Rabu Wekasan, Amaliyah Nahdliyyin Dalam Perspektif Fiqih Syafi’i

pwnubali.or.id – Sudah menjadi tradisi di masyarakat Nahdliyyin bahwasanya pada hari Rabu terakhir di bulan Shofar selalu diadakan mujahadah dan dzikir bersama dalam rangka do’a bersama dan tolak balak. Rebo Wekasan (istilah masyarakat Jawa Timur), Rebo Pungkasan (Yogya), Rebo Kasan (Sunda Banten) adalah sebutan untuk hari rabu keempat di bulan Shofar. Rabu adalah hari ke tiga dalam sepekan (hitungan kalender Masehi). Sedangkan wekasan adalah ambilan dari akar kata “wekas” yang berarti “pesan” atau wanti-wanti.” Sebab orang-orang tua begitu memperhatikan hari yang dianggap na’as ini dengan mewanti-wanti pada anak-cucunya. Kata pungkasan juga mengambil dari akar kata bahasa jawa “pungkas” yang berarti “akhir.” Dimaksudkan untuk rabu keempat atau terakhir di bulan Shofar.

 

Bacaan Lainnya

Mengenai amaliah Rabu wekasan ini yang menjadi rujukan primer adalah kitab Kanzun Najah Was Surur (hal 94) karya Syeh Abdul Hamid bin Muhammad Ali Kuds pengarang kitab Lathoiful Isyarot yang menjadi kitab muqorror di pondok pesantren, seorang ulama’ Makah abad abad 14 H (wafat tahun 1335 H) murid Sayyid Ahmad Zaini Dahlan dan Sayyid Bakri Syatho (pengarang kitab I’anatut Tholibin), sekaligus menjadi guru dari Habib Ali Kwitang dan Habib Ali Bungur Jakarta.

Dalam kitabnya tersebut beliau menyebutkan :

فَائِدَةٌ‎

ذَكَرَ بَعْضُ الْعَارِفِيْنَ مِنْ أَهْلِ الْكَشْفِ‎ وَالتَّمْكِيْنِ أَنَّهُ يَنْزِلُ‎ فِيْ كُلِّ سَنَةٍ ثَلَاثُمِائَةِ‎ أَلْفِ بَلِيَّةٍ وَعِشْرُوْنَ‎ أَلْفًا مِنَ الْبَلِيَّاتِ،‎ وَكُلُّ ذَلِكَ فِيْ يَوْمِ الْأَرْبِعَاءِ الْأَخِيْرِ مِنْ صَفَرَ؛ فَيَكُوْنُ‎ ذَلِكَ الْيَوْمُ أَصْعَبَ أَيَّامِ السَّنَةِ؛‎فَمَنْ صَلَّى فِيْ ذَلِكَ الْيَوْمِ أَرْبَعَ‎ رَكَعَاتٍ،‎ يَقْرَأُ فِيْ كُلِّ‎ رَكْعَةٍ مِنْهَا بَعْدَ الْفَاتِحَةِ سُوْرَةَ (إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ) سَبْعَ عَشْرَةَ مَرَّةً‎ وَالْإِخْلَاصِ خَمْسَ مَرَّاتٍ،‎ وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ‎ مَرَّةً مَرَّةً، وَيَدْعُوْ‎بَعْدَ السَّلَامِ‎ بِهَذَا الدُّعَاءِ‎ حَفِظَهُ اللهُ تَعَالَى‎ بِكَرَمِهِ‎ مِنْ جَمِيْعِ‎الْبَلَايَا الَّتِيْ تَنْزِلُ‎ فِيْ ذَلِكَ الْيَوْمِ،‎ وَلَمْ‎ تَحُمْ حَوْلَهُ بَلِيَّةٌ مِنْ تِلْكَ الْبَلَايَا إِلَى تَمَامِ السَّنَةِ‎

 

FAIDAH

Sebagian orang yang ma’rifat dari ahli kasyaf dan tamkin menyebutkan setiap tahun turun 320.000 cobaan. Semuanya itu pada hari Rabu akhir bulan Shafar, maka pada hari itu menjadi sulit-sulitnya hari di tahun tersebut.

Barang siapa shalat pada hari itu 4 rakaat, yang mana setiap satu rakaat sesudah surat Al Fatihah dia membaca:

– Surat Innaa A’thainaakal Kautsar 17 kali

– Surat Al Ikhlash 5 kali

– al Mu’awwidzatain (Surat Al Falaq dan Surat Annaas) masing-masing satu kali

Maka Allah Ta’ala dengan kemurahan-Nya menjaga orang tersebut dari semua bala’ yang turun pada hari itu, dan satu bala’ dari bala’ – bala’ tersebut tidak mengitarinya sampai akhir tahun.

 

“𝘀𝗵𝗼𝗹𝗮𝘁 𝘁𝗲𝗿𝘀𝗲𝗯𝘂𝘁 𝗱𝗶𝗻𝗶𝗮𝘁𝗸𝗮𝗻 𝘀𝗵𝗼𝗹𝗮𝘁 𝗵𝗮𝗷𝗮𝘁 𝗮𝘁𝗮𝘂 𝘀𝗵𝗼𝗹𝗮𝘁 𝗺𝘂𝘁𝗵𝗹𝗮𝗾, 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝘀𝗵𝗼𝗹𝗮𝘁 𝗥𝗮𝗯𝘂 𝘄𝗲𝗸𝗮𝘀𝗮𝗻”

 

Oleh : Roihan Azhari

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.