Kiai Musleh: Menerjemahkan Al Qur’an Sebenarnya Tidak Sesulit yang Dibayangkan

PWNUBALI.OR.ID | DENPASAR

Memanfaatkan kunjungan wisata KH. Musleh beserta keluarga dari Lumajang di Bali, PWNU Bali melalui Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) mengadakan sosialisasi Program Terjemah Al Qur’an ala pesantren.

Program yang telah diterapkan di berbagai pesantren-pesantren besar di lingkup PWNU Jatim seperti PP Nurul Jadid Paiton tersebut sebenarnya di Bali sudah berjalan sekitar 10 tahun lalu. Hanya saja lebih banyak dibawa ke kantor-kantor pemerintah untuk mempermudah pegawainya yang beragama Islam belajar dan menerjemahkan al Qur’an, seperti di Bank Indonesia (BI) dan Polda Bali.

Menurut Kiai Musleh, program metode percepatan belajar terjemah al Qur’an ini dapat memangkas waktu belajar membaca dan menerjemahkan al Qur’an lengkap dengan nahwu shorofnya (kaedah gramatika bahasa Arab)

“Metode ini memungkinkan mengajarkan kepada anak-anak menerjemahkan satu juz al Quran selama satu bulan, sehingga idealnya dalam tujuh bulan sudah tujuh juz. Dalam jangka waktu tersebut anak-anak insyaallah akan mampu menerjemahkan al Qur’an secara tekstual berikut gramatik dan sastranya,” jelas Kiai Musleh.

Sosialisasi yang diadakan Minggu malam (22/12) tersebut diberikan kepada para ustadz anggota LDNU Bali termasuk dari PCNU Kota Denpasar dan PCNU Badung. Selain mereka, turut hadir pula beberapa kader IPNU dan IPPNU serta mahasiswa ISTNUBA yang dalam kesehariannya juga mengajar di berbagai TPQ di sekitar daerah tempat tinggal masing-masing.

Lebih lanjut Kiai Musleh menyampaikan tujuan program ini, yaitu agar fungsi-al Qur’an seperti yang selama ini diketahui bersama dapat terwujud.

“Lalu bagaimana al Qur’an dapat berfungsi sebagaimana mestinya dalam kehidupan kita, jika kita tidak mampu memahaminya dengan baik dan benar? Karena definisi fungsi itu adalah sesuatu yang didapat setelah membacanya” tegasnya.

Kemudian Kiai Musleh secara singkat menjelaskan bahwa jumlah kosa kata dalam al Qur’an semuanya ada 77.400. termasuk jauh lebih sedikit dibandingkan yang ada dalam kamus Bahasa Indonesia anak-anak SMA

“Itupun banyak kosa kata yang diulang dalam al Qur’an yang hingga ditotal lebih lanjut hanya tersisa 15.000 kosa kata saja, ini fakta yang membuktikan bahwa belajar menerjemahkan al Qur’an sebenarnya tidak sesulit yang dibayangkan,” tambahnya.

Harapan Kiai Musleh kepada para ustadz yang tergabung dalam LDNU Bali ini adalah bagaimana nantinya dapat melaksanakan Training of Trainer (TOT) secara berkala agar kemudian dapat diterapkan kepada para santrinya di TPQ/sekolah masing-masing.

Reporter: Dadie W. Prasetyoadi
Foto: Taufiq Maulana

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.