pwnubali.or.id
Buleleng – Dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-80, Pengurus Nahdlatul Ulama Ranting Pengastulan mengadakan serangkaian acara, yang terdiri dari pawai dan ruwahan masyayikh, syuhada’, dan pejuang kemerdekaan di Desa Pengastulan, Sabtu (16/05/2025).
Acara dimulai dengan pawai, yang diikuti oleh seluruh pengurus banom Nahdlatul Ulama di Desa Pengastulan, Lembaga Taman Pendidikan al-Qur’an, dan Majlis Taklim. Pawai dibuka dengan pembacaan al-Fatihah oleh Mahmud Wilmar Shiddiq, Ketua Tanfidziyah NU Ranting Pengastulan. Adapun rute pawai, dimulai dari depan Masjid Jami’ as-Shalihin, lalu berkeliling Banjar Dinas Kauman, dan berakhir di tempat semula. Seluruh peserta pawai bersorak menyanyikan lagu nasional sambil mengibarkan bendera merah putih yang berukuran kecil.
Setelah lelah berkeliling, seluruh santri dari berbagai Taman Pendidikan al-Qur’an berkumpul untuk mengikuti kuis dari panitia. Peserta yang bisa menjawab pertanyaan dari panitia, diberikan hadiah langsung berupa uang tunai. Ada banyak pertanyaan yang diberikan dalam kuis ini. Pertanyaan tersebut meliputi pengetahuan tentang pendidikan kewarganegaraan. Kuis usai saat menjelang waktu maghrib.
Acara dilanjutkan kembali pada pukul 20.30 Wita. Pada malam kemerdekaan itu, masyarakat Banjar Dinas Kauman yang hadir pada acara itu khidmat mengikuti ruwahan. Acara ruwahan diawali dengan pembacaan manaqib atau sejarah perjuangan para masyayikh dan pejuang kemerdekaan di Desa Pengastulan. Manaqib ini disampaikan oleh Haji Anis, tokoh masyarakat di desa ini.
Dalam penyampaian manaqib, Haji Anis membaginya menjadi tiga sesi. Sesi pertama tentang para pahlawan kemerdekaan Indonesia dan kiprahnya di Desa Pengastulan. Sesi kedua tentang kiprah tokoh agama atau Tuan Guru di Desa Pengastulan, beserta sanad keilmuannya. Dan sesi terakhir tentang sejarah pemerintah Desa Pengastulan Muslim.
Ada banyak pejuang kemerdekaan Indonesia di Desa Pengastulan yang disebutkan oleh Haji Anis saat penyampaian manaqib sesi pertama. Diantaranya Kopral Najimuddin, Kopral Moh. Djubad, M. Wasik, Hamdan, Muhammad Hatib, Muhammad Ma’mun, Sanusi, Muhammad Ali Salimi.
Pada sesi kedua, yakni tentang kiprah para toko agama atau Tuan Guru di Desa Pengastulan, Haji Anis menyampaikan bahwa dulu Pengastulan adalah kiblat keilmuan Islam di Bali.
Banyak orang dari berbagai daerah yang menimba ilmu di Pengastulan. Pasalnya, menurut Haji Anis, Tuan Guru di sini memiliki sanad keilmuan yang jelas. Bahkan, konon di antara Tuan Guru tersebut ada yang pernah berguru langsung kepada Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki, sosok ulama besar yang masyhur di kalangan Ahlussunnah wal Jamaah.
Pada sesi terakhir, toko masyarakat yang pernah menjabat sebagai sekretaris Desa Pengastulan itu menerangkan orang-orang Muslim yang pernah menjadi perangkat desa, baik saat masih menjadi Perbekel Muslim, maupun setelah Perbekel bergabung dengan umat Hindu.
Setelah pembacaan manaqib selesai, acara dilanjutkan dengan pembacaan surat yasin, lalu tahlil, dan dipungkas dengan do’a.
Penulis: A. Hirzan Anwari








