pwnubali.or.id
Denpasar, 12 Januari 2025 — Di awal tahun 2025, Rapat perdana PWNU Bali benar-benar top trending, meskipun bukan karena hashtag-nya yang viral, melainkan karena membahas dua agenda super penting yang sepertinya nggak bakal masuk ke timeline Instagram siapapun: Harla NU ke-102 dan Musyawarah Kerja (Musker) yang keduanya sama-sama butuh touch up biar nggak kalah hits sama acara TikTok atau #BaliBangkit.
Dimulai dengan semangat yang bisa dibilang “goyang sedikit, terus berhenti” (karena masalah mic bergoyang suara dentumannya mengagetkan jadi sport jantung). Rapat diawali dengan pernyataan serius dari Wakil Rais Syuriah KH Mahrusun, bagaimana jamiyah kita tetap dikenal dan dicintai oleh masyarakat, tegas beliau. Namun di sambutan kedua oleh Ketua Tanfidiyah PWNU Bali (KH Abd. Aziz, S.Pd) yang memakai baju kebesaran dominan warna hijau, sambutannya sangat heroik “Sebenarnya semua pengurus ini mersakan pengabdian tanpa batas, siapa tahu dari pengabdian ini menjadi amal buat bekal di ahirat nannti” tuturnya.
Sambutan ketua Tanfidiyah ini sangat tertata rapi memberikan fokus pada dua pembahasan ; Harla NU ke-102 harus meriah, dan Terlaksananya Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) yang ke tiga PWNU Bali masa khidmat 2020-2025. Ini momen besar!” Tentu saja, Salah satu pengurus dengan enteng mengatakan, “Iya, Harla 102 itu penting, tapi jangan lupa, kita juga harus selfie dengan backdrop Harla yang kece.”
Setelah beberapa detik canggung dan tertundanya pembahasan karena beberapa peserta masih sibuk ngecek filter IG Story, Ketua Tanfidiyah sambil membuka ruang diskusi. Mengawali usulan rapat Yai Samsul Hadi punya dua usulan, Bagaimana kalau Muskerwil dilaksanakan setelah pelantikan Gubernur dan Bagaimana jika Harlah 102 NU dikaitkan dengan momentum Isra’ wal Mi’raj kegiatannya di masing-masing lembaga ?
Dilanjutkan pak Yunus sebagai usulan bagaiman jika diadakan kegiatan sosial berkolaborasi Laziznu car dangan Baznas Provinsi?Suasana masih hangat, Dr KH Abusiri M.Pd.I yang terkenal dengan Kabid Bimas Islam dengan percaya diri mengusulkan, tempat dulu di tentukan karena sekarang musim hujan dan siapa pencermahnya, sambil mengamini muskerwil di tunda dan kolaborasi kegiatan sosial. Tak berhenti di sini usulan ke empat Yai Khairan menyampaikan bagaimana jika kegiatan di masing-masing lembaga di cantolkan untuk acara Harla NU dan kalau sudah disepakati kik offnya kapan !
Pengurus yang ikut rapat ternyata kritis, tak mau kalau juga dengan semangat hiroiknya yai Bagas mengusulkan bagaimana jika kegiatan Muskerwil dan Harlah di pisah. Kalau faktanya NU ini besar bagaimana jika kegiatan ini dilaksanakan ditempat terbuka pada bulan Februari karena bertepatan hari Valentine, ucapnya.
Usulan sudah banyak namun ketua tanfidiyah masih memberikan kesempatan lagi, pak Sulaimi angkat tangan, lebih baik dibentuk panitia dulu, disambung oleh yai Saifuddin Aziz agar Harlah meriah ayo para pelaku usaha berilah diskon besar-besaran sampai 99% untuk Harlah.
Sebagai usulan penutup saya juga usul untuk melibatkan kegiatan ISTNUBA CUP untuk meramaikan Harla NU.
Di akhir rapat, ketika semua ide telah disampaikan, akhirnya disepakati bahwa
1. Kegiatan Muskerwil dan Harlah di pisah
2. Ketua Panitia Harlah NU diberikan amanah kepada DR. KH. Mahmud, M.Pd., sebagai Ketua dan Sekretaris DR. Sudarsono M.Pd.I., Bemdahara Usmantoro, S.H.
3. Pelaksanaan Harlah 102 NU PWNU Bali akan dilaksanakan pada ahir bulan Februari dan Muskerwil pada bulan Maret.
Harla NU ke-102 PWNU Bali akan diisi dengan acara klasik seperti pengajian dan doa bersama. Namun, tentu saja, mereka berjanji akan ada twist—sebuah twist yang cukup dramatis, yaitu: “Kita akan bikin video teaser Harla yang kekinian! Biar viral! Tapi tanpa TikTok, ya!”
Sebelum rapat berakhir, Ketua PWNU Bali mengingatkan agar semua pengurus tetap fokus pada agenda dan tak hanya sekadar mengejar sensasi. “Harla ini adalah tentang menghormati sejarah, dan Musker ini tentang perencanaan yang matang. Jangan sampai kita jadi seperti selebgram yang cuma pandai jualan, tapi lupa dengan isinya.”
Ketika rapat akhirnya selesai, peserta pun bergegas pulang, bukan tanpa sedikit rasa bingung tentang apa yang baru saja dibahas. Apakah Harla NU ke-102 ini akan benar-benar menciptakan perubahan yang berarti? Atau hanya sekadar acara retro dengan tambahan backdrop yang Instagrammable? Yang jelas, mereka akan tetap berusaha untuk mengubah rapat-rapat kedepan agar tidak hanya membahas makan siang, tapi juga bisa sedikit lebih hits.
Tunggu saja, bisa jadi Harla NU ke-102 di Bali nanti bukan cuma soal doa dan dzikir, tetapi juga soal bagaimana membranding acara dengan hashtag yang bikin orang #baper.
#F_al#








