Toleransi di Bali Bukan Hal Baru, Apalagi Tabu

374

pwnubali.or.id – Sempat viral beredar foto giat Banser menjaga aktivitas ibadah umat Hindu saat peraayaan Hari Raya Nyepi, hari Minggu (14/3) kemarin di daerah Buleleng, Bali. Foto tersebut di unggah oleh ketua PC Ansor Kabupaten Buleleng, Karim Abraham dalam akun media sosialnya dan menjadi perbincangan hangat di sosial media terutama yang berkaitan dengan toleransi di Pulau Dewata.

Barisan Ansor Serbaguna atau yang biasa disebut Banser itu sendiri selalu memiliki tekad yang kuat untuk menjaga persatuan dan kesatuan antar umat beragama. Yang mana segala perbedaan tidak menjadi penghalang bagi banser dalam ber kiprah, guna untuk selalu memelihara kebersamaan serta keharmonisan antar umat beragama dimanapun berada termasuk di Pulau Bali.

Aksi Banser di Buleleng ikut serta dalam pengamanan perayaan Hari Raya Nyepi tersebut menuai apresiasi dari berbagai pihak baik dari kalangan Muslim hingga Non Muslim. Menurut penuturan Ketua PC Ansor Kabupaten Buleleng, setiap tahun senantiasa menurunkan anggotanya untuk melakukan pengamanan demi kelancaran hari raya Nyepi di Buleleng dan pada tahun ini terdapat 17 titik pengamanan Banser di Buleleng.

Kegiatan pengamanan tersebut rupanya  tidak hanya dilakukan oleh Banser Buleleng saja, melainkan diberbagai daerah seperti di Kabupaten Jembrana. Menurut ketua Ansor Kabupaten Jembrana, H. Syarif pihaknya menurunkan banser di lima titik pada Desa Tegalbadeng Barat. Sama halnya di Buleleng, Banser di Jembrana setiap tahun juga melakukan kegiatan pengamanan di hari Raya Nyepi untuk mewujudkan kenyamanan dan ketertiban pelaksanaan hari Raya umat Hindu tersebut.

Berbagai giat Banser di Kabupaten Buleleng dan Jembrana tersebut hanyalah sebagaian kecil dari bentuk toleransi umat beragama di Bali. Jika berbicara toleransi di Bali sendiri bukanlah hal yang baru apalagi tabu. Toleransi di Bali telah tercipta sejak dahulu dan hingga saat ini masih terus terjaga kelestariannya. Dan sudah menjadi kewajiban setiap umat khususnya Muslim di Bali untuk saling menjaga kerukunan dan kebersamaan dalam mewujudkan masyarakat yang damai dan sejahtera.

Dalam buku fikih muslim bali karya Taufiq Maulana, dkk. Menjelaskan beberapa bentuk toleransi umat beragama di Bali, dilihat dari aspek tradisi dan budaya misalkan ngejot, megibung, serta pakaian adat bali yang juga dikenakan oleh umat Islam dalam waktu tertentu. Selain itu jika dilihat dari aspek keagamaan yakni umat islam ikut serta dalam mengikuti prosesi pemakaman atau mengantarkan dan menyaksikan (Ngaben) dan lain sebagainya.

Sinergitas antara umat beragama di Bali sangat kuat. Baik muslim maupun non muslim, khususnya agama Hindu di Bali saling membantu dan menjaga. Misalnya dalam perayaan Hari Raya Idul Fitri umat Hindu melalui pecalang ikut serta dalam mengamankan begitupun sebaliknya dengan umat islam, saat ada hari perayaan umat Hindu maka banser turut menjaga. Toleransi di Bali sudah ada dan terjaga dari dulu sampai saat ini. Dalam hal ini Bali dikenal dengan wilayah yang menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi.

Dari berbagai literatur juga menyebutkan sejak awal masuknya Muslim di Bali dan diterima di tengah masyarakat adalah dengan mewujudkan nilai-nilai toleransi. Ketika masa-masa perjuangan baik Hindu maupun Muslim dan lainnya turut membantu melawan para penjajah yang menginvasi tanah Bali.  Sebagaimana artikel yang pernah di tulis oleh Drs. H. Bagenda Ali, M.M/Penulis Buku AWAL MULA MUSLIM DI BALI menyebutkan jika perlawanan yang dipimpin oleh I Gusti Ngurah Rai dengan pasukan bernama CIUNG WANARA memiki beberapa anggota yang berasal dari kalangan Muslim. Hal tersebut tentu saja menjadi catatan sejarah yang tidak akan pernah dilupakan oleh generasi-generasi yang akan datang.

Hingga saat ini dan seterusnya toleransi di Bali akan senantiasa terjaga dan menjadi tanggung jawab bersama untuk selalu melestarikannya. Bali sebagai pulau yang multikultur dan multientis akan senantiasa harmonis dan damai dengan menjunjung nilai-nilai toleransi serta kerukunan antar umat beragama.

Penulis : Ita Khuniyawati

Editor : Muhammad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.