Membumikan Ratibul Haddad Sukorejo di Pulau Dewata 

PWNUBALI.OR.ID

Setiap pesantren pada umumnya memiliki amalan khusus dan utama yang terus menerus dibaca, termasuk para santrinya ketika di masyarakat disarankan untuk tetap istiqomah mengamalkannya. Salah satu contohnya Ratibul Haddad, amalan yang dimiliki oleh Pondok Pesantren Salafiyah-Syafiiyah, Sukorejo, Situbondo.

Bacaan Lainnya

KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy, Pengasuh ke 4 Ponpes Sukorejo berkeinginan Ratibul Haddad tersebar luas dimasyarakat dengan menjadi amalan rutin seperti baca’an Tahlil. Keinginan tersebut diutarakan oleh Boy Syamsudin, santri Sukorejo yang saat ini tinggal di Bali atau dikenal pulau seribu pura.

“Kiai Azaim berkinganan kuat agar amalan Ratibul Haddad menjadi bacaan rutin yang tersebar luas dimasyarakat, khususnya pulau dewata,” ungkapnya.

Demi mewujudkan keinginan sang guru, Boy panggilan akrabnya, bersama para alumni sukorejo lainnya membentuk sebuah Forum Silaturahim Majelis Dzikir Ratibul Haddad Masyarakat Muslim Bali yang dimulai sejak 2015. Dari sinilah Boy bersama kawan-kawan sesama alumni perlahan-lahan mendekati para alumni, wali santri dan masyarakat umum untuk bergabung dalam Forum Silaturahim Majelis Dzikir Ratibul Haddad Masyarakat Muslim Bali. Atas semangat dan kegigihannya serta do’a sang guru, saat ini Ratibul Haddad telah tersebar di 115 titik diseluruh Kab/Kota se Bali dengan kisaran 3.000 jama’ah/pengikut.

Salah satu tujuan menggelorakan Ratibul Haddad yakni membentengi Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dari gerakan-gerakan yang akan merusak paham Ahlus Sunnah Wal Jama’ah An-Nadliyah. Apa itu paham Aswaja An Nahdliyah? Yakni paham Islam yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai ke Indonesiaan. Sebab Pengasuh ke 2 Ponpes Sukorejo, KHR. As’ad Syamsul Arifin adalah Kiai Pejuang kemerdekaan yang saat ini dianugrahi Pahlawan Nasional.

Sedangkan Keistimewan Ratibul Haddad sendiri jika dibaca istiqomah dapat menumpas kemaksiatan dan kemungkuran. Seperti yang dikisahkan oleh KHR. Azaim, bahwa Kiai As’ad kala itu berjuang di Kab. Jember masa penjajahan Jepang, membuat tentara Jepang ketakutan saat digebrak meja yang terbuat dari kayu tebal 5 senti meter oleh Kiai As’ad menjadi hancur. Sebelumnya, Kiai As’ad melakukan Riyadlah Ratibul Haddad dari malam sampai menjelang Shalat Subuh.

Cerita lainnya dari Kiai Azaim, hikmah Ratibul Haddad terjadi pada para santrinya ketika di masyarakat. Seperti santri yang ada di Kab. Lumajang, istiqomah membaca Ratibul Haddad dapat menutup tempat prostitusi. Begitupun yang terjadi pada santrinya di Sumenep Madura, pelantara Ratibul Haddad dapat menumpas aliran-aliran aqidah sesat.

Seperti yang telah diungkap di atas, Ratibul Haddad di Bali telah mencaipai 115 titik yang tersebar disekian Kabupaten/Kota se Bali. Menyampaikan pesan Kiai Azaim, bahwa Majelis Ratibul Haddad terbuka luas untuk masyarakat yang ingin bergabung.

“Oleh sebab itu, atas nama santrinya Kiai Syamsul Arifin, Kiai As’ad Syamsul Arifin, Kiai Ahmad Fawaid dan Kiai Ahmad Azaim, saya mengajak kepada masyarakat Muslim Bali untuk bersama-sama membumikan Ratibul Haddad di Pulau Dewata yang bertujuan memperkuat paham Aswaja An-Nahdliyah dan sebagai benteng/pagar untuk diri sendiri dan bangsa dan negara,” ajaknya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.