Rekam Jejak Kisah KH. Abdurrahman perjuangkan NU di Tanah Jembrana

195

pwnubali.or.id – Berbicara tentang sejarah dan perjuangan NU di Pulau Bali, ada banyak tokoh yang memiliki pengaruh besar dan peninggalan yang terus dilanutkan oleh generasi NU saat ini. Salah satunya adalah tokoh NU dari Loloan, Jembrana, KH. Abdurrahman, Perjalanan dakwah hingga perjuangan melawan pemberontakan di Jembrana, bisa menjadi ibrah untuk membangkitkan ghiroh NU para generasi saat ini dan yang akan datang.

Menurut penuturan cucu beliau Gus Rifkil Halim Muhammad, Putra dari KH. Moh. Zaki HAR pengasuh di Pondok Pesantren Darut Ta’lim dan Mustasyar PWNU Bali, yang dimuat dalam nu.online (nu.or.id) pada bulan Agustus 2007 silam, mengisahkan bagaimana rekam jejak perjuangan beliau dalam mendakwahkan Aswaja An-Nahdliyah di Pulau Dewata khususnya di tanah Loloan Jembrana.

Muhammad Qasim atau yang akrab di sapa Abdurrahman lahir di Loloan Barat pada tahun 1907 dalam keluarga Ulama Bugis-Melayu Loloan.

Sejak kecil Abdurrahman belajar agama dari kedua orang tuanya, ketika menginjak usia 10 tahun beliau di kirim ke daerah Pangastulan untuk mengaji Al-Qur’an kepada Tuan Guru Abdul Hamid hingga beliau berusia 18 tahun. Pada tahun 1925 Datuk Haji Mahmud mengirimkan Muhammad Qasim remaja ke Jazirah Arabia, tepatnya ke kota Suci Mekkah. Beliau bermukim di kediaman Syeikh Isa Palembang yang sudah menjadi penduduk tetap di kota Mekkah.

Beliau belajar berbagai disiplin ilmu agama dari sejumlah ulama besar, diantaranya Syeikh Alwi Al-Maliki, Syeikh Umar, Syeikh Hamdan Al-Maghrabi serta ulama besar ilmu hadits asal Palestina. Beliau bertemu para santri Indonesia di kota suci Makkah yaitu Zainuddin Pancor, Wahid Hasyim Jombang dan Ambo Dalle’ Sulawesi. Beliau belajar di kota suci selama kurang lebih sembilan tahun.

Muhammad Qasim kemudian pulang ke kampung halaman dengan menyandang nama baru, yaitu Datuk Haji Abdurrahman. Terjadinya perpecahan di tengah masyarakat muslim Loloan yang di picu oleh perbedaan pandangan fiqh antara Ustadz Ali Bafaqih dan Ustadz Semarang, membuat Abdurrhman merasa tidak nyaman. Oleh karena itu beliau pun pergi ke Rembang dan mengaji kitab kepada Kyai Musthofa.

Namun tak selang beberapa lama beliau pindah ke Jombang untuk berjumpa dengan teman lamanya Wahid Hasyim. Datuk Haji Abdurrahman pun mengutarakan masalah yang membuatnya pergi meninggalkan kampung halamannya dan berniat untuk menetap di pesantren Kyai Hasyim. Namun keinginan tersebut tidak mendapat restu dari Kyai Hasyim Asy’ari.

“Menurut pendapat Kyai Hasyim umat Islam di Bali akan lebih membutuhkan kehadiran beliau ketimbang umat Islam di tanah Jawa”.

Selepas itu, akhirnya Abdurrahman kembali ke kampung halaman /Bali dengan memulai mengajarkan ilmu agama di Loloan Barat. beliau aktif mengajar ilmu agama hingga ke daerah-daerah pelosok sebagai guru GAH (guru agama honorium). Namun setelah menderita sakit, beliau kemudian hanya mengajar di rumah hingga akhirnya pada tahun 1940 rumah kediaman beliau berubah menjadi pesantren diberi nama Darut Ta`lim.

Pada masa penjajahan Jepang, ketika terjadinya perbedaan pendapat di antara ulama lokal dalam masalah fiqhiyah, yakni masalah terkait didirikannya dua masjid dengan jarak yang berdekatan. Tak selang beberapa lama datanglah Kyai Wahab Hasbullah dari tanah Jawa sebagai jawabannya dengan membawa keputusan hukum.

Menurut Datuk Haji Abdurrahman Kyai berkata: “Saya ingin menjajakan saya punya obat kepada tuan-tuan, jika cocok alhamdulillah jika tidak cocok tidak apa-apa” dan obat yang dimaksud adalah Nahdhatul Ulama.

Datuk Haji Abdurrahman kemudian terlibat aktif ke dalam pembidanan NU dan bersama-sama Datuk Guru Nuh dan Ustadz Ali Bafaqih mensosialisasikan NU kepada masyarakat muslim Bali.

Setelah terjadi Gestapu, tepatnya pada tanggal 30 November 1965 Datuk Haji Abdurrahman menurunkan santri-santrinya bersma Ansor dan TNI untuk mengadakan penangkapan terhadap pentolan PKI yang mengadakan rapat rahasia. Dalam penggerebekan rapat rahasia PKI di Tegal Badeng (Ladang Hitam) dua orang sipil dan seorang tentara gugur tertembak oknum PKI. Salah seorang yang gugur tersebut adalah santri pesantren Darut Ta`lim, kang Paimin.

Gugurnya tiga orang ini kemudian menjadi sebab terjadinya aksi balasan GP Ansor dan ABRI mengadakan penyerbuan terbuka keesokan harinya dan mengakibatkan ratusan anggota PKI mati terbunuh.

Beliau kembali tampil sebagai seorang ulama yang sabar, santun dan menjadi tempat bertanya masyarakat, ustadz-ustadz muda dan para ulama, Datuk Haji Abdrurrahman pun meninggalkan arena politik setelah penyederhanaan partai menjadi GOLKAR, PPP dan PDI. Sementara dalam mengelola pondok pesantren, beliau tetap mempertahankan pendidikan bandungan dan tidak mengembangkannya kepada model klasikal apalagi model pendidikan modern.

Hingga beliau tutup usia pada 2003 di usianya yang ke 97, beliau pun dimakamkan di pemakaman umum komunitas Bugis-Melayu yang terletak di kelurahan Loloan Timur.

Penulis : Ita KH
Editor : MM

TINGGALKAN KOMENTAR

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.