Muskerwil III PWNU Bali: Evaluasi Kinerja dan Rumuskan Strategi Pengembangan Usaha Hingga Klinik

pwnubali.or.id

Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Bali menggelar Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) III pada 27 Juli 2025 di Hotel Nirmala Denpasar. Acara ini merupakan forum kerja tahunan yang bertujuan untuk mengevaluasi kinerja kepengurusan sebelumnya dan merumuskan program kerja baru. Muskerwil kali ini mengusung tema “Digdaya Nahdatul Ulama, Meneguhkan Peran, Menata Peradaban Nusantara.”

Bacaan Lainnya

Acara ini dihadiri oleh Ketua PWNU Bali, KH. Abdul Azis, dan Rais Syuriah PWNU Bali, K.H. Nurhadi Al Hafidz beserta jajaran, Seluruh perwakilan PCNU, Banom dan Lembaga PWNU provinsi Bali. Kehadiran Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Yahya Cholil Staquf, bersama rombongan menjadi momen istimewa. Selain itu, Gede Suralaga, S.IP, M.SI hadir mewakili Gubernur Bali untuk memberikan sambutan.

Muskerwil ini memiliki arti penting karena diselenggarakan menjelang akhir masa kepengurusan 2020-2025, yang akan berakhir pada November mendatang. KH. Abdul Azis dalam sambutannya menjelaskan bahwa “acara ini menjadi sarana evaluasi dan pemantapan arah organisasi. Tujuannya adalah untuk memastikan PWNU Bali tetap relevan dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, sejalan dengan program-program nasional PBNU,” paparnya.

Dalam sambutannya, H. Abdul Azis juga memaparkan sejumlah rencana pengembangan strategis. Di antaranya adalah pembentukan badan usaha dan inisiasi pembangunan klinik, yang diharapkan dapat berkembang menjadi rumah sakit.

“Langkah ini merupakan upaya untuk meningkatkan kemandirian ekonomi dan pelayanan kepada umat, mohon arahan dari KH. Yahya Cholil Staquf untuk memperkuat eksistensi dan peran NU di Bali, khususnya dalam menjaga kerukunan antarumat beragama di pulau tersebut,” tandasnya.

Kepala Kesbangpol Provinsi Bali, Gede Suralaga mewakili Gubernur Bali menyampaikan permohonan maaf dari Gubernur yang berhalangan hadir karena agenda lain. Dalam sambutannya, ia memuji kontribusi nyata NU di Bali dalam merawat toleransi, memperkuat nilai-nilai moderasi beragama, dan menjaga ketertiban sosial.

“NU, yang lahir sebagai kekuatan moderat dan penyejuk, telah tumbuh menjadi kekuatan sosial dan budaya yang konsisten menjunjung tinggi nilai-nilai luhur,” katanya.

Lebih lanjut, Gede Suralaga mengaitkan tema Muskerwil, yaitu “Digdaya Nahdatul Ulama, Meneguhkan Peran, Menata Peradaban Nusantara,” sejalan dengan visi pembangunan Bali “Nangun Sat Kerthi Loka Bali”. Ia menjelaskan bahwa visi tersebut adalah rencana pembangunan holistik yang berlandaskan enam sumber kemakmuran dan kebahagiaan, dan kegiatan NU di Bali dianggap selaras dengan setiap prinsip tersebut.

Gede Suralaga menutup sambutannya dengan secara resmi membuka Muskerwil dan berharap acara ini menjadi momentum penting yang semakin menguatkan tekad NU untuk terus berkontribusi bagi kemajuan Bali dan Indonesia secara keseluruhan.

Rois Syuriyah PWNNU Bali KH. Noor Hadi dalam kesempatan tersebut menekankan pentingnya program kaderisasi yang dijalankan PBNU, yaitu mewajibkan setiap pengurus NU, dari pusat hingga ke akar rumput, untuk memiliki sertifikat pendidikan dasar. Langkah ini diambil agar pengurus tidak hanya menjadi anggota “atas nama”, tetapi benar-benar memahami dan menghayati nilai-nilai Nahdlatul Ulama. Ia juga memuji revitalisasi organisasi yang dilakukan di bawah kepemimpinan K.H. Yahya Cholil Staquf.

Beliau berharap PWNU Bali dapat menjadi kekuatan utama yang mampu menampung aspirasi dan melayani kebutuhan umat Muslim di sana. K.H. Noor Hadi juga menyampaikan harapan agar pemerintah daerah memberikan perhatian lebih kepada komunitas NU di Bali, bahkan dalam hal-hal kecil, demi kemaslahatan bersama.

Ketua Umum PBNU, KH. Yahya Cholil Staquf, dalam sambutannya menegaskan bahwa NU akan selalu menjadi garda terdepan dalam menjaga keutuhan bangsa.

“NU memiliki peran penting untuk melindungi integritas bangsa, terutama di saat krisis. Hal ini sesuai dengan landasan organisasi yang berpegang teguh pada ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah. Ia menekankan bahwa menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Pancasila adalah tugas suci bagi seluruh warga NU, karena bangsa ini lahir dari kesepakatan tulus semua elemen bangsa,” tegasnya.

KH. Yahya Cholil Staquf juga mendorong seluruh pengurus dan anggota NU untuk menghindari konflik internal dan perpecahan. Ia mengingatkan kembali pesan pendiri NU, KH. Muhammad Hasyim Asy’ari, untuk bergabung dengan NU dengan cinta, persatuan, dan hubungan spiritual (ittisal bil arwah). Untuk mempererat hubungan spiritual ini, ia bahkan menyarankan agar warga NU rutin mendoakan dan membacakan Al-Fatihah satu sama lain.

Terkait konsolidasi organisasi, beliau memaparkan rencana strategis PBNU yang berfokus pada reposisi dan konsolidasi tiga area: tata kelola, sumber daya manusia, dan sumber daya finansial. Ia juga mengumumkan pengembangan platform digital bernama “Digdaya” (Digital, Data, dan Layanan NU) dan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk mempermudah manajemen organisasi di seluruh tingkatan.

Acara pembukaan Muskerwil III PWNU Bali ditutup dengan doa yang dipimpin oleh KH. Masrur Makmur, M.Pd.I. Dilanjutkan dengan sidang komisi yang dipimpin oleh H. Syamsul Hadi, SAg, MA. dan H. Nasihuddin, S.H.I hinga ditutup pukul 16.00 dengan beberapa rekomendasi yang telah disepakai peserta sidang.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses