Hakikat Kekayaan

“Bukan disebut orang kaya orang yang banyak harta, akan tetapi orang kaya adalah orang yang kaya jiwa.” Begitulah salah satu sabda Nabi saw., yang penting sekali untuk kita renungkan. Nabi saw., memang tiada duanya. Ia teladan sepanjang zaman. Ucapan, tindakan dan ketetapannya, semuanya merupakan kebajikan. Nabi saw., betul-betul memberikan teladan bagaimana ia menempuh jalan hidupnya. Ia mandiri sejak kecil, mulai dari menggembala kambing dan berdagang. Ia juga pernah menjadi orang yang kaya harta sekaligus orang yang hidupnya sederhana.

Dalam konteks puasa Ramadan ini, masih ada orang yang masih enggan mendekatkan diri kepada Allah, masih gemar bermaksiat dan melakukan dosa karena ia merasa tenang karena punya banyak uang. Ada juga yang sudah mau beribadah tetapi ibadahnya hanya sekadar ritual yang belum mampu menggerakkan kepeduliannya akan kehidupan sosial. Nah puasa, sebagaimana maknanya menahan, harus mampu membuat kita waspada dalam menjemput rezeki dan harta. Islam memang menganjurkan sekali agar umatnya kaya tetapi bukan berarti melupakan ibadah dan apalagi menghalalkan segala cara.

Dengan demikian, hakikat kekayaan adalah syukur dan sabar. Orang kaya adalah orang yang bersyukur atas apa yang sekarang ada dan tetap sabar atas masalah (ujian) apapun yang diberikan Allah kepada kita. Bukan rahasia umum lagi, bahwa di zaman serba modern ini, orang hidup penuh gengsi, semakin individualistis dan hedonis. Orang berebut harta dan kekayaan demi status sosial dan penghormatan dari banyak orang. Korupsipun dilakukan beramai-ramai tanpa malu. Seolah-olah dengan harta yang banyak akan menjamin hidup bahagia. Padahal berapa banyak orang yang hartanya banyak tapi rumah tangganya berantakan, penyakitnya parah, anaknya durhaka dan lain sebagainya.

Sebagai manusia, wajar jika kita menginginkan kekayaan tapi awas, jangan sampai membuat kita gelap mata. Kita harus punya konsep hidup sederhana. Karena itu hidup glamour dan foya-foya itu apa maknanya. Ikhtiar serajin mungkin dan beribadah seistikamah mungkin, selebihnya kita tawakal kepada Allah saja. Sebab bisa jadi orang yang kaya harta tetapi sesungguhnya ia miskin jiwa. Secara zhahir kaya tetapi secara bathin ia miskin. Harta hanyalah titipan dan ia hanya hiasan yang semu belaka. Jadi buat apa kita berpeluh-peluh hidup hanya untuk menumpuk harta, sementara kita jauh dari sedekah, beribadah, qanaah dan tawakal kepada Allah.

Wallaahu a’lam

Mamang M Haerudin (Aa)

Pesantren Bersama Al-Insaaniyyah, 19 Mei 2018, 20.40 WIB

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.