Ajarkan Moderasi Beragama Sejak Dini, Tim Wasatiyah MTsN 7 Kediri Gelar Dialog Bersama PWNU Bali

PWNUBALI.OR.ID | Badung – Moderasi Beragama menjadi topik yang terus digaungkan oleh Menteri Agama RI. Pasalnya peran moderasi beragama sangat vital dalam menjaga kebhinekaan Nusantara.

Pentingnya moderasi beragama mulai diajarkan sejak dini. Hal tersebut sebagaimana yang dilakukan oleh Tim Wasatiyah MTsN 7 Kediri, Jawa Timur saat menggelar studi tour di Bali.

Bacaan Lainnya
Dok. Dialog Moderasi Beragama MTsN 7 Kediri bersama PWNU Bali

Melalui Kepala MTsN 7 Kediri, Abbas Sofwan, S.Pd, M.Pd.I menyampaikan bahwa pihaknya ingin mengetahui langsung bagaimana moderasi beragama di Bali, sehingga Bali terkenal dengan keharmonisan antar umat beragama yang tinggi.

“Kegiatan ini tentunya untuk memberikan wawasan kepada anak didik kami untuk mengetahui bagaimana moderasi beragama yang ada di Bali,” paparnya saat memberikan sambutan.

Kepala Madrasah berharap dengan hadirnya PWNU Bali sebagai narasumber dapat memberikan gambaran bagaimana menjaga toleransi yang ada di Bali.

Dok. Dialog Moderasi Beragama MTsN 7 Kediri bersama PWNU Bali

Drs. Saifuddin Azis, Wakil Ketua PWNU Bali sebagai narasumber pertama memaparkan tentang bagaimana peran NU selama ini dalam menjaga kebersamaan. Menurutnya toleransi itu sudah menjadi makanan sehari-hari bagi masyarakat di Bali sehingga keharmonisan antar umat beragama dapat terjaga dari dulu hingga saat ini.

“NU mengajarkan Wasatiyah yaitu ditengah-tengah, tidak terlalu condong kanan atau kiri. hal itulah menjadi salah satu kunci bagaimana menerapkan moderasi beragama di Bali,” paparnya.

Sementara narasumber selanjutnya yaitu Ketua PW LTNNU Bali, Muhammad Muhlisin, S.Pd.I dalam materinya menyampaikan indikator moderasi beragama.

Dok. Dialog Moderasi Beragama MTsN 7 Kediri bersama PWNU Bali

Menurutnya ada empat indikator moderasi beragama yaitu, komitmen kebangsaan, toleransi, anti kekerasan dan akomodatif terhadap budaya lokal.

“Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Kita tahu bahwa budaya adat istiadat disetiap daerah berbeda. Maka dimanapun berada kita harus bisa menerima dan menghargai budaya lokal yang ada di daerah tersebut,” kata pria yang juga penyuluh Agama Islam kota Denpasar tersebut.

Berbicara pulau Bali memang tidak akan ada habisnya. Tempat yang terkenal dengan seribu pura dihuni berbagai macam suku budaya yang berbeda-beda. Sehingga Bali juga disebut tanah multietnis dan multikultural.

“Menjaga toleransi sudah menjadi tanggung jawab kita semua. Mulai dari hal kecil, diri sendiri, lingkungan hingga toleransi antar umat beragama. Meski kita tidak saudara seiman tapi kita adalah saudara sesama manusia dan saudara sebangsa setanah air,” tandasnya.

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.