Berpihak Kepada Ketakberpihakan

Oleh : Yuri Mahatma

Radikalisme menjadi ancaman kita ke depan. Tidak bisa kita serahkan urusan ini hanya kepada pemerintah (kepemimpinan politik). Sepanjang urusannya politik radikalisme selalu amat menggiurkan dan sexy untuk digarap guna mencapai tujuan kekuasaan.
Menjaga kebhinekaan NKRI saat ini sepertinya tiada lain kita hanya bisa berharap kepada NU dan rakyat semesta saja.
Semoga NU bisa lebih proaktif lagi memberdayakan grass roots nya sebagai ujung tombak penangkal radikalisme. Semoga ini pun belum terlambat mengingat pada beberapa bagian grassroot NU pun tidak kebal, dan terkadang masuk angin juga.
Saya, dan saya juga yakin orang Indonesia
kebanyakan, tentu menolak radikalisme, namun banyak dari kami memilih diam dan hanya keluar uneg-uneg saat nongkrong di warung kopi dan jadi bumbu obrolan dalam bersosialisasi…Bahkan di komunitas saya, komunitas seniman, ada rasa alergy bicara serius soal sosial politik, seolah takut dicap “kurang nyeniman” karena bagi sebagian besar mereka men stereotype kan dan berangapan seniman ya urusannya hanya seni saja, tidak bisa dan tidak mampu mengerjakan hal yang lain.
(…lah emangnya kita sejak orok njebul keluar dari bass drum?… Dianggap tidak berinteraksi dengan bidang lain, tidak punya sanak saudara, yatim piatu atau hidup di gua di gunung-gunung laiknya kambing? hehehe)
saya dan orang-orang seperti saya lainnya cuma bisa harap-harap cemas agar ada perlawanan terhadap radikalisme dan intoleransi yang juga terlembaga semacam gerakan Nasional yg dimotori oleh NU. Karena memang hanya NU yang saya yakini ilmunya lengkap. Paham akan kebutuhan bangsa dan teguh mempertahankan kebhinekaan bangsa warisan pendiri bangsa dan Ulama terdahulu. Intinya representasi Islam yg rahmatan lil’alamin dan mengedepankan Ukhuwah Wathaniyah.
Memang bukan pekerjaan mudah bagi NU yang walaupun mengklaim bahwa pengikutnya paling tidak, ada 60jt dan merupakan organisasi Islam “ramah lahir bathin” terbesar di dunia,namun NU kini tidak memiliki figur sekuat GusDur yang bukan hanya cerdas keilmuannya namun juga cerdas ke “ghaib” annya yang membuat dia berani seberani-beraninya sentil sana-sini tanpa rasa takut (atau karena dia tahu dia anak emas NU) didamprat para Kyai senior. Sepeninggal GusDur NU belum punya lagi tokoh sentral yang dapat dijadikan rujukan untuk melangkah baik bagi grass roots maupun generai muda NU untuk berkiprah di sosial politik. Para Kyai senior NU yang berpihak kepada “tak keberpihakan” telah membuat limbung dan gamangnya generasi muda NU yang brilian untuk berbuat sesuatu bagi umat dan kemashlahatan bangsa.
Alhasil kita baru tahu kepandaian orang-orang muda NU hanya dalam acara-acara eksklusif NU macam harlah NU atau pada saat ada muktamar saja. Belum ada lagi tokoh sentral yang mau menyelam utk mencari dan mempromosikan orang-orang baik yang bukan hanya berasal dari kalangan NU saja, namun antar golongan, ras maupun agama , sekali lagi demi kemajuan , kemashlahatan bangsa dan menyelamatkan kebhinekaan kita.
Kembali kepada ancaman radikalisme yg sedang naik daun, ditambah belum adanya tokoh single fighter macam Gusdur di tubuh NU, maka saya rasa sudah waktunya pencegahan dilakukan secara terorganisir…official, jemput bola dan massive. Tidak bisa lagi untuk berpihak pada “ke-tak-berpihakan” seperti yang terjadi selama ini. Ataupun kalau saya salah duga, namun seperti itulah yg tampak.

Tidak Berpihak Adalah Berpihak
#kalaubukanNUsiapalagi?

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.