LBM PWNU Bali Sukses Gelar Bahtsul Masali III Hasil Siap dibukukan ber-ISBN

pwnubali.or.id

Denpasar – Kegiatan Bahtsul Masail Jilid III yang digelar oleh Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PWNU Provinsi Bali tak hanya menghadirkan kajian mendalam atas persoalan hukum Islam kontemporer, tetapi juga membuka ruang partisipasi aktif dari para kader muda dan alim ulama dari seluruh Bali.

Ketua LBM PWNU Bali, Nur Wahyudi, S.Pd.I., M.H.I, mengungkapkan bahwa tema yang diangkat “Menghidupkan Ghirah Keilmuan Nahdhiyyin, Menjawab Persoalan Umat Islam di Bali” berangkat dari kebutuhan riil masyarakat Muslim di Bali yang menghadapi konteks berbeda dengan daerah lain.

“LBM itu ruhnya Nahdlatul Ulama. Di Bali, umat Islam adalah minoritas, dan persoalan yang dihadapi juga berbeda. Karena itu kami kumpulkan para Kiai di Bali ini untuk membahas masalah-masalah yang berkembang di masyarakat,” ujar Nur Wahyudi.

Ia juga menegaskan bahwa hasil pembahasan Bahtsul Masail akan dituangkan dalam bentuk rekomendasi hukum dan diterbitkan secara resmi oleh PWNU Bali.

“Keputusan bersama itu lebih maslahat dan bisa dipertanggungjawabkan. Harapannya, hasil Bahtsul Masail ini bisa dijadikan acuan oleh para ustadz di sembilan kabupaten/kota di Bali dan juga disampaikan ke masyarakat luas,” imbuhnya. Ia menambahkan bahwa hasil Bahtsul Masail dari edisi pertama hingga ketiga akan dibukukan dan disiapkan untuk diajukan sebagai karya ber-ISBN.

Peserta Bahtsul Masail dari berbagai wilayah di Bali turut menyuarakan semangat dan harapan mereka. Salah satunya Yudi Audian Dzikri dari Yayasan Tahfidz Sulaimaniyah, Jembrana.

“Saya ikut karena ingin meningkatkan pembelajaran dan rasa ingin tahu terhadap hukum-hukum Islam, apalagi di era modern ini banyak persoalan yang perlu dipecahkan berdasarkan syariat,” ujarnya.

Ia menilai forum seperti ini sangat penting bagi generasi muda NU, terutama di Bali yang merupakan wilayah minoritas Muslim.

“Forum seperti ini jarang ada, jadi bisa menambah semangat. Apalagi kita di Bali sangat minoritas, maka ini jadi wadah yang sangat penting bagi kami kaum muda,” tambahnya.

Hal senada disampaikan Muhammad Afi Abdillah, peserta dari Pondok Pesantren Militer, Tabanan. Ia mengaku sangat antusias bisa berdiskusi langsung dengan para ulama se-Bali.

“Musyawarah LBM sangat aktif, semua mengajukan argumentasi dari kitab-kitab ulama salaf. Ini pengalaman berharga,” ujarnya.

Ia berharap LBM tetap menjadi agenda tahunan dan mendorong agar setiap kabupaten di Bali dapat menyelenggarakan forum serupa secara mandiri.

“Kalau di Jawa banyak forum seperti ini, tapi di Bali sangat jarang. Semoga ke depan LBM bisa hadir lebih sering dan menjangkau wilayah lebih luas,” ujarnya.

Bahtsul Masail Jilid III yang berlangsung satu hari penuh ini merupakan rangkaian pra-Musyawarah Kerja Wilayah (MUSKERWIL) PWNU Bali. Hasil-hasil pembahasan akan dibacakan secara resmi dalam forum Muskerwil sebagai bentuk komitmen NU Bali dalam memberikan kontribusi konkret terhadap kebutuhan umat.

Dengan semangat musyawarah, keilmuan, dan keterlibatan generasi muda, LBM PWNU Bali membuktikan bahwa tradisi intelektual Islam dapat terus hidup dan menjawab kebutuhan zaman bahkan di tengah tantangan menjadi minoritas.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses