Berbagi Daging Qurban Kepada Non Muslim Menurut Ustadz Asy’ary Muslih

135

pwnubali.or.id – Memasuki bulan Dzulhijjah, umat islam mempunyai dua momentum yang ditunggu-tunggu yakni hari raya Idul Adha dan Haji. Hari Raya Idul Adha merupakan suatu momentum bersejarah yang sarat makna dan identik dengan berqurban serta bersedekah. Sebagai agama yang sempurna, islam sangat ketat dalam mengatur syarat dan ketentuan ibadah, termasuk halnya sedekah. Walaupun sedekah memiliki nilai terpuji, namun islam mempunyai tata cara atau aturan yang sedemikian rupa. Lalu bagaimana hukumnya jika berbagi sedekah qurban kepada orang non muslim?

Ada dua pendapat ulama terkait hal ini. Pendapat yang pertama yaitu haram mutlak, sedangkan pendapat yang kedua yakni memperbolehkan dengan melihat keterangan dalam kitab Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, dan pendapat ini dianggap selaras dengan ketentuan Madzhab Syafi’i itu sendiri. Demikian sebagaimana keterangan yang terdapat dalam kitab Nihayatul Muhtaj.

 

لَوْ ضَحَّى عَنْ غَيْرِهِ أَوْ ارْتَدَّ فَلَا يَجُوزُ لَهُ الْأَكْلُ مِنْهَا كَمَا لَا يَجُوزُ إطْعَامُ كَافِرٍ مِنْهَا مُطْلَقًا , وَيُؤْخَذُ مِنْ ذَلِكَ امْتِنَاعُ إعْطَاءِ الْفَقِيرِ وَالْمُهْدَى إلَيْهِ مِنْهَا شَيْئًا لِلْكَافِرِ , إذْ الْقَصْدُ مِنْهَا إرْفَاقُ الْمُسْلِمِينَ بِالْأَكْلِ لِأَنَّهَا ضِيَافَةُ اللَّهِ لَهُمْ فَلَمْ يَجُزْ لَهُمْ تَمْكِينُ غَيْرِهِمْ مِنْهُ لَكِنْ فِي الْمَجْمُوعِ أَنَّ مُقْتَضَى الْمَذْهَبِ الْجَوَازُ

Artinya, “Apabila seseorang berqurban untuk orang lain atau ia menjadi murtad, maka ia tidak boleh memakan daging kurban tersebut sebagaimana tidak boleh memberikan makan dengan daging kurban kepada orang kafir secara mutlak.” Dari sini dapat dipahami bahwa orang fakir diberi yang kurban tidak boleh memberikan sedikitpun kepada orang kafir. Sebab, tujuan dari kurban adalah memberikan belas kasih kepada kaum Muslim dengan memberi makan kepada mereka, karena kurban itu sendiri merupakan jamuan Allah untuk mereka. Maka tidak boleh bagi mereka memberikan kepada selain mereka. Akan tetapi menurut pendapat ketentuan Madzhab Syafi’i cenderung membolehkanya,” (Lihat Syamsuddin Ar-Ramli, Nihayatul Muhtaj ila Syarhil Minhaj, Beirut, Darul Fikr, 1404 H/1984 M, juz VIII, halaman 141).

Hukum yang memperbolehkan mempunyai landasan syarat yaitu qurbannya bukan qurban wajib (Qurban nadzar) yang dimaksud boleh yakni jika qurban tersebut adalah qurban sunnah. Hukum yang kedua yakni non muslim yang diberikan masuk dalam kategori kafir harbi atau kafir yang wajib diperangi.

“intinya qurban yang diberikan sebagai bentuk sedekah kepada mereka (berbagi dalam hal kemanusiaan, terutama dalam pandemi saat ini” ujar ketua Pagar Nusa PWNU Bali, Ust. Asyhari Mushlih.

Sumber Foto : nu.or.id/NuOnline

Penulis : Fitri Indah

Editor : yta

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.