H. Sukarno dan Mushollah di Desa Tista Buleleng

Mushollah di Desa Tista Buleleng

PWNUBALI.OR.ID | Buleleng – Mushollah Jabal Rahmah di Desa Tista Kecamatan Busungbiu Kabupaten Buleleng Bali ini, tidak bisa dilepaskan dari sosok H.Sukarno. Ia yang lahir di Pupuan Tabanan 80 tahun silam, merupakan salah satu orang yang pertama, yang menetap disana.

Ia pun menceritakan, sebenarnya tidak ada niatan untuk menetap disana. Sebelumnya, yakni pada tahun 1974 ia hanya berjualan Sate disana. Jarak dari rumahnya di Pupuan ke Desa Tista sekitar 15 KM.

Bacaan Lainnya
Dok. Mushollah di Desa Tista Buleleng

Karena berada di dataran tinggi, kendaraan sangat jarang, bahkan tidak ada. Ia berjalan kaki bolak balik antara Pupuan – Tista. Baru kemudian, pada tahun 1976 ia mampu membeli sebidang lahan di Desa Tista, dan kemudian ia mampu membangun rumah untuk menetap disana.

Setelah membangun tempat tinggal, pada tahun yang sama, H Sukarno pun membangun Langgar, semacam pondokan yang terbuat dari kayu, yang lantainya tidak bersentuhan dengan tanah (seperti rumah panggung). Langar kecil ini dipergunakan untuk tempat sembahyang keluarga, dan orang muslim disana.

Seingat H. Sukarno, sebelum ia menetap disana, sudah ada warga Islam dari Jawa. Salah satunya Pak Arsyad, yang saat itu kesemuanya sebagai petugas mandor jalan raya. Langar itu selalu menjadi tempat silaturrahim antar warga muslim, yang masih sangat sedikit.

Dok. Mushollah di Desa Tista Buleleng

Pada tahun 1987, Depag Kabupaten Buleleng memberikan bantuan sebesar 1,5 Juta untuk melakukan perehaban agar dibangun permanen dengan ukuran 5 x 6 meter. Di Tahun itu, jumlah jamaahnya baru 8 KK, jumlah yang masih sangat sedikit.

Setelah proses pembangunan selesai, pihak Depag menyarankan kepada H. Sukarno untuk segera meresmikan nama Mushollahnya. Ia pun secara spontan ingat perbukitan Jabal Rahmah di Mekkah saat menunaikan ibadah haji tahun 1981. Akhirnya Jabal Rahmah ditetapkan sebagai nama Mushollah di ujung Buleleng ini.

Mushollah ini kemudian kembali dilakukan perombakan total pada tahun 2006-2008. Ukuran bangunan diperlebar menjadi 6,5 x 13,5 Meter. Kalau sebelumnya dibiayai Depag, untuk pembangunan kali ini, selain swadaya masyarakat, dibantu sepenuhnya oleh seorang pengusaha asal Denpasar.

Aktivitas keagamaan di Mushollah Jabal Rahmah terus berlangsung hingga kini. Pembelajaran mengaji untuk anak anak dilakukan setelah Sholat Ashar. Sementara untuk kajian pendalaman agama, dilakukan seminggu sekali, biasanya setelah sholat Jumat.

Sampai dengan saat ini, umat Islam disana baru ada 21 KK yang tersebar di tiga desa, yakni Desa Tista, Sepang dan Puncaksari, yang kesemuanya berada di Kecamatan Busungbiu Kabupaten Buleleng.

Dok. PC GP Ansor Buleleng di Mushollah di Desa Tista Buleleng

Komunitas Islam yang terdekat dengan jumlah yang lebih besar, berada di Pupuan Kabupaten Tabanan. Karena jarak dan medan pegunungan antara Tista dan Pupuan, meski tidak sampai 41 Jamaah, Sholat Jumat tetap dilaksanakan di Mushollah Jabal Rahmah.

Berada di daerah yang sangat minoritas secara agama, H Sukarno mengatakan hubungan sosialnya sangat bagus dengan warga agama mayoritas. Meski demikian, menurutnya, kedepan harus diantisipasi provokasi yang membuat hubungan baik ini retak.

“Bagus semua, gak ada tantangan, yang tua tua seangkatan saya dulu gak pernah ada masalah, gak tau kalau anak anak muda sekarang, mudahan terus membaik” tutupnya kepada kami rombongan PC GP Ansor Buleleng, yang Jumatan disana pada Jumat (10/06) kemaren.

(Abdul Karim Abraham)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.