Jawab Persoalan Umat Islam di Bali, LBMNU Bali Gelar Bahtsul Masail III

pwnubali.or.id

Denpasar – Bahtsul Masail Jilid III Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (LBM PWNU) Provinsi Bali resmi dibuka pada Sabtu (26/07/2025), di Masjid Raya Baiturrahman Wanasari Kota Denpasar.

Acara ini mengangkat tema “Menghidupkan Ghirah Keilmuan Nahdhiyyin, Menjawab Persoalan Umat Islam di Bali” yang memfokuskan pada penguatan tradisi intelektual NU dan pemecahan masalah – masalah dalam masyarakat Muslim di Bali. Kegiatan tersebut akan menjawab 10 persoalan masyarakat yang dikelompokkan menjadi 4 pembahasan, diantaranya : Status anak yatim, revitalisasi tasharruf zakat, wali pernikahan anak Perempuan hasil di luar nikah, dan batasan muallaf sebagai mustahik zakat.

Ketua Umum Yayasan Masjid Raya Baiturrahman Provinsi Bali Ust. Hery Purwanto Al Hafidz menyampaikan rasa bangga para pengurus akan pelaksanaan kegiatan tersebut di masjid yang mereka cintai.

“Kami dari pengurus Yayasan Masjid Raya Baiturrahmah sangat berbangga karena masjid yang kita cintai ini pada hari ini ditempati untuk pembahasan Bahtsul Masail yang ketiga di tingkat provinsi Bali,” ujarnya dalam sambutan pembuka.

Ia juga menjelaskan bahwa kegiatan ini sangat penting karena membahas problematika hukum agama yang bersifat maudluiyah, qonuniyah, maupun waqi’iyah dan semuanya harus merujuk pada dasar-dasar hukum Islam yang sahih.

Dalam sambutannya, beliau juga menegaskan hakikat agama dalam pandangan Islam,

“Agama ini bukanlah hasil dari kajian, bukan pula hasil dari uji laboratorium. Tetapi agama bersifat ikhbar. Sebuah pemberitahuan atau informasi yang diterima oleh Rasul, yang bersifat naqliyah. Tingkat kebenarannya mutlak.”

Rais Syuriah PWNU Bali KH. Noor Hadi Al-Hafidz menyampaikan apresiasi dan kebanggaannya terhadap para peserta Bahtsul Masail Jilid III ini. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya kecerdasan yang utuh dalam diri kader-kader Nahdlatul Ulama.

“Saya bangga sekali akhir-akhir ini mulai muncul anak-anak kami yang cerdas. Cerdas itu ada dua: cerdas spiritual dan cerdas intelektual,” ujar KH. Noor Hadi.

Beliau kemudian mengutip ayat Al-Qur’an dalam surat Ali Imran ayat 190–191, yang menyinggung keutamaan orang-orang berakal (ulil albab)—yakni mereka yang senantiasa mengingat Allah dalam berbagai keadaan dan berpikir mendalam atas penciptaan langit dan bumi.

Noor Hadi Al Hafidz juga berpesan kepada seluruh hadirin terkait suasana diskusi yang sempat berlangsung sengit pada Bahtsul Masail jilid I dan II sebelumnya.

“Saya dengar yang pertama dulu juga ribut, rame. Tapi ya begitulah, silakan saja. Saya pesan: boleh ribut, boleh. Namun ributnya yang ahsan. Bukan hanya hasan, tapi ahsan—lebih baik, cara ributnya nyenengin,” ujarnya yang disambut tawa hadirin.

Acara Bahtsul Masail Jilid III ini akan berlangsung selama satu hari penuh sebagai bagian dari pra-Musyawarah Kerja Wilayah (MUSKERWIL) PWNU Bali. Melalui forum Bahtsul Masail ini, PWNU Bali menegaskan komitmennya untuk terus hadir menjawab tantangan zaman dengan ilmu, hikmah, dan adab. Diharapkan hasil musyawarah ini dapat menjadi panduan nyata bagi Masyarakat Islam di Pulau Bali.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses