eps.1 : Kesetiaan Sarah, Istri Nabi Ibrahim a.s

LTNNU_BALI

Setelah Allah Swt memerintahkan Nabi Ibrahim a.s. untuk berhijrah dan pergi meninggalkan masyarakat Babil, Nabi Ibrahim a.s bersama Sarah sang istri, diikuti dengan keponakan Nabi yakni Nabi Luth a.s. beserta saudaranya Nahur dan Milka (istri Nahur) berjalan melalui Syria menuju Mesir.

Sarah merupakan putri dari paman Nabi Ibrahim a.s. yang juga beriman kepada ajaran yang dibawa Nabi Ibrahim a.s bukan karena Nabi adalah suaminya melainkan memang Sarah juga tidak menyukai penyembahan berhala. Paras cantik yang dimiliki Sarah dikisahkan tak ada satupun wanita dapat menandingi setelah wafatnya Hawa hingga masa Nabi Ibrahim as. Oleh karena paras cantik Sarah, sesampainya Nabi Ibrahim as di Mesir penguasa Tiran di negeri itu tertarik akan kecantikannya.

Bacaan Lainnya

Perlu diketahui bahwa pada masa itu, jika seorang penguasa menginginkan seorang wanita yang bersuami maka, suami dari wanita tersebut akan dibunuh dan wanita tersebut akan dimiliki oleh sang penguasa. Mengingat hukum otonom itu, Nabi Ibrahim as mengakui Sarah sebagai saudara perempuannya saat utusan dari penguasa menemuinya. Hal ini dilakukan Nabi untuk menjaga keselamatan mereka. Kemudian Nabi menemui Sarah dang berpesan,

“Janganlah engkau mendustakan (menyanggah di hadapan penguasa) ucapanku, hai Sarah. Sesungguhnya aku telah mengatakan bahwa engkau adalah saudara perempuanku. Karena tidak seorang mukminpun di muka bumi ini selain diriku dan dirimu (sedangkan engkau adalah saudara seagamaku).”

Setelah berpesan, Nabi Ibrahim dan Sarah hanya dapat berpasrah atas kehendak Allah swt dan berdoa agar dilindungi dari kesewenang-wenangan penguasa. Sarah pun dibawa ke tempat Sang Penguasa.

Disana, dengan kekayaan dan kekuasaan yang Sang Penguasa miliki, ia berusaha menarik hati Sarah agar ia mau menyerahkan dirinya untuk Sang Penguasa. Namun, Sarah bukanlah seorang wanita yang mendambakan harta dunia. Ia adalah seorang istri setia dan wanita beriman yang tak goyah akan godaan dari Sang Penguasa. Tentu hal tersebut membuat geram Penguasa dan ia memaksa Sarah untuk menuruti semua yang diinginkannya.

Sarah pun berdoa, “Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa aku beriman kepada-Mu dan Rasul-Mu. Dan aku senantiasa memelihara kemaluanku kecuali kepada suamiku, maka janganlah Engkau jadikan aku berada dibawah kekuasaan orang kafir”.

Setelah doa itu diucapkan, mendadak Penguasa yang berjalan menuju sarah terjatuh, ia tak mampu menggerakkan badannya yang seketika itu lumpuh. ia pun memohon dan berjanji kepada Sarah jika Sarah mendoakannya agar disembuhkan ia tidak akan memaksa dan menyakiti Sarah.

Sarah pun berdoa dan penguasa dapat kembali bangkit. sayangnya, sang penguasa menginkari janjinya dan kembali berusaha untuk memaksa Sarah dan Allah pun kembali membuatnya jatuh tak berdaya. hingga ia kembali memohon pada Sarah untuk mendoakannya. dan Sarah kembali berdoa. Saat sang Penguasa telah kembali pulih, ia memanggil pengawalnya sembari berkata, “Kalian tidak memwa manusia kepadaku, kecuali Setan! kembalikan ia kepada Ibrahim dan berikanlah Hajar (sebagai tanda permohonan maaf)” sembari berteriak ketakutan.

Sarah pun kembali pulang bersama Hajar dan menemui Ibrahim. Kepada suaminya, Sarah menceritakan apa yang terjadi dengan si penguasa. ” Allah telah mencegah tipu daya orang-orang kafir itu dan aku diberikannya seorang wanita (Hajar),” kata Sarah.

Demikian sepenggal kisah kesetiaan dari seorang Sarah istri Nabi Ibrahim. Akan ada lagi kisah Sarah dengan kepribadian yang tentunya menginspirasi di episode 2. Terimakasih sudah membaca semoga bermanfaat.

(Dikisahkan ulang dari hadis riwayat Imam Ahmad dan Buku karya Malik Al Mughis “Agar Cantikmu Sampai di Surga”)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.