PUASA DAN UPAYA MENEKAN BUDAYA KONSUMTIF (II)

0
239

oleh: Deni Gunawan

Telah banyak disinggung setiap kali menjelang atau saat Ramadhan tiba, bahwa puasa adalah upaya pengendalian diri. Idiom seperti ini adalah idiom yang semua orang telah mengetahuinya dan sering dikemukakan oleh para ulama. Puasa adalah ibadah yang unik yang diwajibkan oleh Allah kepada orang-orang mukmin. Allah mengatakan bahwa “puasa untuk-Ku”, sementara ibadah lainnya seperti shalat, zakat dan haji adalah puasa yang (pahalanya) kembali kepada pelakunya.

Menurut Ehma Ainun Nadjib atau biasa disebut Cak Nun, perbedaan puasa dengan shalat dan zakat adalah di mana ibadah puasa bersifat lebih “revolusioner”, radikal dan frontal. Hal ini dikarenakan orang yang berpuasa diperintahkan untuk berhadapan langsung atau meng-engkau-kan wakil-wakil paling wadag (kasar) dari dunia dan diinstruksikan untuk menolak dan meninggalkannya dalam tempo tertentu. Menurut Cak Nun, pada orang shalat, dunia di belakanginya. Pada orang berzakat, dunia di sisinya, tetapi sebagian ia pilah untuk di-‘buang’. Sementara orang berpuasa, dunia ada di hadapannya, tetapi tidak boleh dikenyamnya.

Sebagaimana telah disebutkan bahwasanya puasa adalah upaya untuk mengendalikan, menahan, dan melawan. Lalu, apa yang dikendalikan, ditahan dan dilawan? adalah kebiasaan untuk berlebih-lebihan, mubazir, dan kebiasaan melampiaskan hasrat yang percuma. Karena itulah, puasa pada satu momen tertentu akan berhadap-hadapan dengan sistem ekonomi yang di dalamnya terjadi siklus produksi-distribusi-konsumsi yang pada dirinya juga mengajarkan atau mengajak manusia untuk berlebih-lebihan, mubazir, dan melampiaskan. Sementara agama dalam konteks ini, ialah puasa, mengajak manusia untuk menahan dan mengendalikan bahkan melawan hasrat yang percuma.

Bukankah dalam sistem ekonomi moderen saat ini produksi-distribusi mengarahkan manusia untuk berperilaku konsumtif? Orang-orang memproduksi barang sebanyak-banyaknya tanpa kontrol untuk didistribusikan kepada manusia agar dikonsumsi, tak peduli apakah barang-barang itu benar-benar dibutuhkan atau tidak dalam kehidupan manusia. Manusia yang sebenarnya tidak membutuhkan barang-barang itu digiring untuk seolah-olah membutuhkannya, yang jika tidak mengkonsumsinya maka akan menghadapi bahaya besar, padahal tidaklah demikian. Gaya propaganda ekonomi dunia yang ‘menghalalkan’ segala cara agar mendapat keuntungan besar dilakukan untuk memenuhi kebutuhan manusia yang tak terbatas itu. Orang-orang memperjual belikan segala sesuatunya yang penting
tidaknya tidak ditentukan oleh akal pikiran yang jernih dan sehat dan atas dasar kewajaran atas hidupnya, akan tetapi lebih didasari oleh iklan-iklan artifisial yang sifatnya bohong dan kosong.

Karena itulah puasa tidak hanya sebatas menahan lapar di perut dan haus di tenggorokan dari subuh hingga magrib. Puasa tidaklah bermakna pekerjaan jasad saja, tapi juga pekerjaan ruh yang di dalamnya terdapat upaya pengendalian diri akan hal-hal yang sifatnya artifisial tadi. Yakni angan-angan kosong yang bukan hakikat yang selalu kita kejar-kejar di dunia ini. Itulah salah satu—jika bukan makna sebenaranya—kehadiran puasa untuk meng-counter kebiasaan berlebih-lebihan untuk melampiaskan nafsu yang tertahan dari terbit fajar hingga tenggelam matahari. Puasa tersebutlah merupakan metode untuk mengembalikan manusia kepada posisi seimbang (titik tengah) dari kebiasaan berlebih-lebihannya. Puasalah yang menggiring manusia agar menjadi ummatan wasathan, yang bagi Cak Nun puasa merupakan disiplin yang menyeret manusia dari wilayah minimal agar ia mengerti khairul ‘umuri ausathuha, sebaik-baik urusan adalah yang di tengah-tengahnya.

Dengan demikian, dapatlah kita maknai bahwasanya puasa harusnya hadir kapan saja dan di mana saja, pada siapa saja, apapun dia dan latar belakangnya, sebab puasa tidak hanya menahan lapar dan haus sebatas subuh sampai maghrib saja, dan bukan hanya pekerjaan orang Islam saja, tapi juga telah dilakukan oleh orang-orang sebelum Islam. Maghrib tidak akan pernah membatalkan puasa, maghrib hanyalah batas waktu untuk kita menyudahi kewajiban menahan lapar dan haus. Sementara puasa akan tetap berlanjut meski waktu maghrib tiba. Karena puasa yang dalam penjelasan Cak Nun merupakan jenis tantangan yang sifatnya radikal dalam keberlangsungan dinamika kemanusiaan yang berciri intelektual, penuh pengembaraan, penuh dilema pilihan, serta dicakrawalai oleh kerinduan kekal terhadap inovasi-inovasi ke depan. Ini yang membedakan puasanya alam dengan manusia, misalnya singa yang ‘berpuasa’ setelah perutnya terisi cukup, puasa singa ini adalah instingtif sifatnya, yang merupakan sunnatullah. Sementara manusia melakukannya dengan berbagai modus pilihan dan tantangan serta kekhasannya. Alam tidak membutuhkan puasa untuk memperoleh produk puasa, sedangkan manusia benar-benar memerlukannya agar tidak terjebak oleh tumpukan-tumpukan isi dunia yang tak membawa kemana-mana dan tidak bisa dibawa kemana-mana.

Puasa tidak bermaksud menjauhkan manusia dari dunia, tapi mengembalikan manusia ke dunia untuk berlaku seimbang saat dunia ‘memaksa’ untuk bersikap boros, berlebih-lebihan, melampiaskan segala hasrat yang bukan hakikat, saat dunia mengajak untuk melampaui batas, di sinilah satu dari sekian banyak peran puasa untuk mengembalikan manusia untuk melakukan perkara-perkara secara seimbang dan moderat atau dalam bahasa Jawa agar manusia menjadi eling akan apa yang dikerjakan yang telah melampaui batas ambang keperluan.

Puasa mendidik manusia untuk prihatin, karena dengan begitu, orang baru bisa merasakan ‘kesenagan’ bila ditempa kesulitan. Puasa juga melatih untuk bermental pejuang, pada dasarnya, manusia tidak suka lapar, dan secara alamiah menyukai kenyang, makan dan minum, tapi semua itu baru di-‘halalalkan’ ba’da maghrib sampai subuh. Cak Nun mengatakan, orang berpuasa disuruh langsung berpakaian ketiadaan: tidak makan, tidak minum, dan lain sebagainya. Orang berpuasa diharuskan bersikap ‘tidak’ kepada isi pokok dunia yang berposisi ‘ya’ dalam substansi manusia hidup. Orang berpuasa tidak menggerakkan tangan untuk mengambil dan memakan sesuatu yang disenangi; dan itu adalah perang frontal terhadap sesuatu yang sehari-hari merupakan tujuan dan kebutuhan.

Penulis adalah Ketua Lakpesdam PCNU Kab. Jembrana-Bali

TINGGALKAN KOMENTAR

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.