Jilbab Pada Muslimah, Kesadaran Akan Hukum dan Fungsinya

0
36

PWNUBALI.OR.ID – Keindahan tubuh perempuan adalah keindahan yang bersifat rahasia. Semakin dirahasiakan, tubuh perempuan semakin indah.

Tentang jilbab sudah banyak kitab dan buku yang membahas hukumnya. Ada yang berpendapat wajib mengenakan jilbab dengan alasan sudah ditetapkan dalam teks alqura dan hadits. Ada yang berpendapat tidak wajib, karena jilbab bukan perintah, ia hanya budaya saja di Arab.

Hemmm.. apakah kita masih mau menunggu kesepakatan para ahli hukum untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya kita sendiri sudah memiliki prinsip untuk melakukannya? Kadang perdebatan suatu hukum oleh sebagian orang dimanfaatkan untuk melakukan sekehendaknya sendiri, meskipun dalam hatinya ada teriakan keengganan yang muncul dari kesadaran hatinya. So, mengenakan jilbab seharusnya tidak semata karena ada tuntutan, baik tuntutan agama atau suatu komunitas apalagi hanya tuntunan modis.

Dua pragraf di atas sekedar prakata untuk memulai bahasan judul ini. Ok, kita mulai dengan kata “perempuan”.

Perempuan merupakan salah satu makhluk Allah yang diciptakan dengan bentuk tubuh yang indah. Semua dari tubuh perempuan memiliki nilai keindahan. Keindahan tersebut diciptakan bukan untuk dipamerkan, melainkan harus dijaga dengan mengenakan pakaian yang tertutup sempurna. Jika tubuh perempuan dipamerkan dengan tidak mengenakan pakaian yang tertutup sempurna, maka tubuh perempuan tidak lagi indah bahkan merusak keindahannya. Karena akan mengundang fitnah yang akan membahayakan dirinya. Sesungguhnya keindahan tubuh perempuan adalah keindahan yang bersifat rahasia. Semakin dirahasiakan, tubuh perempuan semakin indah.

Pakaian selain sebagai penutup tubuh, pakaian juga sebagai simbol martabat, kehormatan, dan kemuliaan seseorang. Jika tidak percaya, silakan Anda melepas pakaian Anda sekarang di jalan, mall atau pasar! Tidak perlu dilakukan, lho. Cukup bayangkan saja jika itu terjadi. Kira-kira apa yang akan terjadi pada diri Anda. Jika Anda seorang pemimpin, maka tamatlah kehormatan Anda sebagai pemimpin. Jika Anda sebagai umat muslim, hilanglah kemuliaan Anda sebagai umat muslim. Jika Anda manusia, hilanglah martabat Anda sebagai manusia.

Jadi, pakaian merupakan simbol yang menentukan siapa diri kita. Para perempuan sebagai muslimah memiliki simbol yang menentukan dirinya, apakah muslimah yang salehah atau tidak salehah. Simbol tersebut adalah jilbab. Jilbab adalah simbol bagi perempuan muslimah untuk menentukan kesalehan dirinya.

Namun, apa benar begitu? Pasti ada yang bertanya, jika memang jilbab sebagai simbol kesalehan perempuan, tapi kenapa ada perempuan yang mengenakan jilbab tapi akhlaknya buruk? Jawabannya, kita perlu membagi para perempuan yang mengenakan jilbab. Sebab, memang tidak semua perempuan yang mengenakan jilbab bisa dinilai sebagai perempuan yang memiliki akhlak mulia atau salehah. Karena ada perempuan yang mengenakan jilbab, tapi kelakuannya tidak baik.

Oleh sebab itu, perempuan yang mengenakan jilbab, ada yang sadar pada jilbabnya dan ada yang sekedar mengenakan saja tanpa menyadari apa dan untuk apa jilbab itu digunakan. Perempuan yang mengenakan jilbab dan sadar pada jilbabnya, dia pasti memliki akhlak yang mulia dan tentu salehah. Semisal dia menyadari begini, “Masa’ saya mengenakan jilbab tapi lekuk tubuhku tampak jelas di mata orang-orang”dan seterusnya.

Sementara perempuan yang sekedar mengenakan jilbab tanpa menyadari jilbabnya, dia biasa saja melakukan apapun seperti mempertontonkan lekuk tubuhnya. Perempuan seperti ini biasanya mengenakan jilbab hanya sekedar untuk model saja. Dia mengenakan jilbab tujuan hanya ingin terlihat cantik. Sehingga terkadang dia musiman saja mangenakan jilbab, ketika pengajian mengenakannya tapi ketika jalan-jalan dilepas. Atau dia mengenakan jilbab karena aturan tapi setelah keluar dari aturan, dia melepas jilbabnya.

Dewasa ini, di kehiduapan luar, terutama kebebasan bergaul dan berkekspresi, banyak perempuan muslimah yang telah terasuki pemahaman sekuler lebih memilih berpakaian modis dan trendy karena takut dikatakan ‘ketinggalan zaman’. Sehingga tak heran bila ada diantara mereka yang berjilbab tapi ternyata belumlah sempurna. Maklum saja jilbab yang mereka pakai ini hanya sekedar sebagai hiasan dengan ditambah pernak-pernik yang malah semakin jauh dari syarat yang ditetapkan Islam. Berjilbab dengan tetap dibalut pakaian ketat yang menampakkan lekuk tubuh atau celana jeans sudah bukan pemandangan asing bagi kita.

Jadi, meski jilbab sebagai simbol kesalehan perempuan, tapi belum tentu itu menunjukkan diri seorang perempuan muslimah yang salehah. Tapi yang pasti, perempuan muslimah yang berakhlak baik dan selehah pasti mengenakan jilbab. Tapi bukan berarti perempuan yang gak mengenakan jilbab tidak salehah.

Ciri-ciri jilbab kesadaran: 1. Cara pemakaiannya menutupi dari atas sampai bawah dada dengan sempurna, sehingga lekuk tubuhnya bagian depan tidak tampak terlihat, 2. Meski jilbabnya modis, tapi tujuannya lebih untuk menutup aurat, 3. Selalu ingat pada jilbabnya agar tetap tampil dengan busana yang menutup sempurna.

Ciri-ciri jilbab kesekedaran: 1. Cara pemakaiannya minimalis, tidak sampai menutup aurat dengan sempurna, sehingga lekuk dan warna tubuhnya tampak terlihat, 2. Tujuannya agar terlihat OK semata, 3. Memakai jilbab musiman saja.

Hemmm… jika kita lihat di facebook atau media yang lainnya, memang ada perempuan yang mengenakan jilbab musiman. Buktinya, ada sebagian fotonya berjilbab dan sebagian fotonya lagi tak mengenakan jilbab. Selain itu, ada foto memang mengenakan jilbab tapi masih saja lekuk tubuhnya tampak terlihat.

Apakah mengenakan jilbab sudah dianggap pakaian yang tidak sesuai perkembangan zaman? Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita baca dan sadari pernyataan seorang doktor Muslimah berjilbab yang diwawancarai oleh  wartawan asing. Wartawan tersebut menyatakan, Pakaiannya itu (busana muslimah dengan jilbab yang dikenakan doktor muslimah ini) tidak mencerminkan pengetahuannya. Kami berkesimpulan Jilbab itu simbol keterbelakangan dan kemunduran.

Dia menjawab dengan cerdas dengan mengatakan, “Manusia di masa awal hampir telanjang. Bersamaan dengan perkembangan ilmu pengetahuan mulai mengenakan busana. Apa yang saya kenakan hari ini sebenarnya adalah lambang kecanggihan dan kemajuan berpikir. Yang telah dicapai manusia berabad-abad lamanya. Adapun ketelanjangan yang ada sekarang adalah simbol keterbelakangan dan kembalinya manusia kepada kejahiliaan. Seandainya ketelanjangan itu simbol kemajuan maka bisa dikatakan para binatang itu telah mencapai puncak peradaban”.

(aswajadewata.com)

TINGGALKAN KOMENTAR

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.