Pesan Nabi dan Bung Karno Kepada Para Generasi Pahlawan

0
335

Oleh: M. Muhammad

Setelah meraih kemenangan dalam pertempuran besar, Nabi berkata, “Kita baru saja pulang dari jihad kecil menuju jihad terbesar ”. Para sahabat kaget dan penuh penasaran. Karena, padahal baru saja menempuh peperangan yang sangat besar, tapi mengapa Nabi mengatakan demikian. Dalam benak para sahabat menduga akan ada perang yang lebih besar lagi. Dengan penasaran, para sahabat bertanya “Apakah gerangan perang terbesar itu wahai Rasulullah?” Nabi menjawab, perang menaklukkan diri sendiri.” (HR Baihaqi dari Jabir).
Sabda Nabi di atas memberi pesan kepada kita. 1] Melawan dan menaklukkan orang lain sebagai musuh itu tidak seberat dan sesulit melawan dan menaklukkan apa yang ada dalam diri sendiri. 2] Sesungguhnya diri sendirilah yang menjadi musuh terbesar yang harus ditaklukkan. 3] Apa yang dalam diri sendiri lebih berbahaya dan mengancam dari pada apa yang ada di luar. 
Memang, tidak ada musuh yang paling menakutkan dan mengancam selain diri sendiri. Kita sendirilah yang sesungguhnya musuh bagi diri kita. Orang yang mampu melawan dan menaklukkan orang lain sebagai musuhnya, belum tentuk dia mampu melawan dan menaklukkan musuh yang ada dalam dirinya.
Pesan Nabi tersebut dirasakan juga oleh Sang Proklamator kita, Bung Karno. Dia berkata, “Perjuangan kita akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri”. Jika pesan Nabi lebih khusus kepada diri sendiri, apa yang dinyatakan oleh Bung Karno konteksnya adalah saudara sebangsa dan setanah air. 
Pernyataan Bung Karno memiliki pesan kepada kita. 1] Berjuang melawan penjajah jelas dia sebagai musuh. 2] Akan ada saudara kita yang mengkhianati bangsanya. 3] Saudara kita yang berkhianat pada bangsanya, sulit untuk kita lawan. Karena dia mengaku saudara tetapi tega memakan daging saudaranya sendiri. 4] Harus berhati-hati dan waspada menghadapi saudara sendiri. Karena cara melawannya tidak sama dengan melawan musuh yang sudah jelas.
Melawan orang yang jelas dia sebagai musuh, kita gampang melawannya untuk menaklukkannya. Tetapi melawan saudara sendiri sangat berat dan sulit. Karena kita tidak tahu, sebab kita sendiri merasa dia adalah saudara kita yang tidak akan menyerang kita.  Atau, kita tahu dia menyerang kita, tetapi bagi kita yang memiliki hati yang selalu menganggap dia sebagai saudara kita, mengatakan, “Masa’ kita mau berperang dengan saudara sendiri?”, meski sebenarnya dia memang ingin menyerang kita, yang mungkin dia sedang dijadikan alat oleh musuh yang sebenarnya.
Sebagaimana belakangan ini bangsa kita tengah mengalami adu domba dan fitnah sehingga sesama saudaranya sendiri saling menghujat, mengancam dan bahkan membunuh. 

TINGGALKAN KOMENTAR