Asy’ari Mushlih; Pagar Nusa Adalah Organisasi Bersifat Komando

404
Ketua PW PSNU Pagar Nusa Bali Asy'ari Mushlih (paling kiri)

PWNUBALI.OR.ID | GIANYAR 

Dalam wawancara khusus pada Ujian Kenaikan Tingkat (UKT) PSNU Pagar Nusa Kabupaten Gianyar Tahun 2020. Ahad (13/12), di Sekretariat MWC NU Blahbatuh. Ketua Pimpinan Wilayah Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa Provinsi Bali (PW PSNU PN) Asy’ari Mushlih menyampaikan beberapa hal, khususnya kepada insan pesilat NU Pagar Nusa yang berada di Provinsi Bali.

Pagar Nusa tidak terlepas dari namanya yaitu Pagar NU dan Bangsa. NU bukan hanya organisasi, tetapi juga Ulama, Kyai, pengurus, ilmu, faham dan lembaga. Sedangkan bangsa isinya adalah masyarakat, manusia, dan kemanusiaan.

“Kita diajarkan untuk bisa membentengi dua hal tersebut dalam bingkai NKRI, jelas pria yang aktif di FKUB Kota Denpasar.

Dengan adanya Pagar Nusa, diharapkan para santri, pengurus dan pendekar bisa membawa amanah besar ini. Tentu hal ini tidak bisa langsung dilakukan secara spontan. Harus diawali dari tahap dasar.

“Penguatan juga bukan hanya pada aspek jasmani, tapi juga kerohanian. Termasuk diantaranya doktrin Alhlussunah wal Jamaah an-Nahdliyyah, papar Asy’ari yang adalah juga Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Denpasar tersebut.

Lebih lanjut Asy’ari menjelaskan bahwa, Ahlussunah wal Jama’ah (Aswaja) bisa diperkuat dengan adanya Pagar Nusa itu sendiri dengan tetap berpegang pada azas Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyyah. Pertama, at-tawassuth atau sikap tengah-tengah, sedang-sedang, tidak ekstrim kiri ataupun ekstrim kanan. Kedua at-tawazun atau seimbang dalam segala hal. Al-i’tidal atau tegak lurus dan tasamuh atau toleransi.

Kepada para pengurus, Alumni Ponpes Nurul Jadid Probolinggo ini juga berpesan. “Kita ini organisasi yang bersifat komando. Tetaplah menjunjung tinggi musyawarah. Dan tetap patuh pada aturan yang telah ditetapkan oleh pusat. Pagar Nusa bukan perguruan silat, tapi organisasi pencak silat yang menaungi berbagai macam aliran yang ada.”

Dia berharap agar para pengurus dan anggota bisa memajukan, mengembangkan dan melestarikan.

Kadang kala orang bisa memajukan tapi belum bisa mengembangkan. Adapula yang bisa mengembangkan namun tidak bisa melestarikan.

“Sehingga istiqomah dalam mengemban tanggung jawab adalah hal yang paling utama,” pungkas pria yang juga pendiri Bali Muallaf Center ini.

Penulis: Agus Surya
Editor: Dadie W. Prasetyoadi

TINGGALKAN KOMENTAR

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.