HUKUM MUSLIM MEMAKAI UDENG DAN KAMBEN

pwnubali.or.id | Jembrana – Di samping masalah “Ngujur” yang jadi perbincangan hangat, ada juga Warganet muslim wilayah Bali yang bertanya tentang : Bagaimana Hukumnya Seorang Muslim memakai Udeng dan Kamben ( Pakaian Adat/ Agama Hindu di Bali).

Sebagai pakaian yang harus dipakai misalnya seorang PNS Muslim yang diharuskan memakainya karena adanya aturan di kantornya atau karyawam Muslim di perusahaannya yang juga diharuskan memakainya sebagai aturan dari managemen perusahaan, apakah hal ini tidak termasuk Tasyabbuh ( Menyerupai non Muslim yang dilarang )?

Bacaan Lainnya

Sesungguhnya seorang Muslim yang memakai pakaian Adat Bali pada dasarnya “dibolehkan” menurut hukum Islam oleh karena persyaratan pakaian dalam Islam adalah jika bisa menutupi “aurat” saja meskipun pakaian adat Bali tersebut juga digunakan untuk kegiatan persembahyangan di tempat peribadatan.

Udeng dan kamben adalah merupakan pakaian adat oleh karena itu maka digolongkan sebagai bagian yang menjadi tradisi orang Bali dan menjadi ciri khasnya sebagaimana suku suku lain di tanah air.

Untuk itu maka memakai pakaian tersebut bukanlah bagian dari “Tasyabbuh” ( menyerupai) dengan non Muslim dalam hukum Islam, Sebab tidak ada penghususan yang menyerupai non Muslim bahkan pakaian itu juga mirip sekali meskipun tidak seratus persen dengan pakaian adat suku Sasak Muslim di Lombok. Atau pakaian adat / tradisi di kampung muslim Pegayaman Buleleng Bali. ( perhatikan gambar di bawah ini : pakaian presiden Jokowi – kiri pakaian adat suku Sasak Lombok, kanan pakaian adat suku Bali).

Memang persoalan “Tasyabbuh” ini menjadi perdebatan di kalangan ulama terutama ulama kontemporer tentang kriterianya dan batasannya oleh karena Rasulullah sendiri pada awalnya pernah “bertasyabbuh” ( meniru ) kebiasaan orang ahli kitab ( Yahudi) terutama tentang meniru gaya rambut hal ini kemungkinan bagian dari langkah strategi dakwah Nabi SAW untuk mendapatkan simpati dari mereka seperti yang diterangkan dalam sebuah hadist :

عن ابن عباس رضي الله عنهما قال كان النبي صلى الله عليه وسلم يحب موافقة أهل الكتاب فيما لم يؤمر فيه وكان أهل الكتاب يسدلون أشعارهم وكان المشركون يفرقون رءوسهم فسدل النبي صلى الله عليه وسلم ناصيته ثم فرق بعد [ ص: 374 ]

Artinya : “Dari Ibnu Abbas RA berkata bahwa Rasulullah SAW suka menyamai Ahli Kitab di sebagian perkara yang tidak diperintahkan, Adapun Ahli Kitab suka mengurai rambut mereka, sedangkan orang-orang Musyrik biasa membelah rambut mereka, maka beliau Rasulullah lebih suka mengurai rambut bagian depannya, lalu beliau membelahnya.” (Fathul Bari Syarah Shohih Bukhari Juz 10 hal. 374 ).

Kemudian Tuhan membatalkannya dan memerintahkan kepadanya untuk menyelisihi Ahli Kitab dalam hal identitas mereka agar bisa membedakan di antara mereka terutama suku suku dalam agama Yahudi yang hidup berdampingan sebagai warga kota Madinah.

Untuk jaman modern seperti sekarang ini dalam menentukan batasan Tasyabbuh itu sendiri sedikit sulit karena harus melihat situasi dan kondisi masyarakat beragama oleh karena tidak mudah untuk membedakan antara tradisi dan syiar agama tertentu oleh karena yang dilarang dalam Islam adalah meniru dalam syiar agama non muslim.

Dalam ajaran Islam memang ada Tasyabbuh ( menyerupai) yang dilarang tapi ada juga yang tidak tergantung sikon.

Adapun dalil larangan “Tasyabbuh” dalam Islam sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud: Rasulullah SAW bersabda

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Artinya :”Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia bagian dari kaum tersebut”( HR. Abu Daud ).

Jadi Tasyabbuh yang dilarang adalah “Menyerupai umat agama lain dalam segala bentuk dan sifatnya, baik dalam aqidah, peribadatan, kebudayaan, atau dalam pola tingkah laku yang menunjukkan ciri khas mereka secara khusus atau merupakan ciri khas yang hanya dimiliki oleh agama tertentu sebagai lambang atau syiar agama itu. Contoh “Lambang Salib” dalam agama kristen atau topi Santa Claus. Lambang itu hanya dimiliki oleh teman kita dari agama Kristen dan itu merupakan syiar dari agama itu maka itulah yang tidak boleh ( haram) ditiru oleh orang Muslim.

Demikian juga ada, Tasyabbuh yang dibolehkan (Mubah) yaitu jika ada perbuatan yang asalnya sebenarnya bukan ciri khas dari orang non muslim, akan tetapi orang non muslim melakukannya. Maka tidak mengapa muslim menyerupai dalam hal ini.

Adapun syarat bolehnya “tasyabbuh” dengan orang non muslim diantaranya jika yang ditiru itu bukan syi’ar agama orang non muslim dan bukan pula menjadi kekhususan mereka seperti contoh pakaian adat non muslim karena itu bukan syiar agamanya.

Imam Muhammad bin Ali Al-Hashkafi dari kalangan petinggi madzhab Hanafi yang juga pengarang kitab Al-Dur Al-Mukhtar mengatakan:

إِنَّ التَّشَبُّهَ ( بِأَهْل الْكِتَابِ ) لاَ يُكْرَهُ فِي كُل شَيْءٍ ، بَل فِي الْمَذْمُومِ وَفِيمَا يُقْصَدُ بِهِ التَّشَبُّهُ

Artinya : “Sesungguhnya tidak semuanya tasyabbuh (menyerupai orang non-muslim) itu negative dan dibenci ( dalam Islam) . Kecuali tasyabbuh pada keburukan dan yang memang diniatkan untuk meniru gaya khusus dari mereka.” (Al-Dur Al-Mukhtar juz 1 halaman 624)

Jadi dari uraian di atas maka tentu bisa diambil suatu kesimpulan bahwa memakai udeng dan kamben bukan suatu perbuatan Tasyabbuh (menyerupai) dalam Islam maka pakaian tersebut bisa digunakan oleh Muslim dalam segala hal termasuk dipakai untuk beribadah ke masjid maupun ke musholla dan aktifitas ibadah lainnya bagi siapa saja muslim yang mau memakainya.

Wallahu a’lam Bis Shawab.
Penulis : Drs. H. Baginda Ali, MM (Penulis Buku Awal Mula Di Muslim Bali)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.