PWNUBALI.OR.ID | Buleleng – Bentrokan antara GP Ansor dan PKI pada 11 November 1965 di Gerokgak Buleleng, merupakan salah satu konflik kekerasan terbesar di Bali pasca kejadian 30 September 1965 di Jakarta.
Menurut laporan Harian Suara Indonesia, bentrokan tersebut menewaskan 7 orang, dua diantaranya dari GP Ansor. Namun dari kesaksian beberapa sesepuh, korban meninggal lebih banyak dari yang dilaporkan.
Ada cerita unik pasca bentrokan tersebut, seperti yang diceritakan Bapak Abu Khairi, salah satu tokoh masyarakat di Desa Gerokgak. Dalam situasi genting saat itu, masing masing membawa korban terluka maupun meninggal untuk kemudian dibawa pulang.
Yang meninggal dari pihak PKI, langsung dikubur di Setra Gerokgak (komplek pemakaman dan pengabenan umat Hindu). Dari pihak GP Ansor pun demikian, anggota yang meninggal langsung dimakamkan. Namun, ada laporan bahwa ada anggota Ansor yang belum balik ke rumahnya. Keluarga dan anggota yang lain mencari keberadaan anggota tersebut.
Pencarian hampir satu minggu belum mendapatkan hasil, sehingga para pengurus menyimpulkan bahwa anggota Ansor tersebut sudah menjadi korban dalam bentrokan yang terjadi sebelumnya.
Sementara itu, masyarakat desa gerokgak bagian timur, menyaksikan kejadian aneh setiap tengah malam, yaitu melihat cahaya putih memantul keatas. Setelah ditelusuri, cahaya tersebut berasal dari Setra.
Desas desus kejadian unik inipun di dengar oleh para pimpinan GP Ansor. Mereka kemudian meminta ijin kepada tokoh adat hindu saat itu, untuk melakukan penelusuran titik cahaya yang setiap tengah malam muncul itu.
Cahaya itu berasal dari gundukan tanah kuburan dari para korban bentrokan sebelumnya. Dan tanpa diduga, setelah digali, ternyata didalamnya ada jenazah anggota Ansor yang selama ini hilang. Untuk memastikan, keluargapun dipanggil dan mengiyakan bahwa itu adalah anggota keluarganya, yang belakangan diketahui bernama As’ari.
Jenazah As’ari langsung dipindahkan ke komplek Pemakaman Muslim yang berada di utara jalan. Dari cerita para sesepuh, salah menguburkan ini karena kepanikan dari kedua kubu, karena bentrokan GP Ansor-PKI ini baru selesai hingga malam hari.
Kini, Makam As’ari oleh masyarakan Muslim desa Gerokgak dipercaya sebagai makam keramat. Lebih dari itu, pengakuan itu adalah suatu bentuk penghormatan kepada para pejuang yang telah membela Agama dan Negara.
Abdul Karim Abraham







