pwnubali.or.id | Karangasem – Sebagai salah satu Badan Semi Otonom NU yang paling sering di ‘serang’ di sosial media, Banser harus terus berbenah diri dan terus aktif di dunia maya. Tidak dipungkiri bahwa dalam kehidupan sosial bermasyarat, kehadiran Banser sangat membantu dan dekat dengan masyarakat. Namun di sosial media, Banser selalu menjadi sasaran tembak bagi oknum-oknum yang menaruh kebencian terhadap NU.
“Banser merupakan bagian dari NU yang paling sering mendapat bullying di sosial media. Caci maki dan hujatan terhadap Banser di sosial media gencar dilakukan oleh oknum-oknum yang tidak suka terhadap NU. Maka dari itu kita perlu belajar bersama bagaimana mencounter tindakan mereka yang tidak jarang juga menhina ulama-ulama kita,” papar Ketua PW LTNNU Bali, Muhammad Muhlisin saat memberikan materi tentang sosial media dalam kegiatan SUSBALAN I Satkorwil Banser Provinsi Bali (29/1).

Bertempat di Villa Taman Surgawi, LTN NU Bali diberikan kesempatan untuk menyampaikan materi tentang Teknik Pemanfaatan Sosial Media sebagai bekal untuk peserta Susbalan dalam berselancar di sosial media. Penting diketahui bagaimana mengelola sosial media yang baik dan bermanfaat, mengulas dampak positif dan negatif serta bagaimana menangkal berita hoax yang terus bertebaran di sosial media.
“Sosial media itu ibadah jariah. Jika kita gunakan sosial media untuk kebaikan maka pahalanya akan terus mengalir sampai liang lahat. Tapi jika kita gunakan sosial media untuk keburukan atau kebohongan maka dosanya akan terus mengalir pula,” kata Pria yang akrab disapa Kang Muh tersebut.

Kang Muh mengajak segenap anggota Banser untuk terus aktif berjihad di sosial media. Menjadi cyber dalam meng-counter berita miring atau hoax yang menyudutkan NU.
“Kita kawal Ulama kita tidak hanya di dunia nyata, namun juga dunia maya. Kita gunakan sosial media kita dengan bijak dan dahwah Nahdlatul Ulama,” tandasnya.








