Dialog Kebangsaan Sekaligus Pelantikan PMII Cabang Denpasar

0
244

Denpasar, 23 April 2017

Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Denpasar menggelar acara Dialog Kebangsaan sekaligus pelantikan PMII Cabang Denpasar di hotel Shunda Denpasar. Acara dihadiri oleh segenap pemerintah kota Denpasar seperti dari DPRD Kota Denpasar, Perwakilan Walikota Denpasar. Kemudian juga dihadiri oleh petinggi dari pengurus Nahdlatul Ulama seperti Ketua Tanfidhiyah NU Provinsi Bali dan Kota Denpasar, Ketua GP Ansor Provinsi Bali dan Kota Denpasar, Ketua Muslimat Provinsi Bali dan Kota Denpasar, Pimpinan Pusat PMII dari Jakarta dan lain sebagainya. Turut hadir pula segenap Organisasi Mahasiswa di kota Denpasar baik dari muslim maupun non muslim seperti HMI, Kammi, PMKRI dan lain sebagainya.

Salah satu upaya menjaga kesatuan Republik Indonesia adalah dengan menjaga kerbersamaan, menghormari keberagaman dan toleransi. “Hidup di Bali sendiri diajarkan bagaimana hidup dengan keberagaman, toleransi, hidup bersama-sama dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara. PMII memiliki tugas untuk merawat tradisi dan budaya (salah satunya di Bali) dalam rangka menegakkan kokohnya NKRI.” kata Abdul Haris, sekretaris Jendral PMII pusat dalam menyampaikan sambutannya.

Sebelum memasuki dialog kebangsaan, sebelumnya dilakukan pelantikan pengurus cabang PMII kota Denpasar oleh PMII Pusat yang diwakili oleh Zulkarnaen. Dan segenap pengurus Baru PMII kota Denpasar dimintai kesediaanya untuk bertanggung jawab merawat PMII dan Negara. Jika mundur selangkah, itu bentuk penghianatan.

Sedangkan sambutan dari Ketua PWNU Bali H. Abdul Aziz, S.Pd.I menyampaikan bahwa masalah kebangsaan merupakan masalah serius, maka diperlukan benteng yang kuat agar tidak tergerus dengan ideologi yang semakin merongrong ideologi kebangsaan. Dan pemerintah kota denpasar yang diwakili oleh KESBANGPOL kota Denpasar mengajak kita semua agar bisa bekerja sama dengan pemerintah dalam merawat Negara Kesatuan Republik Indonesia khususnya kota Denpasar.

Pukul 11.30 Wita, Dialog Kebangsaan dimulai. Dalam dialog tersebut mengahadirkan empat Narasumber yaitu perwakilan dari DPRD Kota Denpasar A.A. Gede Widiada, Pandita Adi Sunyata Ketua mahavihara Bali, Ketua Tanfidhiyah NU Provinsi Bali, H. Abdul Aziz, S.Pd.I dan Perwakilan PMII Pusat yang diwakili oleh Dzulkarnaen. Sementara Moderator dibawakan oleh Nyoman Mardika.

A.A. Gede Widiada menyampaikan bahwa, “Dengan kultur yang membentuk kebersamaan diharapkan menjadi perekat sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Sehingga, semua pihak dapat merasakan tentram, sejahtera dan mendapat porsi yang sebagaimana mestinya.” ujar beliau.

Senanda dengan pak Gede, Pandita Vihara Budha Kota Denpasar menyampaikan bahwa kerukunan dan keharmonisan adalah karakteristik bangsa Indonesia. Merawat negara tidak akan bisa dilakukan tanpa merawat alam yang kita singgahi. Maka perlunya menjaga alam dalam rangka mewujudkan kedamaian dan kerukunan.

Menuju narasumber salanjutnya yaitu dari Ketua PWNU Bali, H. Abdul Aziz, S.Pd.I. Tugas NU adalah merawat negara. Bukan hanya NU namun kita semua warga negara Indonesia. NU memiliki historis yang besar dalam Kemerdekaan Indonesia, maka tugas NU adalah menjaga dan memelihara NKRI. Beliau juga menambahkan bahwa “Yang mampu menghancurkan negara-negara besar bukan militer tapi persoalan ideologi. maka dari itu persoalan ini merupakan persoalan yang serius harus segera diselesaikan.” Ujar bapak Abdul Aziz.

Terakhir dari perwakilan PMII pusat menyampaikan bahwa Agama menyuruh kita untuk menjaga persatuan dan kesatuan seperti yang tertuang dalam surat Al-Hujarat ayat 13 yaitu diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal. saat ini perang dilakukan bukan dengan simetris namun asimetris. Yaitu perang yang dilakukan bukan dengan angkat senjata melainkan dengan merusak ideologi dari dalam. Dan menghimbau kepada pemerintah agar “memberantas organisasi-organisasi yang mencoba menggerus ideologi Bangsa. PMII siap membantu, tak hanya PMII namun semua NU siap membantu.” ujar Dzulkarnaen.

Pada dasarnya semua menolak organisasi-organisasi yang merusak persatuan Negara Republik Indonesia. Indonesia dibangun dengan perjuangan para pahlawan dengan semangat persatuan dan kesatuan Bhineka Tunggal Ika. Dan terakhir ditutup dengan doa oleh ketua PW Ansor Bali, Amron Sudarmanto, S.Pd.MA. Dengan harapan semoga dialog kebangsaan ini dapat menumbuhkan semangat para peserta pada umumnya dan PMII pada khususnya untuk menjaga negara kesatuan Republik Indonesia. (red. Muhlisin)

TINGGALKAN KOMENTAR