Tradisi Aswaja di Kampung Muslim Gelgel Klungkung Bali

Dok. Kegiatan Hataman Al-Qur'an di Kampung Muslim Gel-gel

PWNUBALI.OR.ID | Klungkung – Pulau Bali memang menarik, tak ada hentinya untuk di perbincangkan dari keadaan alamnya yang sangat indah, keragaman sukunya sangat beragam, bahkan yang lebih menarik lagi acara tradisi yang sangat kental turun temurun, salah satunya di Kampung Muslim Gelgel Klungkung yaitu Hataman Al-Qur’an. Sekilas nampak tidak ada istimewanya dengan acara tersebut mengingat di beberapa daerah di Indonesia juga banyak kegiatan yang serupa. “Namun jika di telisik lebih dalam lagi, maka beberapa hal membuatnya terasa berbeda,” begitulah yang disampaikan salah satu Pemuda Asal Klungkung, Ganang Adi Sunomo yang mengikuti acara Hataman Al-Qur’an dengan hikmad.

Acara Hataman Alqur’an di Kampung Gelgel Klungkung tersebut dilaksanakan setiap sepuluh hari sekali di malam bulan Ramadhan. Senin malam (11/4) kemarin merupakan acara Hataman Alqur’an sepuluh hari yang pertama. Dalam kesempatan tersebut berkumpul semua Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat serta warga Gelgel yang juga antusias mengikuti acara tersebut. Total sekitar lebih dari 200 orang hadir dan memeriahkan acara Hataman Al-Qur’an tersebut.

Bacaan Lainnya
Dok. Kegiatan Hataman Al-Qur’an di Kampung Muslim Gel-gel

Acara Hataman Alquran dilakukan dengan metode berjamaah dan dibagi perkelompok saling bersahutan membaca surat yang berbeda-beda sehingga bisa di selesaikan dalam waktu 3 jam. Setelah selesai baca Alqur’an dari awal sampai ahir di lanjutkan dengan membaca surat-surat pendek yang di pimpin salah satu tokoh Gelgel H.Mahyudin dan dilanjutkan dengan do’a serta membaca nadhom Aqidatul awwam sebuah kitab yang menjelaskan tentang sifat 20 bagi Allah.

“Ini tauhid Imam asy’ariyah yang menjadi pelajaran wajib di sekolah-sekolah Aswaja, makanya saya menyebutnya Berkah Istimewa dari Tradisi Aswaja,” imbuh Pria yang aktif sebagai Wakil Ketua PC Ansor Klungkung tersebut.

Sahabat Sunomo menambahkan nahwa kegiatan-kegiatan tersebut merupakan salah satu tradisi yang harus dilestarikan oleh Jamiyyah maupun Jamaah Nahdlatul Ulama. Melalui kegiatan ini pula menjadi salah satu bentuk kaderisasi generasi-generasi NU yang akan melanjutkan estafet melestarikan Islam Ahlu sunah Waljamaah An-Nahdliyah serta Islam Nusantara yang rahmatan lil alamin.

Hadir dalam acara tersebut, Bapak Sahidin perbekel Kampung Muslim Gelgel, H. Nashrullah, Bapak Hairum, H. Mahyudin dan banyak tokoh-tokoh yang lain di wilayah Kampung Gelgel, Klungkung, Bali.

Acara ini sepenuhnya di biayai oleh warga setempat dengan penuh iklas dan kekompakan. Setiap warga membawa satu SAGI [nasi lengkap dengan lauk pauk di atas nampan untuk makan lima orang], ini yang dinamakan tradisi MEGIBUNG [tradisi makan bersama-sama dalam satu nampan]. Tradisi Megibung sudah turun temurun sebagai simbol kerukunan kebersamaan persaudaraan dan persatuan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses