Memang Boleh, Menikahi Saudari Kandung Istri?

pwnubali.or.id – Bagaimana sih, hukum menikahi sadaura kandung istri? Nah, menjawab pertanyaan di atas ada baiknya jika kita awali dengan sebuah penjelasan tentang “mahram”. “Mahram” memiliki arti “yang terlarang”, maksudnya adalah wanita yang dilarang untuk di kawini atau di nikahi.

Dan pada garis besarnya wanita yang dilarang di nikahi dapat dibagi menjadi dua, yaitu terlarang untuk di kawini untuk selama-lamanya (tahrim muabbad) dan terlarang di nikahi sementara (tahrim muaqqat).

  1. Tahrim Muabbad

Wanita yang dilarang di nikahi untuk selama-lamanya :

a. Nasab (karena keturunan)
b. Mushaharah ( kekeluargaan sebab adanya ikatan pernikahan)
c. Radlaa’ah ( karena satu persusuan)

a). Nasab (karena keturunan)

Wanita yang di larang di nikahi menurut (Q.S an-Nisaa’ :23) :

  1. ibu, maksudnya adalah ibu, ibu dari ibu, ibu dari ayah dan seterusnya ke atas.
  2. Anak perempuan, maksudnya adalah anak-anak perempuan, cucu-cucu perempuan dan seterusnya ke bawah.
  3. Saudara perempuan, maksudnya adalah saudara-saudara perempuan sekandung, se ayah dan se ibu.
  4. Saudara ayah yang perempuan, termasuk juga didalamnya saudara kakek yang perempuan.
  5. Saudara ibu yang perempuan, termasuk juga didalamnya saudara nenek yang perempuan
  6. Anak perempuan dari saudara-saudara yang laki-laki, maksdunya saudara laki-laki yang sekandung, se ayah atau se ibu.
  7. Anak Perempuan dari saudara-saudara perempuan, maksudnya ialah saudara-saudara perempuan yang se kandung, se ayah atau se ibu.

b). Mushaharah (kekeluargaan sebab adanya ikatan pernikahan)

  1. Mantan istri ayah.
  2. Mantan istri dari anak, termasuk di dalam mantan istri cucu laki-laki dan seterusnya kebawah.
  3. Anak-anak tiri, ialah anak-anak dari istri yang telah di campuri. Dan apabila istri tersebut belum di campuri , maka anak tersebut halal untuk di nikahi. Termasuk juga di dalamnya anak-anak perempuan dari anak-anak tiri dan seterusnya.
  4. Ibu dari itri (mertua)

c). Radlaa’ah ( karena satu persusuan)

Dijelaskan dalam sabda Rasulullah SAW, “Perempuan-perempuan yang haram karena susuan sama dengan yang diharamkan karena keturunan.” (H.R Bukhari dan Muslim)

2. Tahrim Muqawwat 

Yang dimaksud dengan “tahrim muqawwat” ialah larangan perkawinan dengan wanita dalam waktu tertentu saja karena ada sebab yang mengharamkannya. Apabila sebab itu hilang maka pernikahan tersebut boleh dilakukan.

Tahrim Muqawwat yang disepakati oleh ulama ialah :

a. Karena mengumpulkan
b. Karena terkait oleh hak orang lain
c. Karena musyrik
d. Karena dicerai tiga kali
e. Karena telah mengawini empat orang wanita

Dan terkait masalah di atas maka larangan menikah/mengawini saudari perempuan kandungistri adalah larangan dalam waktu tertentu saja atau “tahrim muwaqqat”. Karena mengumpulkan dua orang wanita yang ada hubungan mahram. Termasuk didalamnya se ayah, saudara se ibu ataupun saudara se susuan. Dalam firman Allah SWT (Q.S An-Nisaa’ :23)

Dan sekli lagi di pertegas : apabila penyebab keharamannya hilang maka pernikahan boleh di lakukan, contoh : istri meninggal dunia, maka suami boleh menikahi saudara wanita dari istrinya yang telah meninggal dunia. Karena hal yang menjadi sebab telah hilang (karena mengumpulkan).

 

Penulis : H. Kusnadi Abdullah (Wakil Ketua PW Ansor Bali/Kepala KUA Kecamatan Mengwi)
Editor : Wulan Widyast

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.