Uang Saku Dan Anak-Anak

0
353

Pembagian uang saku kepada anak juga termasuk dalam proses pendidikan yang sangat penting. Karena hal ini berhubungan dengan cara pandang anak terhadap harta dan pemanfaatannya. Berikut ini beberapa pengalaman tentang uang saku dalam buku karya Abdullah Muhammad ‘Abdul Mu’thi;

(1)
“Ketika masih kecil, pada saat ayah memberiku uang saku, kadang beliau melebihkannya sebagai ‘bonus’ atas hal-hal baik yang kulakukan. Nah, setiap kali memberiku bonus, ayah selalu berpesan; ‘Belilah sesuatu dengan uang bonus ini untuk ibumu,’ atau ‘..untuk adikmu,’ atau ‘..untuk sahabatmu.’ Setelah dewasa, aku baru paham bahwa ternyata beliau sedang mendidikku agar peduli terhadap orang lain dan tidak hanya memikirkan diri sendiri. Sampai saat ini, didikan ayahku sangat membekas. Kebiasaan itu melekat padaku dengan penghasilan yang kudapatkan sekarang.”

(2)
“Sebagai orang tua, kubagi anak-anakku dalam tiga fase. Fase pertama adalah usia anak-anak, masa TK dan awal SD. Bagi fase ini, kuberikan uang saku dengan model harian. Fase kedua adalah usia jelang remaja, yakni akhir SD dan awal SMP. Uang saku untuk mereka kubuat mingguan. Fase ketiga adalah usia remaja, uang sakunya kubuat bulanan. Setiap kali kubagi uang saku untuk mereka, aku selalu berpesan tentang bagaimana menyusun kebutuhan, menggunakannya, dan menabung lebihannya. Hal ini ternyata efektif untuk melatih pengelolaan finansial anak-anak serta pengendalian belanja mereka.”

(3)
“Ayahku tak pernah memberi uang saku dengan tangannya sendiri. Namun beliau selalu menyuruhku, ‘Nak, ambil sendiri uang jajan di dompet ayah. Ambil sebatas yang kau butuhkan,” kemudian akupun mengambilnya. Tapi ternyata tidak sampai di situ. Beberapa waktu kemudian beliau mengevaluasi, untuk apa saja uang jajan itu kugunakan, lalu tinggal berapa sisanya. Kemudian beliau pun mengapresiasi, bahwa aku telah mengambil seperlunya, bahwa aku tak menghambur-hamburkan uang untuk hal yang tak perlu, bahwa aku bisa menjaga amanat dengan tidak menguras isi dompetnya. Hal ini membentuk jiwaku menjadi orang yang tidak boros, dan sadar kebutuhan.”

*Sumber: Sab’u Mi-ati Fikrah fi Tarbiyyati al-Abna’ halaman 43-44.

TINGGALKAN KOMENTAR

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.