Hindari Keramaian, IKSASS Badung Sediakan 90 Mobil Jemput Santri di Terminal Mengwi

PWNUBALI.OR.ID | 

Kepulangan rombongan santri asal Bali yang berjumlah 360 dari Pondok Pesantren Sukorejo Situbondo banyak dikhawatirkan orang, karena akan terjadi kerumunan disaat penurunan santri di Terminal Megwi, Badung, Bali pada Jum’at sore, 3 April 2020.

Bacaan Lainnya

Awalnya, diperkirakan ketika rombongan santri tiba di Terminal Megwi, santri yang berjumlah 360 akan menjadi dua kali lipat sebanyak 720 orang, mengingat wali santri atau keluarganya yang menjemput.

Sedangkan, pemerintah telah mengeluarkan himbauan keras untuk menjaga jarak dan menghindari kerumunan demi mencegah penularan Covid-19.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, Samrawi, Panitia Penjemputan Santri Sukorejo menyampaikan, “Solusinya kami dari kepanitian harus menyediakan transport sesuai kebutuhan jumlah santri,” katanya, Jumat, 3 April 2020.

“Yakni, 90 Mobil Pribadi. Setiap mobil isi 5 sampai 4 orang. Dari jumlah total santri 360 dibagi 5 hasilnya 90. Maka 90 mobillah kami sediakan. Itulah hitung-hitungan awal kami, dan alhamdulillah terlaksana,” tambahnya.

Sam melanjutkan, transport yang telah disediakan oleh IKSASS Badung memliki kewajiban mengantar setiap santri ketempatnya masing-masing untuk diserahkan ke orang tuanya.

“Alhamdulillah, putri kami sampai dirumah. Dan kami tidak diminta biyaya sepeserpun,” kata H. Bukhair ayah dari santri wati, Hairun Nisa.

“Karena dari awal niat saya membantu, ikhlas mengabdi ke Ponpes Sukorejo. Kami semua para penjemput tidak ada yang dibayar. Kami mengaharap barokah,” ujar Ali Busrah.

Hadar Ketua Ikatan Santri Salafiyah-Syafi’iyah (IKSASS) menjelaskan, para alumi, wali santri dan simpatisan yang tergabung di IKSASS Badung terus mendiskusikan hal-hal terkait kepulangan santri agar sesuai protap, dan tidak memimbulkan polemik, apalagi merugikan masyarakat.

“Yang cukup alot memang soal bagaimana di terminal tidak terjadi keramaian. Akhirnya diputuskan, wali santri atau keluarga tidak boleh menjemput, IKSASS yang harus bertanggung jawab. Terus kami coba menghubungi alumni, wali santri, dan siapa saja yang memilki mobil untuk bersedia menjemput tanpa dibayar,” terang Hadar.

“Siapa dikira, ternyata bukan kekurangan transport atu mobil kami, bahkan sampai lebih. Mereka para penjemput lengkap dengan mobilnya datang ke terminal tapi tidak mendapat penumpang. Iya karena kelebihan,” kata Hadar.

“Tapi tidak apa-apa, saya tidak masalah. Intinya santri sudah diantar semua sampai ke keluarganya,” ucap atmawi salah satu penjempuT

Reportase: Wandi Abdullah (LTN NU Badung)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.