Antara Tradisi, Budaya dan Toleransi dalam Pentas Seni Pergamanas II

PWNUBALI.OR.ID – Kamis (21/2) sore itu Siswa/i Kontingen Bali dibawa ke lapangan. Lalu mereka dirias untuk persiapan menampilkan Bakat Pentas Seni yang sudah dilatih sebelumnya di Bali.

Bali mendapat urutan tampil nomer 7 sekaligus jadi penutup pada Pentas Seni di malam itu.

Bacaan Lainnya

Mereka menampilkan Pentas Seni Drama tentang perang Puputan Badung.

Ini adalah pertama kalinya ada sejarah Rakyat Bali yang ditunjukan pada Pentas Seni baik pada Pergamanas I atau II, ditambah lagi dengan kolaborasi gerakan Simapur yang diiringi Musik Bali dan Tarian Kecak yang menjadi Khas dari Bali.

Sebelum mereka tampil, banyak para peserta dari kontingen daerah lain yang mengajak mereka foto bareng karena kostum dan peralatan pentasnya semua khas dari bali, itulah yg membuat daya tarik para peserta lainya ingin berfoto bersama.

Sebagaimana Para Kyai NU mengajarkan kita Bahwa nilai toleransi beragama sangatlah penting, oleh karena itu kita harus merawat serta melestarikan tradisi dan budaya daerah dimana kita berada.

Perang Puputan Badung ini adalah perjuangan Umat Hindu di Bali.

Seperti yang sudah di bahas di laman sebelumnya bahwa “Puputan Badung” ini meceritakan tentang pertempuran seorang Raja Pemecutan yang bernama Raja Gusti Ngurah Alit Jambe Pemecutan melawan Kolonial Belanda demi membela Rakyat, Nusa dan Bangsa.

Dan setelah tampil di panggung pentas seni, Tuan rumah yaitu Kontingen Jawa Barat dan Panitia Pergamanas II juga tidak mau ketinggalan untuk mengabadikan foto bersama dengan Kontingen Bali.

(Ris/Jim)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

1 Komentar

  1. Masyaa’ ALLAH….. Amazing, mantaff sukses untuk semua para ustadz dan ustadzah juga para siswa siswi MTs Al Ma’arif Kab Badung – Bali