Sahabat Ushfuriyah : Kisah Hasan Basri dan Anak Perempuan, Nasihat Terhadap Orang Lalai

282

pwnubali.or.id – Majelis Istighotsah dan Ngaji Kitab Kuning Ansor-Banser Provinsi Bali atau yang biasa di sebut Sahabat Ushfuriyah, Selasa (16/3) malam kemarin membahas bab tentang kisah Ulama Hasan Basri dengan seorang anak perempuan yang sedang berduka. Kisah ini mengandung banyak makna terutama dalam hal peringatan kematian.

Ust. Moh Agus NS yang menjadi penyaji dalam kajian tersebut meceritakan runtutan kisah yang mektub dalam kitab klasik Al Mawaidz Al Ushfuriyah tersebut. Adapun kurang lebihnya, berikut adalah kisah yang bisa menjadikan nasihat bagi kita semua.

Pada suatu hari ketika Hasan Al Bashri radliyallahu ‘anhu sedang duduk di depan rumahnya, tiba-tiba datanglah janazah seorang laki-laki yang diiringi oleh orang-orang dari belakang, sedangkan puterinya yang masih kecil berada di bawah janazah itu, berjalan, mengurai rambutnya dan menangis.

Kemudian Hasan Al Bashri berdiri dan ikut mengiringi janazah tersebut. Si puterinya berkata; “Oh Ayahku, seumur hidupku belum pernah aku menghadapi hari seperti hariku ini”.

Hasan Al Bashri berkata kepadanya; “Demikian pula, belum pernah ayahmu menghadapi hari seperti hari ini”. Kemudian Hasan Al Bashri menshalatkan janazah tersebut dan kembali pulang.

Keesokan harinya, setelah Hasan Al Bashri mengerjakan shalat shubuh dan ketika matahari telah terbit, seperti biasanya dia duduk di depan rumahnya, tiba-tiba ia melihat puteri itu melintas sedang menangis dan pergi ke kuburan ayahnya.

Hasan Al Bashri berfikir; “Anak ini adalah anak yang pintar. Aku akan membuntutinya siapa tahu dia mengucapkan suatu kata yang bermanfa’at bagiku”.

Kemudian Hasan Al Bashri membuntutinya. Setelah sampai di kuburan ayah anak itu, Hasan Al Bashri bersembunyi dari penglihatannya di balik pohon berduri.

Lantas anak tersebut memeluk kuburan ayahnya dan meletakkan pipinya di tanah seraya berkata;

“Wahai ayahku, bagaimana keadaanmu setelah bermalam dalam kubur yang gelap seorang diri tanpa lampu dan tanpa seorang pendamping?”

“Wahai ayahku, kemarin malam aku menghidupkan lampu untukmu, lalu siapakah yang menghidupkan lampu untukmu tadi malam?”

“Wahai ayahku, kemarin malam aku menggelarkan alas untukmu, lalu siapakah yang menggelarkan alas untukmu tadi malam?”

“Wahai ayahku, kemarin malam aku memijit-mijit tangan dan kakimu, lalu siapakah yang memijit-mijitmu tadi malam?”

“Wahai ayahku, kemarin malam aku memberimu minum, lalu siapakah yang memberimu minum tadi malam?”

“Wahai ayahku, kemarin malam aku membolak-balikmu dari satu arah kearah lainnya, lalu siapakah yang membolak-balikmu tadi malam?”

“Wahai ayahku, kemarin malam aku menutupi anggotamu yang telanjang, lalu siapakah yang menutup anggotamu tadi malam?”

“Wahai ayahku, kemarin malam aku memperhatikan wajahmu, lalu siapakah yang memperhatikan wajahmu tadi malam?”

“Wahai ayahku, kemarin malam engkau memanggil kami dan kami menjawab panggilanmu, siapakah yang engkau panggil tadi malam dan siapakah yang menjawab panggilanmu?”

“Wahai ayahku, kemarin malam kuberi engkau makanan ketika engkau ingin makan, apakah tadi malam engkau menyukai makanan dan siapakh yang memberimu makanan tadi malam?”

“Wahai ayahku, kemarin malam aku memasak macam-macam makanan untukmu, siapakah yang memasak makanan untukmu tadi malam?”

Hasan al Bashri pun menangis dan menampakkan diri kepada anak perempuan itu dan berkata; “Wahai anakku, janganlah engkau mengucapkan kata-kata ini, akan tetapi katakanlah;

“Wahai ayahku, kamu telah menghadapkanmu ke arah kiblat, apakah engkau tetap demikian ataukah telah dihadapkan ke tempat lain?”

“Wahai ayahku, kami telah mengkafanimu dengan kafan terbaik, apakah tetap begitu ataukah kafan itu telah ditinggalkan darimu?”

“Wahai ayahku, kami meletakkan badanmu di dalam kubur dalam keadaan utuh, apakah engkau tetap begitu ataukah engkau telah dimakan cacing?”

“Wahai ayahku, sesungguhnya para ulama berkata; seseorang hamba akan ditanyakan kepadanya tentang Iman, diantara mereka ada yang menjawab dan diantara mereka ada yang tidak bisa menjawab, apakah engkau mampu menjawab tentang Iman itu atau tidak bisa menjawab ?”

“Wahai ayahku, para ulama berkata bahwa kubur itu dilapangkan bagi sebagian manusia dan disempitkan bagi sabagian yang lain, apakah kubur itu terasa sempit bagimu ataukah terasa lapang?”

“Sesungguhnya para ulama berkata, bahwa sebagian mereka diganti kafannya dengan kafan dari surga dan sebagian lainnya diganti dengan kafan dari neraka, apakah kafanmu diganti dengan kafan dari neraka atau dari surga?”

“Wahai ayahku, sesungguhnya para ulama berkata, bahwa kubur itu bisa merupakan salah satu kebun surga atau salah satu parit neraka.”

“Wahai ayahku, sesungguhnya para ulama berkata, bahwa kubur itu memeluk sebagian penghuninya seperti ibu yang penuh kasih sayang dan bisa membenci serta menghimipt sebagian manusia hingga tertindih tulang-tualng rusuk mereka, apakah kubur ini memelukmu atau membencimu?”

“Wahai ayahku, para ulama berkata, bahwa siapa yang diletakkan dalam kubur, bila ia seorang yang bertakwa ia pun menyesal karena kurang banyak berbuat kebaikan dan bila ia seorang berdosa ia menyesal mengapa telah melakukan kemaksiat, apakah engkau menyesal atas dosa-dosamu atau karena sedikitnya kebaikanmu?”

“Wahai ayahku, biasanya waktu aku memanggilmu tentu engkau menjawab panggilanku dan telah lama aku memanggilmu di kepala kuburmu mengapa aku tidak mendengar suaramu?”

“Wahai ayahku, engkau telah pergi dan aku tidak bisa berjumpa denganmu hingga hari kiamat, ya Allah janganlah engkau haramkan kami dari pertemuan dengannya di hari kiamat.”

Kemudian anak perempuan itu berkata, “Hai Hasan, alangkah baiknya perkataan yang engkau ucapkan untuk ayahku dan alangkah baiknya nasihatmu kepadaku dan peringatanmu terhadap orang-orang yang lalai.

Setelah itu, pulanglah anak perempuan itu bersama Hasan Basri sambil menangis.

(Kisah ini diambil dari kitab Al Mawaidz Al Ushfuriyah)

TINGGALKAN KOMENTAR

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.