Pesan PW Ansor Bali Dalam Konferancab Kuta: Kader Ansor Calon Ulama di Masa Mendatang

209

pwnubali.or.id – Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Kuta Minggu kemarin (7/30) menggelar Konferancab untuk meneruskan tonggak kepemimpinan Ansor Anak Cabang Kuta. Dalam acara tersebut, Pimpinan Wilayah GP Ansor Provinsi Bali memberikan pesan yang disampaikan oleh Wakil Sekretaris PW Ansor Bali, M. Agus NS mewakili Ketua PW Ansor Bali, H. Yunus Naim yang berhalangan hadir karena masih dalam perjalanan menuju ke Bali.

Dalam sambutannya, Agus menyampaikan bahwa Konferensi Anak cabang Ansor Kuta merupakan bagian dari melestarikan anjuran Rasulullah SAW. Menurutnya, konferensi tersebut memiliki keutamaan yang sangat tinggi. Rasulullah dalam sebuah hadis mengungkapkan, orang-orang yang gemar bermusyawarah tak akan pernah menyesal.

“Ma Khoba Man Istakhoro Wa La Nadima Man Istasyaro. Tak akan kecewa orang yang istikharah dan tak akan menyesal orang yang bermusyawarah,” paparnya.

 

 

 

 

 

Pria yang juga menjabat sebagai Asinfokom Banser Provinsi Bali menambahkan agar tidak serampangan memilih pemimpin. Harus mengenali calon pemimpin baik dari segi wawasan, karakter hingga militansinya. “Jangan memilih pemimpin yang tidak dikenal. Pilihlah pemimpin yang bisa memahami karakter anggotanya, yang mempunyai akhlak baik, loyal terhadap organisasi serta memiliki sifat militansi yang tinggi terhadap Ansor. Jangan jangan memilih pemimpin yang sama sekali belum dikenal akan sifat-sifat dan tabiatnya karena itu sama saja akan membawa Ansor kepada kemunduran organisasi,” tambahnya.

“Syekh Ibnu Malik dalam Nadhom Alfiyahnya mengatakan; Wa Fi Ikhtiyarin La Yaji’u al-Munfashil # Idza Ata An Yajial Munfasil. Dalam keadaan ikhtiar (bisa memilih), tidak boleh memilih pemimpin asing (yang tidak dikenal), selama masih ada (calon) pemimpin yang masih memungkinkan untuk dipilih dan dikenal,” tambahnya lagi.

Pesan terakhir kepada anggota Ansor, jangan pernah mencari jabatan di organisasi yang didirikan oleh para muassis NU ini. Ansor dan NU itu malati (nguwalati). Tidak sedikit yang akhirnya jadi ‘gelandangan’ hanya gara gara mencari jabatan atau kedudukan di Ansor.

“Ansor dipersiapkan untuk menjadi pemimpin NU di masa mendatang, maka kader Ansor wajib memahami aturan, memahami ajaran Aswaja An Nahdliyyah dan kebangsaan. Sebagaimana Ibnu Malik berkata: Wa Ma Yalil Mudhofa Yakti Kholafa # ‘Anhu Fil I’robi Idza Ma Khudzifa. Gerakan Pemuda Ansor merupakan calon generasi penerus yang disiapkan untuk mengganti Ulama di masa mendatang manakala mereka telah wafat,” tandasnya. (red. MM)

TINGGALKAN KOMENTAR

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.