Cuplikan Pidato KH Wahid Hasyim Di Hadapan Masa Bambu Runcing Parakan Kauman 1946

  • Whatsapp

pwnubali.or.id – Parakan merupakan salah satu daerah perjuangan yang menjadi jejak saksi pertahanan kemerdekaan Republik Indonesia setelah proklamasi pada 17 Agustus 1945. Para santri dan Ulama turut memberikan peran dalam Revolusi Kemerdekaan pada masa itu.

Parakan menjadi wilayah pusat penempaan pembekalan spiritual bagi para pejuang. Pada bulan Januari 1964, KH. Hasyim Asy’ari mengunjunginya dengan memberikan wejangan untuk kepada pejuang muslim yang dikenal sebagai Pasukan Bambu Runcing.

Pertemuan itu dihadiri oleh para tokoh Bambu runcing Parakan seperti KH Subeki Kyai Ali, Kyai Nawawi, Kyai Madhur dan para tokoh yang lain. Hadir pula dalam kesempatan itu beberapa ulama dari Jawa Timur dan para pejuang dari berbagai daerah di pulau Jawa.

Adapun pidato yang disampaikan oleh KH. Hasyim Asy’ari sebagai berikut:

“Assalamu alaikum,

Para hadirin, bersyukurlah bahwa amanat hadrotus Syeh (Hasyim As’ary) yang tersalurkan dalam Resolusi jihad PBNU 22 Oktober 1945 telah mendapat sambutan luas dan spontan dari kalangan nahdliyin pada khususnya dan umat islam pada umumnya. Semua itu berkat kepemimpinan para ulama dalam mempelopori perjuangan selalu berada di garis depan.

Sekarang ini, dimana-mana pesantren tidak lagi mengaji fiqih, hadits dan lain sebagainya tetapi santri lebih sibuk latihan perang, bagaimana cara menggunakan senjata api seperti bedil pistol, cara melempar granat dan bagaimana cara menggunakan senjata modern lainnya.

Mengangkat senjata melawan musuh yang hendak menjajah kembali dan merobohkan kemerdekaan ini tak bisa dihindari lagi. Di mana-mana para pemuda kita memanggul senjata apa saja yang dimiliki untuk bertempur di semua medan perang. Beberapa ulama kita ikut bertempur untuk melindungi dan membesarkan semangat para pejuang. Dalam hal ini peran Bambu runcing Parakan sungguh luar biasa pengaruhnya. Di front pertempuran Surabaya dan Semarang, tidak sedikit pemuda kita yang hanya bersenjatakan Bambu runcing Mbah Subeki sanggup menyerbu musuh dengan meloncat di atas tank atau panser. Kita ini bukan agresor, kita ini membela diri karena diperangi musuh.

Rosulullah Saw bersabda: Wahai manusia, janganlah kamu mengharap bertemu musuh, mohonlah keselamatan, namun jika tetap bertemu musuh bersabarlah karena surga dibawah bayang bayang pedang. Ini artinya surga itu dekat dengan para pejuang di medan perang.

Sehubungan dengan banyaknya perlawanan rakyat, kini Belanda banyak mengalami kekalahan di semua medan perang, semangat tempur mereka kian merosot. Belanda kehilangan motifasi untuk apa menjajah indonesia.

Oleh karena, itu dunia internasional tak lagi berpihak Belanda. Dunia internasional kini mulai memahami aspirasi bangsa indonesia. Gema takbir dari Parakan mendapat sambutan luas dari negara negara timur tengah untuk membantu kita. Di saat negara-negara blok barat masih membela Belanda, gemuruh takbir pejuang dari parakan membuat serentak negara negara Arab bangkit membela indonesia. Allahu akbar — Allahu akbar…… Merdeka…!!!

Para hadirin sekalian, saya ingin mengajak saudara saudara untuk selalu waspada. Perjuangan bersenjata insyaallah segera berakhir, belanda akan mundur dan mengakui kemerdekaan indonesia.

Wassalamu alaikum wr. wb.”

Demikian pidato Menteri Negara KH. Wahid Hasyim di pendopo kelurahan Kauman awal tahun 1945-1946.

(Cuplikan buku sejarah Bambu runcing)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.