Hadapi Perkembangan Teknologi, Begini Strategi Khusus dari Ketua Umum PBNU

Dok, Foto Gus Yahya diambil dari Viva.co.id

pwnubali.or.id – Ketua Umum PBNU, KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) mengungkapkan strategi khusus dalam menghadapi perkembangan teknologi informasi saat ini. Hal itu Beliau sampaikan dalam dalam sebuah galawicara bertajuk Harapan Baru Perjuangan Besar NU di TV9, pada Sabtu (15/1/2022) pagi.

Menurutnya, pihaknya perlu mengembangkan sistem yang di dukung dengan teknologi informasi yang cukup dalam mengelola organisasi. Maka dari itu Gus Yahya merekrut sejumlah orang yang memeliki kredibilitas tinggi dalam bidang tersebut.

Bacaan Lainnya

“Pertama-tama kita harus mengembangkan sistem yang didukung dengan teknologi informasi yang cukup untuk mengelola organisasi dan untuk mengeksekusi strategi-strategi yang diluncurkan organisasi,” kata Gus Yahya

“Di dalam pengurus harian, ada sejumlah orang yang memang punya kredibilitas untuk melakukan itu. Misalnya ada Dr Agus Zainal Arifin dari ITS, ada saudara Savic Ali (Mohamad Syafi’ Alielha) yang selama ini memimpin NU Online. Nanti akan kita kembangkan lebih jauh di dalam lembaga-lembaga yang kita miliki. Jadi nanti ke depan, keseluruhan sistem administrasi NU harus didukung dengan teknologi informasi,” imbuhnya.

Dok. tangkapan layar galawicara Ketum PBNU Gus Yahya di Tv9

Gus Yahya lantas menyoroti soal perkembangan strategi dakwah NU ke depan yang juga harus didukung oleh teknologi informasi. Secara khusus, ia akan memberikan pekerjaan lebih kepada Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU).

“Kerjaannya LDNU itu adalah membangun strategi dakwah semesta dan di situ nanti teknologi informasi menjadi elemen yang sangat penting,” ungkap Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang, Jawa Tengah itu.

Terlepas dari persoalan dakwah yang menggunakan teknologi informasi itu, Gus Yahya tetap mengingatkan bahwa NU merupakan organisasi yang bertugas sebagai pembawa ilmu dari para ulama, yakni agama.

“Ilmu yang kita unduh dari para ulama ini adalah agama, maka kita harus betul-betul harus hati-hati dari mana kita mengambil agama kita ini,” ungkap kiai yang pernah menempuh pendidikan agama di Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta, pada 1979-1994 itu.

Gus Yahya menambahkan, agama tidak bisa didapatkan secara akal saja tetapi juga harus dengan transfer ruhani atau irsyad. Hal tersebut hanya bisa dilakukan jika terdapat pertemuan antara guru dan murid atau kiai dengan santri. Ia menegaskan bahwa pertemuan antara guru dengan murid itu adalah sesuatu yang sangat fundamental dalam proses mendapatkan ilmu.

“Maka walaupun kita menggunakan teknologi informasi secara progresif, kita tetap harus memelihara tradisi ijtima’ (pertemuan tatap muka) di antara para kiai kita dan dengan para santri, dan di antara warga kita bersama para kiai kita,” katanya.

Sumber: nu.or.id

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.