Pengajian Maulid di MWC NU Kuta Utara; Gus Toha : Pengurus NU Harus Tawadu’ dan Halau Paham Radikal

pwnubali.or.id – Masih dalam suasana Maulid Nabi Muhammad SAW, MWC NU Kuta Utara, Badung, Bali malam ini (30/10) menggelar pengajian memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1443 sekaligus Hari Santri Nasional 22 Oktober 2021 di Masjid Al-Hijrah, Muding, Kerobokan Kaja, Kuta Utara, Badung, Bali.

Hadir dalam acara tersebut, Mustasyar PWNU Bali, KH. Agus Toha Al-Amnan sebagai pengisi mauidhoh Hasanah, Wakil Ketua Tanfidziyah PWNU Bali sekaligus Ketua DMI Kabupaten Badung, H. Agus Hendra, S.E, MM, Ketua MWC NU Kuta Utara beserta jajaranya, jajaran PAC Ansor – Banser dan Pagar Nusa Kuta Utara serta tokoh-tokoh ulama Kuta Utara.

Bacaan Lainnya

Dalam sambutannya, Ketua MWC NU Kuta Utara, Suhendra, mengajak semua umat Islam khususnya jamaah agar menyambut bulan Maulid dengan Gembira.

Dok. Jamaah pengajian Maulid Nabi Muhammad SAW MWC NU Kuta Utara

“Mari kita sambut bulan maulid ini dengan gembira dan menjaga tauladan kita, menyambut kelahiran Rasulullah SAW,” paparnya.

Usai memberikan sambutan, dalam momen tersebut, Suhendra juga secara resmi menyerahkan SK Pengurus Ranting NU yang baru di bentuk.

Wakil Ketua Tanfidziyah PWNU Bali, H. Agus Hendra, S.E, MM, menyampaikan terimakasih dan apresiasi atas terselenggaranya acara tersebut. Menurut pria yang juga sebagai Ketua DMI Kabupaten Badung tersebut, acara ini sekaligus menjadi momen untuk memperkuat silaturahmi antar umat Islam.

“Ini adalah momentum untuk perkuat silaturahmi antar pengurus demi tercapainya tujuan bersama, dan kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh banom NU yang sudah turut serta mensukseskan acara ini,” katanya.

Ir. KH. Agus Toha Al-Amnan dalam mauidhoh hasanahnya menyampaikan pentingnya meneladani Akhlak Rasulullah sebagai uswatun hasanah bagi kita semua. Rasulullah diutus untuk menyempurnakan Akhlak umat manusia.

Dok. Foto bersama personil Ansor-Banser Kuta Utara

Selain itu Gus Toha berpesan khusus kepada pengurus NU agar senantiasa tawaduk, dan takdzim kyai. Menjadi pengurus NU atau tidak kita wajib mengurus NU agar dianggap sebagai santri Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari.

“Pengurus NU dan Ansor harus tawaduk, halau segala paham radikal,” pesannya.

“Pengurus dan mengurusi NU itu beda. Biarpun bukan pengurus tapi mau mengurusi NU insya Allah di anggap santri KH. Hasyim Asyari,” Imbuhnya.

Hingga malam semakin larut, acara berjalan semakin hikmad dan diakhir dengan doa barokah dari Gus Toha. Berharap, acara malam ini menadapat barokah dan syafaat Rasulullah SAW di hari akhir kelak.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.