Mewujudkan Pahlawan Media Sosial

0
426

Oleh: M. Muhammad

Entah ungkapan apa yang tepat untuk menjelaskan media sosial. Keberadaan media sosial menjadikan hidup ini seolah tak ber-Tuhan. Karena, saat ini sistem kehidupan telah dikontrol dan dikuasai media. Bagaiamana tidak, skenario nasib kehidupan sepertinya telah ditentukan dan diarahkan oleh media.
Orang ingin menjadi pemimpin dan berkuasa harus menguasai media. Orang hendak menjatuhkan orang lain, menggunakan kekejaman pedang media. Orang tak bersalah bisa dihukum karena media. Orang yang pantas dihukum menjadi bebas berkeliaran karena divonis benar oleh media. Orang yang bejat menjadi dihormati dan berwibawa karena media. Orang yang tidak tahu apa-apa menjadi seseorang laksana nabi dengan bermodal gaya di media. Seorang pencuri besar dicium tangannya karena disucikan dengan media. 
Bahkan para penjajah pun sangat mudah melakukan aksinya dengan media. Penjajah saat ini tidak perlu mendatangkan bala tentara untuk merusak dan menaklukkan suatu Negara, mereka cukup menguasai media dengan berbagai cara. Sangat mudah menyulut api permusuhan dan perpecahan bahkan kehancuran suatu bangsa dengan menggunakan media. Negara kita saat ini yang sedang dilanda krisis keharmonisan antar golongan atau kelompok, tak lain karena ulah media.
Media amat kejam, lebih kejam dari penjajah di masa sebelum kita merdeka. Dulu, penjajah tampak dengan jelas merusak dan membunuh saudara kita, namun saat ini media membuat kita sendiri yang saling merusak dan membunuh sesama saudara, saudara seiman, saudara sebangsa dan setanah air. Contoh kecil misalnya, tanpa sadar kita menjadi saling membenci dan bermusuhan hanya karena memperdebatkan berita atau opini di media sosial yang ternyata belakangan diketahui berita atau opini tersebut hanyalah hoax belaka.
Oleh karena itu, di media sosial pun kita butuh pahlawan. Menjadi pahlawan di media sosial tidak perlu melakukan hal seperti pahlawan di zaman penjajahan dengan membawa senjata dan berjuang sekuat tenaga dengan lumuran darah. Pahlawan di media sosial dapat sangat mudah melakukan perlawanan kepada para penjajah yang menggunakan pedang media. Penjajah di media tidak menggunakan pedang atau senjatanya untuk menyerang kita, tetapi mereka cukup menyediakan pedang dan senjatanya kepada kita dan kitalah yang berperang sendiri sesama saudara. Hanya saja apakah kita akan ambil alat perang itu untuk melawan saudara kita, atau untuk mereka.
Semisal, para penjajah di media sosial sengaja membuat berita atau opini hoax atau fitnah yang kemudian akan membuat kita saling menyalahkan, menghujat, bermusuhan bahkan sampai adu fisik hingga mati. Mereka para penjajah tertawa melihat kita saling berperang hanya karena kita terpengaruh oleh berita atau opini hoax yang diciptakan oleh mereka dengan sengaja. Maka, untuk menaklukkan para penjajah di media sosial, seorang pahlawan harus cerdas dan cerdik dalam menghadapi ulah mereka. Sangat mudah melawan aksi mereka dengan beberapa poin penting diantarnya:
1. Tidak ikut-ikutan menyebarkan berita atau opini yang tidak jelas sumber dan kebenarannya. Jika ada berita atau opini yang tidak jelas kebenarannya, kita janganlah dengan mudah menyebarkannya.
2. Tidak ikut-ikutan menyebarkan berita atau opini yang akan membuat masyarakat menjadi berselisih pendapat dan bermusuhan. Dalam hal ini, meski berita atau opini itu benar tetapi akan membuat terjadinya permusuhan ketika tersebar, maka kita tak perlu ikut-ikutan menyebarluaskan. Karena tidak semua apa yang benar itu pantas dan layak disebarkan. Ada kebenaran yang memang terkadang harus disamarkan.
3. Tidak membuat berita atau opini yang menyebabkan kerusuhan dan kerusakan harmoni masyarakat. Kadang kita tidak sadar, berita atau opini yang kita tulis akan merusak keharmonisan masyarakat. Meski tujuannya baik, tetapi belum tentu menjadi baik ketika dikonsumsi oleh publik. Hal inilah yang rawan dimanfaatkan oleh para penjajah di media soial. Harus berhati-hati menulis atau berbicara di media sosial.
4. Senantiasa membuat status, berita dan opini yang menyejukkan dan mendamaikan masyarakat. Sejengkel apapun hati ini kepada pemerintah atau para tokoh, ulama, habaib, dan siapapun,  jangan sampai mengungkapkan kejengkelan kita. Karena sangat rawan juga mereka para penjajah memanfaatkan pernyataan kita di media sosial untuk mengadu domba kita. 
Demikian cara mudah menjadi pahlawan di media sosial. Jika itu semua kita lakukan maka kitapun layak menjadi pahlawan media sosial. Jadi, menjadi pahlawan tidak harus mengangkat senjata di medan perang, tidak melulu membunuh dan menaklukan lawan atau musuh, tidak selalu orang yang hebat dan kuat. Cukup dengan mengikuti empat poin di atas, maka kita sudah pantas menjadi pahlawan di sosial media. 
Menjadi pahlawan di media sosial akan menjadi pahlawan di dunia nyata. Karena kita sudah tahu dan merasakan betapa besar efek atau pengaruh kekejaman media sosial. Jika menemukan informasi di media, kita yang tidak tahu apa-apa, jangan sembarangan memberi komentar dengan kesimpulan yang didasari semata membaca informasi tersebut, atau membagikan ke akun pribadi atau teman-teman sosmed. Kita harus cerdas menilai informasi-informasi di media. Ini intinya.
Mereka para penjajah di media memiliki ambisi, entah ambisi dalam hal politik, bisnis, reputasi, bahkan ambisi agama, mereka yang berambisi akan menggunakan media sebagai kendaraan yang tepat untuk mewujudkan ambisi mereka. Makanya, saat ini sudah dikenal dengan istilah perang media. Perang di media berarti butuh pahlawan untuk menegakkan kebenaran, keadilan dan kedamaian.
Sekali lagi, kita harus cermat, cerdas dan selektif dalam menerima informasi di media sosial. Jika memang kita tidak mengerti apa-apa, lebih baik diam, agar tidak menambah fitnah adu domba berjariyah.

TINGGALKAN KOMENTAR

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.