MAN JADDA WAJADA: PENDIDIKAN HARUS MEMOTIVASI DAN MENGINSPIRASI

0
216

Ike Ningrum
Pengajar di MAN 1 Jembrana-Bali

Man jadda wajada, barang siapa bersungguh-sungguh maka akan mendapatkan hasil. Sebuah peribahasa arab yang mulai ramai digemakan bahkan menjadi slogan khususnya dikalangan remaja sejak kemunculannya dalam film bertema persahabatan karya penulis fenomenal Andrea Hirata berjudul Negeri Lima Menara. Kepopuleran kalimat tersebut mampu menjadi ”mantera” bagi orang yang memahaminya baik secara harfiah atau amaliyah.

Manusia diciptakan dengan begitu sempurnanya adalah bukan tanpa alasan, melainkan ada tugas besar yang harus ditunaikan yaitu mengolah, memanfaatkan dan memakmurkan bumi dengan segala akitfitasnya (Surat Al Baqarah : 30). Dan atas segala kenikmatan itulah maka manusia pun wajib mempertanggungjawabkannya dihadapan Allah SWT di akhirat nanti. Maka sudahkah engkau wahai manusia menjadi khalifah yang baik dimuka bumi ini?

Menjadi manusia berkategori baik tidaklah mudah, karena pada prosesnya manusia akan berada pada posisi tarik-menarik antara sifat lahiriahnya sebagai makhluk mulia yang memiliki nafsu dunia. Maka disinilah peran motivasi dibutuhkan. Motivasi sebagai dasar dari sebuah perilaku, akan timbul karena adanya stimulus baik dari dalam atau dari luar diri manusia yang tumbuh karena adanya kebutuhan. Kebutuhan inilah yang kadang sering mengaburkan jati diri manusia sebagai makhluk mulia dimata Allah SWT. Oleh karena itu pendidikan dibutuhkan bagi manusia agar mereka mampu mengarahkan keinginan untuk memenuhi kebutuhan jasmani rohaninya dan kewajibannya mengelola bumi dan isinya dengan cara yang telah disyariatkan oleh Allah SWT.

Ilmu dan pendidikan adalah satu paket sarana yang mampu mengantarkan manusia kepada kesuksesan hidup baik di dunia ataupun di akhirat. Karena kesuksesan mustahil dicapai tanpa keduanya. Berilmu tapi tak terdidik seperti manusia bergelar tapi tak terpelajar, terdidik tanpa ilmu bagaikan manusia terpelajar tapi tanpa gelar. Maka keduanya dibutuhkan untuk saling menyeimbangkan demi terpenuhinya satu kebutuhan hidup manusia yakni menjadi makhluk terbaik diantara ciptaan Allah SWT yang lainnya dimuka bumi ini. Seperti yang difirmankan Allah SWT dalam surat Al Mujadalah ayat 11, yang pesannya bahwa Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.

Namun tentu tidak akan semudah membalik tangan untuk bisa mewujudkan cita-cita tersebut. Dibutuhkan motivasi dan ambisi untuk mencapainya. Rasulullah SAW menggambarkan orang-orang yang tidak memiliki semangat dalam sabdanya yang artinya;”Ada lima golongan penghuni neraka salah satunya adalah orang lemah yang tidak memiliki akal, orang-orang yang hanya menjadi pengikut diantara kalian, dan orang-orang tidak menginginkan keluarga dan harta” (HR. Muslim).

Ketika semangat dan ambisi yang tinggi menghilang dari diri seseorang maka dia tidak akan mengetahui untuk apa dia diciptakan? Dia bahkan akan kehilangan arah dan tujuan dalam hidupnya, tetap berada dalam ketidaktahuan, bertahan dalam kemiskinan dan kebodohan, pasrah terhadap apa yang dia miliki, takut bangkit memikul tanggung jawab dan selalu menghalangi semangat yang berkobar dalam dirinya. Istilah keren yang sering kita dengar sekarang adalah “merasa nyaman di zona aman” ternyata tidak diajarkan dalam agama kita Islam. Itu sebabnya Allah SWT menciptakan akal dan nafsu dalam diri manusia. Nafsu sebagai ambisi dan akal sebagai pengontrol ambisi.

Manusia yang yang terangkat jiwa dan semangatnya adalah manusia yang terpelihara. Dia akan mampu membangun kemuliaan dengan kemampuannya, tanpa bergantung pada pertolongan orang lain. Cukuplah semangat dan potensi yang dimilikinya dan dibangun dengan tekad yang kuat, yang akan membantunya mewujudkan prestasi dan kesuksesan dalam diri dan hidupnya.

Orang yang terdidik dengan semangat yang tinggi maka ia akan menyadari kedudukan dirinya, terhindar dari rasa iri, dengki, dan sombong atas pencapaiannya. Dia akan mampu menjaga dirinya dari perilaku yang rendah dan merendahkan. Dia akan menjadi sosok yang tangguh yang tak runtuh dicela karena karena kepercayaan diri yang dimiliki. Keyakinan itulah yang membantunya menaklukkan gelombang besar dan permasalahan yang rumit dalam mencapai tujuan dan cita-citanya.

Sebagai manusia tentu kita memiliki keterbatasan, namun jangan lantas menjadikannya sebagai batas untuk bisa berbuat lebih baik dan untuk bisa menjadi lebih baik. Motivasi, ambisi dan cita-cita adalah stimulus yang diberikan secara natural oleh Allah SWT kepada manusia untuk mengisi waktunya didunia demi mencari bekal untuk kehidupan akhiratnya. Karena sejatinya hidup adalah medan perang, barangsiapa yang berjuang dengan kesungguhan akan menang dan yang duduk diam hanya akan mati sebagai pecundang.

Terlahir sebagai manusia adalah sebuah kedatangan, menjalani hidup sebagai manusia adalah sebuah perjuangan dan mati sebagai manusia yang dimuliakan Allah SWT adalah sebuah kemenangan. Maka mari berfastabiqul khairat dengan segenap kesungguhan demi tercapainya cita-cita menjadi khalifah yang layak dibanggakan dimata Allah SWT.

TINGGALKAN KOMENTAR

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.