Tiga Karakter Penuntut Ilmu, Hindari Golongan Ketiga

pwnubali.or.id – Arti kata ilmu menurut bahasa berasal dari bahasa arab (علم), bahasa latin (sciense) yang berarti tahu atau mengetahui atau memahami. Sedangkan menurut istilah ilmu adalah pengetahuan yang sistematis atau ilmiah. Dalam menuntut ilmu terbagi atas tiga keadaan yakni diantaranya :

1.Orang yang menuntut ilmu untuk menjadikannya sebagai bekal menuju negeri          kembali atau negeri akhirat, orang ini termasuk orang-orang yang beruntung dan selamat dari siksa Allah ta’ala dan serta direkatkan dengan amal amal kebaikan.

Lalu apakah bagian pertama ini memiliki tanda-tanda dalam amalan kesehariannya, atau mungkin para ulama mutaqoddimin pernah menyimpulkan hal ihwalnya sehingga bisa kita jadikan stimulus atau rangsangan untuk bisa kita amalkan.

Maka dalam kitab Muraqil ‘Ubudiyyah Syarah kitab Bidayatul Hidayah Imam Al Ghazali menuturkan, ada 3 tanda bagi orang yang ‘Aalimul Akhirat di antaranya:

  • Tidak mencari dunia dengan ilmu.
  • Keadaan tujuan menuntut ilmunya dengan menyibukkan diri dengan ilmu-ilmu guna meraih kebahagiaan akhirat.
  • Dengan ilmunya ia gunakan untuk mengikuti pemilik syari’at Nabi Muhammad.

2. Dari bentuk karakter dan tujuan para penuntut ilmu adalah dengan ilmu tersebut dapat membantu untuk kesejahteraan hidupnya didunia serta mampu meraih akan keagungan, kehormatan dan harta.

Maka pada bagian yang kedua ini, mencari dunia dengan bermodal ilmu syari’at termasuk orang-orang yang membahayakan dirinya, lalu jika telah tiba ajal baginya dihawatirkan menjadi orang yang Su’ul Khotimah (penghabisan usia yang buruk) karena dengan keadaan tersebut masih akan berlaku pertaruhan kehendak bagi Allah ta’ala, jika ia diberi pertolongan untuk bertaubat sebelum tiba ajalnya, maka jadilah ia termasuk orang-orang yang beruntung.

3. Penuntut ilmu adalah orang yang dikuasi oleh hawa nafsu dan syaitan. Dalam hal ini ia menjadikan ilmunya sebagai media untuk menyombongkan diri dengan kedudukan dan kehormatan, dengan banyaknya para pengikut ia manfaatkan ilmu tersebut untuk memperdaya dengan tipu daya yang sangat lembut.

Hal tersebut merupakan suatu yang di larang oleh Allah swt, termaktub dalam Al Quran :

ولا تتخذوا ايمانكم دخلا بينكم

Artinya : Dan janganlah kamu jadikan sumpah-sumpahmu sebagai alat penipu di antaramu. (QS. An Nahl:94).

Demi memenuhi hasrat duniawi dan kebutuhannya, ia berani dengan ilmunya untuk menyembunyikan didalam dirinya, bahwa dirinya disisi Allah memiliki suatu kedudukan dengan simbol ulama, mensifati dirinya dengan sifat ulama dan berpenampilan serta berucap layaknya ulama.

Maka orang yang ketiga ini termasuk orang-orang yang binasa, dungu dan orang-orang yang tertipu.

ياايها الذين آمنوا لم تقولون ما لاتفعلون

“Hai orang-orang yang beriman mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat”. (QS. Ash Shoff:2).

Dan dirinya termasuk orang yang telah di sabdakan oleh Rasululloh

انا من غير الدجال اخوف عليكم من الدجال

“Saya terhadap selain Dajjal lebih takut atas diri kalian dibandingkan Dajjal”.

Maka sahabat bertanya kepada Rasulullah, “Siapakah wahai Rasulluwah yang selain Dajjal?”

Lalu beliau bersabda علماء السؤء (Ulama’ yang buruk), Iya adalah setiap orang munafik yang pandai bicara bodoh hati dan amalnya. Ia menjadikan ilmu sebagai mata pencaharian yang ia makan dan sebagai kemegahan yang ia terhormat dengannya, Iya mengajak orang-orang kepada Allah namun ia lari darinya.

Sebagaimana Nabi Muhammad ﷺ bersabda :

ان اخوف ما اخاف على امتى كل منافق عليم اللسان رواه احمد ابن حنبل عن عمر بن الخطاب

“Sesungguhnya saya sangat khawatir terhadap sesuatu yang paling saya khawatirkan atas umat saya adalah setiap orang munafik yang pandai lisannya”. (Hadist diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin hambal dan Sayyidina Umar Bin Khattab).

Dan sebagaimana sabda nabi ﷺ

ان اخوف ما اخاف على امتى الائمة المضلون : رواه احمد والطبرانى عن ابى درداء

“Sesungguhnya saya sangat khawatir terhadap sesuatu yang paling saya khawatirkan atas umat saya adalah para pemimpin yang menyesatkan”. (Hadist riwayat oleh Imam Ahmad dan Imam thobroni dari Sayyidina Abi Darda).

Wal’yadzu billah
والله اعلم

Sumber : http://musholaalikhlas.org/

Oleh : Ustadz Farid Mubarok, S.Pd.I.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.