TERJEMAH AL-QUR’AN DALAM BAHASA DAERAH, BAGIAN DARI PELESTARIAN BUDAYA

0
232

Denpasar, 7 April 2017

Perwakilan dari kementrian Agama Republik Indonesia, Drs. Choirul Fuad Yusuf, M.A., M.Phil. Memberikan sambutan pada rapat lanjutan Validasi terjemah Al-Qur’an dalam bahasa daerah pada hari Kamis, 6 April 2017 di hotel Neo, Denpasar. Setelah pada malam sebelumnya, Bapak Yasin telah memberikan pengarahan mengenai runtutan validasi terjemahan Al-Qur’an.

Kali ini pak Fuad sedikit memaparkan bahwa saat ini jumlah populasi Umat Islam mengalami peningkatan sangat pesat. Hal tersebut berdasarkan data penelitian survey dari Washington DC yang menyebutkan bahwa.

” Jumlah populasi kelahiran umat islam lebih besar dibanding umat lainya. Hal tersebut menyebabkan populasi islam berkembang pesat. Diprediksi pada tahun 2050, umat Islam menjadi Umat terbanyak di dunia.” Kata pak fuad.

Beliau juga menambahkan bahwa umat islam saat ini bejumlah sekitar 1,8 Miliyar dari 7.8 Miliyar penduduk di dunia. Sedangkan kristen berjumlah 2,2 Miliyar. Namun dalam 35 Tahun kedepan umat islam akan menjadi penduduk terbesar di dunia.

Disatu sisi umat islam memiliki jumlah penduduk yang banyak, namun disisi lain, ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Salah satu yang paling utama adalah kurangnya pemahaman terhadap kitab sucinya yaitu Al-Qur’an.

Tahun lalu, pemerintah telah melakukan penelitian yang bertema indeks literasi al-Qur’an dengan survey ke 34 provinsi di Indoenisia. Hasilnya diluar dugaan. Dari skor 1-5, kemampuan membaca, memahmi serta menerjemahkan al-Qur’an di tingkat SMA/SLTA yaitu rata-rata bernilai 2,7. Hanya setengah dari niai maksimal. Nilai tertintinggi di dapat oleh provinsi aceh yaitu 3,4, namun dalam pemahaman Aceh masih rendah. Sementara di Makasar masih jauh lebih rendah. Dan untuk pulau jawa sendiri mendapat skor 2.1. Hal itu dianggap wajar karena di pulau jawa masih banyak terkenal Islam Abangan.

“Dari sinilah terlihat fenomena yang paradoks yaitu disatu pihak islam jumlahnya banyak namun di pihak lain tingkat pemahaman kitab suci Al-Qur’an sebagai sumber utama itu masih rendah.” Ujar pak Fuad.

Maka dari itulah, pak Fuad menyampaikan bahwa perlu adanya upaya agar Al-Qur’an bisa di pahami masyarakat. Salah satunya adalah dengan menerjemahkan Al-Qur’an dalam bahasa daerah.

“Dengan menerjemahkan al-Qur’an dalam bahasa daerah, maka secara langsung kita berkontribusi pada negara dan bangsa yaitu melestarikan bahasa.” Tambah pak Fuad.

Disamping itu juga, dengan terjemahan AL-Qur’an dalam bahasa daerah ini maka dapat membuat masyarakat untuk semangat membaca Al-Qur’an. Kemudian dapat mengartikannya, setelah itu bisa memahami dan diharapkan dapat mengamalkan. sehingga menjadi “baldatul toyyibatun warobbun ghofur.”

“Jika Al-Qur’an bisa diamalkan oleh seluruh muslim, maka tidak usah menunggu puluhan tahun sudah bisa “baldatul toyyibatun warobbun ghofur.” Pungkas pak Fuad.

(red. Muhlis)

TINGGALKAN KOMENTAR

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.