut adalah selalu berharap ampunan dan kasih sayangnya Allah Swt tetapi orang tersebut enggan untuk melakukan ketaatanNYa.

“Mukmin yang terlena pada sifat ke- ghafururrahim-anya Allah. Kelompok ini berharap Allah mengampuni dosanya, tetapi ia enggan taat terhadap perintahNYa” katanya.

Pria kelahiran Pekalongan ini juga menambahkan bahwa ada puncak dari tipu daya, yaitu tipu daya seorang anak yang memiliki orang tua ahli ibadah sementara ia sendiri tidak berbuat baik serta selalu berbuat maksiat.

“Seorang anak yang membanggakan nasabnya dan merasa yakin bahwa dengan ibadah orang tuanya, si anak akan mendapatkan ampunan. Ini merupakan puncak tipu daya bagi seorang mukmin yang selalu maksiat dan tidak mau beribadah” tambahnya

Lebih jauh, kang Agus sapaan akrabnya. Mencontohkan ketertipuan yang lindap pada seorang anak ialah seperti kisah Kan’an putra Nabi Nuh. Nabi Nuh hendak menyelamatkan anaknya tersebut, dengan mengajaknya menaiki perahunya. Namun, Kan’an menolak.

Dalam kitab tersebut, al-Ghazali menjelaakan bahwa berharap (Roja’) pengampunan Allah swt itu adalah sesuatu yang bagus menurut pandangan syariah. Tetapi yang tidak baik ialah, lalai terhadap perintah Allah swt.

“Mengharapkan ampunan Allah itu baik dalam pandangan syariah. Yang tidak baik ialah hanya mengharap ampunan Allah tanpa mengindahkan perintahnya” jelasnya.

Penulis : Saiful Qowi, Editor : M.A. Nisfu,S

TINGGALKAN KOMENTAR

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.