KIAI SEPUH

Oleh: Kambali Zutas

TERIK matahari siang itu terasa panas. Kemarau tahun ini begitu panjang. Tanah yang seharusnya basah dengan guyuran air hujan kini kering kerontang. Tak ada siraman air dari langit selama delapan bulan. Hamparan tanah tegalan retak-retak. Berhektare-hektare lahan tak ada tanaman padi. Sawah kini hanya bisa ditanami tebu subsidi pabrik gula. Atau ditanami jagung ala kadarnya seperti sawah kiai.

Bacaan Lainnya

Air sungai tak lagi mengalir. Limbah pabrik kertas menumpuk bercampur sampah. Membentuk irisan menutup lapisan atas. Persis bukan sungai lagi, namun jalan raya di tengah tanggul kanan dan kiri. Seperti tahun-tahun sebelumnya kalau musim kemarau tiba, kerak limbah begitu tebal. Limbah itu menjadi jembatan dan jalan pintas menuju desa seberang. Bau menyengat menusuk hidung bukan hal yang asing. Apalagi jarak dapur dengan sungai tak kurang dari satu meter.

“Kang pondoknya bakal jadi bagus. Sampeyan bayangkan, tingkat tiga, lantainya keramik. Tidur semakin pulas karena tidak di plesteran lagi.”

Suara Sapuan memecah kesunyian dapur kecil di belakang kamar mandi. Aku terdiam meski sebenarnya mendengar. Aku sibuk meniup api kecil agar bisa membakar kayu di pawon. Ngliwet masak nasi dengan menggunakan ketel panci kecil.

Alhamdulillah. Iya. Pasti bagus.”

Balasku setelah api membesar. Beberapa lama kemudian, Sapuan membuka tutup daun pisang di atas ketel itu.

“Sudah masak. Airnya sudah habis.”

Tanpa komando aku bergegas mencari daun pisang di sebelah gedung selatan. Sapuan mengangkat ketel. Selanjutnya menumbuk cabai dicampur bawang putih. Lantas terong bakar kesukaan kami langsung dipenyet. Nasi kutaruh di atas daun pisang. Setelah semua beres, kami pun menyantap nasi itu dengan lauk sambel terong dan kangkung rebus. Daun ketela, bayam, dan terkadang daun luntas direbus bersamaan saat menanak nasi.

“Ini baru pas. Nasinya tidak lemas dan sambelnya pedas.”

Sapuan terus bicara meski mulutnya dipenuhi nasi. Kangkung rebus tak luput dari jarahan tangan kami.

“Tapi khan kemungkinan kita sudah tidak menempati. Kita sekarang sudah Alfiyah Tsani. Sebentar lagi atau Rajab nanti sudah Imtihan.”

Aku menyambung pembicaraan tentang bangunan pondok. Waktu itu, kami sudah kelas Alfiyah Tsani atau kelas VI. Di pesantren kami tingkatan kelas berdasarkan nama kitab. Kelas Tajwid, Jurumiyah, Imrithi, Mutammimah, Alfiyah Awal, dan Alfiyah Tsani.

Kami melahap nasi sambil berbicara sambil membayangkan menempati gedung baru. Naik tangga. Bisa melihat hamparan sawah di timur sungai dari atas bangunan. Wah! Seperti pesantren lain, minimal yang ada di seberang. Bangunan bagus dan fasilitas lengkap. Di setiap kamar ada kasur dan bantal. Santri boleh menonton televisi.

Tiba-tiba menurutku aneh. Proyek kali ini begitu cepat. Tidak seperti bangunan yang lain sempat tertunda karena kekurangan dana. Aku pikir apakah ini buah kesabaran dan kelebihan kiai? Kesimpulan-kesimpulan seperti itu terus membayangiku terhadap perubahan di pesantren. Apalagi jika melihat dan mendengar peristiwa tentang kiai. Pikiranku langsung tertuju pada pertanyaan apakah ini yang dimaksud orang-orang dengan sebutan kiai sepuh atau kiai yang dituakan? Bagian karomah kejadian luar biasa atau prilaku dan peristiwa istimewa dari kiai. Namun hingga kemarin, jawaban itu belum kudapatkan. Hatiku sama sekali tak yakin.

Sepertinya itu dulu. Kini aku layaknya telah lupa. Entah karena aku tak bisa menemukan atau terlanjur kerasan menikmati tinggal di pesantren. Bahkan sekarang sering berkomunikasi atau bicara langsung dengan kiai. Beberapa kali sowan menghadap untuk urusan acara Imtihan. Tak ada rasa penasaran atau ingin mencari dan melihat sesuatu yang ku anggap sebagai bagian dari karomah kiai.

Jauh sebelum itu. Tepatnya sebelum memutuskan mondok atau sekitar lima tahun yang lalu. Berawal dari kenekatanku pergi ke Pondok Lirboyo, Kediri, Jawa Timur. Tujuannya ingin melihat dan bertemu dengan kiai-kiai kondang di Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) XXX/1999. Kiai-kiai yang selama ini hanya kuketahui dari cerita-cerita kiai masjid. Yang lebih penting lagi, bisa bersalaman ngalap berkah. “Mumpung dekat dari rumah. Pasti ada kiai-kiai yang ampuh, sakti dengan ilmu kanuragan-nya semacam kesaktian tingkat tinggi,” kataku dalam hati.

Sampai di Lirboyo, tanpa sengaja aku bertemu seorang peserta. Aku kenal, karena beliau adalah kiai haji desa sebelah. Kami pun ngobrol. Kiai haji itu bercerita panjang lebar satu per satu sosok kiai delegasi kabupaten kami. Ia juga menyebutkan kiai-kiai kabupaten yang punya kharismatik dan ilmu kanuragan. Aku menyimak terutama ketika bercerita tentang kiai dengan sebutan khusus.

“Namun, menurut saya.” Ia berhenti sejenak sembari menarik napas. “Ada seorang kiai yang paling kharismatik. Tidak ada tandingannya di kabupaten.” Kiai haji secara detail dan panjang lebar menceritakan sosok kiai yang tinggal di Kecamatan Kertosono. Sebuah kecamatan yang lebih dikenal daripada ibukota Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Ia juga sering menyebutnya dengan kiai sepuh.

Nama kiai itu sangat asing bagiku. Bahkan sama sekali tak mengenalinya. Yang kukenal justru kiai-kiai besar dari kabupaten lain seperti Kediri atau Jombang. Semisal Mbah Kiai Idris Marzuki dan Kiai Gus Miek. Atau Kiai Mbeling Cak Nun dan Gus Sholah.

Sepulang dari Muktamar, kuputuskan mondok di pesantren kiai itu. Hampir setiap hari berusaha mencari tahu. Bertanya kepada santri-santri senior tentang kelahiran kiai misalnya. Namun, mereka lebih banyak tidak tahu persis tanggal, bulan, dan tahun berapa kiai dilahirkan. Umumnya mengatakan kalau sekarang usia kiai sekitar 60-an. Pernah kuperhatikan kepala kiai, tak banyak uban di rambut. Apalagi di wajah, tak ada kulit keriput pertanda usia senja. Artinya terlalu muda jika dikatakan sepuh.

Pada tahun berikutnya kudapatkan contoh nyata. Aku melihat kiai mendamaikan warga utara rel kereta api yang bersitegang. Pagi itu, warga berkumpul di depan gereja tepi sungai tepat di ujung jembatan dusun. Mereka menuntut gereja ditutup. Kiai datang saat kedua kubu sedang memanas. Kiai menjelaskan kepada mereka tentang bagaimana hidup bertetangga, toleransi, dan saling menghormati. Keyakinan dan agama tidak perlu dipertentangkan. Termasuk tidak membedakan apalagi memusuhi Pak Kris, pemilik gereja. Warga akhirnya membubarkan diri.

“Begitu santun dalam bertutur, berpikir, dan bertindak,” pikirku. Namun, perilaku seperti ini banyak dipraktikkan kiai lain. Kiai Haji Gus Mus dari Rembang yang menjunjung tinggi toleransi antarumat beragama dan keyakinan. Apalagi Gus Dur sangat melekat sebagai bapak pluralisme.

Pada suatu malam. Tepat Jumat dini hari begitu larut. Aku terbangun. Muncul niat mengintip kiai. Kuberanikan berjalan menuju kamar kiai. Denyut jantung berdebar tidak karuan. Aku bergegas. Mengendap-endap di samping kamar kiai. Kulihat dari celah jendela. Tampak jelas dan terang sekali cahaya lampu. Kiai sibuk membaca kitab. Tak lama, hanya lima menit. Lalu, kuputuskan pergi ke mushala. Kaget. Di tempat imam, berdiri seorang mengenakan baju putih dan sarung putih.

“Ini jelas kiai. Tak ada santri yang berani salat di tempat imam. Tetapi siapa yang di kamar membaca kitab tadi? Inilah karomah kiai sepuh. Kiai bisa jadi dua. Satu di kamar dan satunya salat di mushala.”

Sejak peristiwa itu, keyakinanku semakin bertambah. Ini karamoh kiai yang kucari. Kuceritakan kejadian itu kepada santri dan mereka sangat percaya. Bahkan ada yang tahu jika kiai tak pernah tidur di malam hari. Pernah menyembuhkan orang sakit.

Namun.

Sampeyan itu sudah dihinggapi rasa penasaran, sehingga cepat sekali mengarang.”

Aku terlibat debat dengan Kang Mad. Khodam pembantu di dalem rumah kiai dan ketua pesantren. Aku sengaja menemuinya agar lebih yakin peristiwa kiai menjadi dua itu.

“Benar Kang. Aku betul-betul melihat dengan mata kepala sendiri. Demi Allah.”

“Apakah sampeyan tidak tahu kalau yang salat itu Gus Ali? Beliau baru tiba tadi setelah Isya. Aku yang mengantarnya.”

Gus Ali putra pertama kiai yang mondok di Langitan, Tuban. Aku tetap ngeyel. Aku simpan peristiwa itu. Aku yakin itulah karomah kiai.

“Kiai akan ke kota kabupaten. Pak Joko yang mengajak. Ia mantan bupati dan ketua partai terbesar.”

Kang Mad bercerita kepadaku tentang ikhwal tamu yang datang hari itu. “Beliau ditawari dijadikan calon legislatif atau caleg lah. Namun kiai tolak.”

Banyak parpol kenal dengan kiai sehingga setiap ajang pemilu selalu datang mencalonkannya. Aku pernah sowan bersamaan dengan beberapa tamu. Mereka membujuk kiai agar mau dicalonkan sebagai bupati. Jawabannya sama. Tidak berkenan.

Kiai juga sangat jarang menerima permintaan mengisi acara sebagai mubaligh di pengajian umum. Memberikan tausiah di mana-mana hingga keluar daerah. Jarang sekali. Kiai lebih memilih menjaga amanah di pesantren. Mendidik para santri yang dititipkan orang tuanya. Tetap istiqomah menjadi imam salat lima waktu. Dilanjutkan mengaji setelah salat wajib. Seperti membacakan kitab kuning Ihya Ulummudin usai salat Asyar. Kitab Tafsir Jalalain dan Shahih Bukhari selesai salat Subuh.

Tiba-tiba.

TENG-teng! teng-teng! teng-teng! Bunyi lonceng begitu keras terdengar. Suara yang tak asing bagiku. Sebuah panggilan cepat. Ini tanda antara ada tamu membawa jajan atau woro-woro pengumuman penting kiai. Kami pun bergegas berlari mengabaikan makanan yang tinggal sedikit di daun pisang itu. Sambil mengunyah nasi, aku berlari menuju depan kamar pengurus. Belum sempat minum air sumur.

“Kang, kang! Sekarang kerja bakti. Bongkar semua bangunan baru.”

Kang Mad memberikan komando. Kami bertatap muka. Penuh pertanyaan. Belum selesai membicarakan tentang gedung pesantren kami. Sekarang harus kami bongkar sendiri.

“Ini perintah kiai!”

Kata-kata itu tak pernah kami abaikan. Sekitar sembilan puluhan santri ikut semua. Tanpa berpikir panjang, kami bergegas melangkahkan kaki menuju bangunan di utara yang telah berdiri dua lantai. Anak tangga lantai tiga setengah jadi. Hari itu terasa hening meski terdengar suara gaduh gempuran dan pukulan palu. Suara linggis menghunjam tembok. Tak terdengar lagi santri menghafal nadhom-nadhom.

Dua hari baru selesai membongkar. Luluh lantak. Di hari itu, aku sedikit menemukan jawaban kenapa kiai memerintahkan membongkar bangunan. Gedung itu dibangun menggunakan dana pemerintah melalui Dinas Pendidikan kabupaten. Semua uang berasal dari bantuan pemerintah. Parahnya lagi, tanpa sepengetahuan kiai. Panitia pembangunan Pak Dowi. Ia pernah nyantri meski hanya sebulan karena tak betah. Ia kini menjabat Kepala Bidang di Dinas Pendidikan yang mengurus proyek bantuan-bantuan di pondok pesantren.

Tak lama setelah peristiwa itu, kami benar-benar berduka. Tepat menjelang subuh kiai meninggal dunia. Menurut Kang Mad, kiai terjatuh di kamar mandi saat akan wudhu. Air mata kami mengiringi hingga ke pemakaman keluarga di Desa Kemaduh. Bagiku, ini duka mendalam. Imtihan tanpa ceramah kiai. Juga karena aku belum tahu sesungguhnya sebutan kiai sepuh yang melekat pada kiai. Setelah imtihan, aku putuskan pulang.

Pada tahun kedua, aku datang reuni alumni bersamaan dengan acara imtihan. Aku bertemu alumni dan santri serta kiai haji seangkatan kiai. Mereka banyak bercerita banyak tentang kiai. Ada yang menyebut kiai sosok istiqomah dan wirai. Kiai istiqomah mengajar santri. Tak pernah meninggalkan mengaji. Tak pernah libur meski kondisi uzur. Wirai menahan diri dari barang syubhat.

Aku juga bertemu dengan Daim, bisa dibilang asisten Pak Dowi. Ia kembali ke pondok dan mengajar. Ia bercerita banyak tentang Pak Dowi. Kariernya melejit hingga menjabat kepala dinas, namun tak lama. Ia akhir ditahan karena korupsi dan mark up dana proyek pembangunan pondok.

Esoknya. Tepat setelah salat Subuh kulangkahkan kaki menuju makam kiai. Dalam perjalanan aku berpikir. Kiai hidupnya wirai dan tidak pernah mau menerima dana bantuan pemerintah karena menilai barang atau pun dana itu syubhat. Kiai menyebut uang dari pemerintah sumbernya tak jelas atau samar sehingga termasuk barang syubhat. Kiai sangat menjaga, hati-hati, menjauhi barang-barang yang tak jelas halal dan haramnya. Dan itu diakui hampir semua pejabat di kabupaten, alumni, dan santri yang mengenal kiai. Aku sendiri tahu, tetapi tidak mengerti. Mungkin inikah jawaban kenapa dikenal dengan sebutan kiai sepuh? Wallahu A’lam bishawab. (*)

Denpasar, 2017

Penulis lahir di Nganjuk, Jawa Timur, tinggal di Denpasar, Bali. Jurnalis juga menulis esai, puisi, dan cerpen. Berkecimpung di organisasi profesi sebagai Anggota Bidang Etika dan Profesionalisme AJI Kota Denpasar.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.